LayarBerita, Aceh Utara – Dosen Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal) bersama mahasiswa melakukan pengabdian kepada para petani dan pekerja pada usaha penyulingan sereh wangi, di Gampong KM.6, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara.

Adapun dosen yang melakukan pengabdian selama 2 hari pada tanggal 3 hingga 4 November 2020, yakni Adi Setiawan, Khairul Anshar, Zulnazri, dan Subhan.  Para dosen ini melaksanakan pengabdian bersama mahasiswa Prodi Teknik Industri,   Dana Saputra dan Novi Anggriawan.

Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan berupa bimbingan melakukan penjadwalan untuk proses panen tanaman sereh wangi. Serta proses penyulingan (produksi) minyak sereh wangi, yang kini mulai digemari dan berkembang di daerah tersebut.

Ketua Tim Pengabdian, Adi Setiawan, mengatakan, bahwa tujuan kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan produktivitas usaha penyulingan minyak sereh wangi dan kemampuan masyarakat. Khususnya para petani yang memiliki lahan membudidaya tanaman sereh wangi.

Saat ini harga jual minyak sereh wangi menurun drastis, baik itu disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan penyebab lainnya. Pada akhir tahun 2019 hingga awal tahun 2020, harga jual minyak sereh wangi mencapai Rp 300.000/kg. Namun sekarang harga jual di beberapa daerah di Aceh berkisar Rp 150.000 – Rp 165.000 per kg.

 

“Para petani yang tidak memiliki alat penyulingan sendiri, maka terpaksa menggunakan jasa penyulingan dengan skema biaya penyulingan diambil dari 30% minyak sereh yang dihasilkan,” terang Adi.

Menurut para dosen, semakin produktif para petani dan pekerja pada usaha penyulingan, maka semakin banyak pula minyak sereh wangi yang dihasilkan. Tentu berujung pada peningkatan pendapatan petani dan pekerja tersebut,“ jelasnya.

Tempat penyulingan yang beroperasi di Desa KM.6, Kecamatan Simpang Keuramat tersebut mempunyai kapasitas yang cukup besar. Disisi lain, petani yang membudidaya tanaman sereh wangi masih belum dapat mengimbangi hasinya.  Sehingga utilitas dari alat penyulingan masih sangat rendah.

“Proses penyulingan yang efektif dapat membantu mengurangi biaya operasional usaha tersebut.  Dari perbaikan penjadwalan yang dilakukan, terjadi peningkatan setidaknya 5% dari jumlah minyak sereh wangi yang dihasilkan setiap bulannya,” terang Adi Setiawan.

Selain dari aspek produktivitas, aspek seperti potensi kecelakaan kerja, kelelahan, sakit, dan sejenisnya dapat diminimalisir dengan penjadwalan yang baik.

“Saat ini proses penyulingan dilakukan selama tiga hari, mulai pukul 07.00 Wib  hingga pukul 24.00 Wib. Kerap kali juga didapati penyulingan dilakukan hingga pukul 02.00 Wib dini hari. Hal ini tentu tidak baik bagi kesehatan pekerja dalam jangka panjang, dan berpeluang meningkatkan potensi kecelakaan kerja,” pungkasnya. [Sir]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *