LayarBerita, Bali – Direktorat Reskrimsus Polda Bali membeberkan cara pelaku warga negara Bulgaria melakukan tindakan skimming dengan cara mengambil data nasabah dari mini wifi router yang dipasang sebelumnya di mesin ATM.

Alat tersebut tersambung dengan wifi HP, laptop, dan sejenisnya. Pelaku masuk ke ATM berpura-pura sebagai nasabah dengan menggunakan topi atau helm dan kacamata. Selanjutnya me-lakban kamera ATM dan menghalangi kamera snapshot ATM dengan dompet.

Selanjutnya pelaku mengambil memory card yang ada pada kamera tersembunyi yang telah dipasang pada keypad.

“Data nasabah beserta PIN yang telah dicuri digandakan menggunakan kartu ATM palsu. Dengan kartu itu, pelaku menguras uang nasabah. Dalam sehari hingga ratusan juta rupiah dari beberapa nasabah,” terang Kombes Pol Kenedy.

Lebih lanjut, uang tunai tersebut disetorkan ke rekening mereka yang ada di Indonesia. “Uang hasil kejahatan itu diduga digunakan untuk pesta dan dikirimkan ke keluarga pelaku yang ada di Bulgaria,” katanya.

Ketika menjalankan aksinya, pelaku memiliki ciri khas yaitu mengendarai mobil sewaan kala beroperasi di wilayah Bali dan Lombok. Pada saat memasang alat skimming rakitan sesuai ilmu yang mereka pelajari di Jerman, pelaku juga selalu memakai kaca mata, helm, atau topi.

“Aksi keduanya di wilayah Buleleng terekam CCTV sejak 13 September. Khusus di Singaraja terekam di lima ATM. Mereka juga melakukan pengambilan uang menggunakan kartu ATM palsu,” ungkap Kombes Pol Kenedy.

Khusus di TKP tempat keduanya diringkus, Unit Siber Dit Reskrimsus Polda Bali menemukan barang bukti berupa sebuah mini wife router (alat skimming), sebuah hidden kamera perekam PIN, dan potongan lakban. Barang bukti lain yang disita berupa dua buah paspor, 8 buah handphone berbagai merek, pecahan uang Malaysia, Bulgaria, Rumania, dan Euro, enam buah kartu ATM, empat buah buku tabungan, satu unit Zusuki Ertiga warna putih, sebuah wireless extender merek Huawei, sebuah kikir besi, sebuah pisau lipat, dan lakban.

Akibat perbuatannya, pelaku disangkakan melanggar Pasal 30 junto Pasal 46 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE dan/atau Pasal 363 KUHP dan/atau Pasal 3 dan/atau Pasal 5 UU No 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang junto Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. [tribratanews.com]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *