LayarBerita, Jakarta – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerjasama dengan Hydrologic Research Center (HRC) menyelenggarakan Risk Communication Workshop yang dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Rabu (25/8/2021) kemarin.

Kegiatan workshop ini dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus – 06 Oktober 2021 setiap Rabu dan Kamis secara daring (online), diikuti oleh 16 peserta terdiri dari 13 orang berasal dari Pusat Meteorologi Publik dan 3 orang berasal dari UPT BMKG (Stasiun Meteorologi Depati Amir-Pangkal Pinang, Stasiun Meteorologi Bima-Nusa Tenggara Barat, dan Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon).

Pada kesempatan itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik, A. Fachri Radjab menyatakan bahwa bencana hidrometeorologi menepati urutan pertama sebagai bencana dengan frekuensi tertinggi di Indonesia.

Bencana hidrometeorologi tersebut mengancam keselamatan harta dan jiwa dengan kerugian yang signifikan. Setiap orang memiliki resiko untuk menghadapi bencana, maka penanggulangan bencana adalah urusan semua orang (disaster management is everybody’s business).

“Pendidikan untuk peningkatan pemahaman tentang risiko dan kesiapsiagaan individu adalah kunci di samping kohesi sosial, kerja sama antar stakeholder dan rasa saling percaya merupakan modal sosial untuk dipupuk secara kolektif dalam mempersiapkan, merespon dan bertahan dari dampak bencana hidrometeorologi,” sebut Fachri.

BMKG sebagai lembaga pemerintah ikut berpartisipasi dalam mengurangi dampak yang ditiimbulkan oleh bencana hidrometeorologi, salah satunya dengan mengembangkan prakiraan cuaca berbasis dampak atau impact based forecast (IBF). Dalam IBF, informasi cuaca yang diberikan disesuaikan dengan dampak yang ditimbulkan akibat kondisi cuaca tersebut.

Fachri menambahkan, Indonesia sebagai negara yang sedang dalam tahap implementasi IBF perlu memiliki pemahaman konsep serta kemampuan praktik komunikasi yang baik. Hal ini berkaitan dengan pergantian paradigma dalam pembuatan dan penyampaian informasi cuaca konvensional menjadi informasi yang mempertimbangkan dan menekankan pada dampak dan respon.

“Sebagai lembaga pemerintan non kementerian, BMKG penting memahami hal ini dengan baik. Salah satu langkah pertama yang penting dilaksanakan adalah kegiatan Risk Communication Workshop,” lanjut Fachri.

Kegiatan workshop diisi oleh pemateri dari HRC yang merupakan Expert of Hydrologist, diantaranya Rochelle Campbell dan Celina Kattan.

Tujuan akhir dari workshop tersebut adalah mengembangkan sistem komunikasi serta layanan sistem peringatan dini yang ideal untuk menghadapi bencana multi sektoral serta meningkatkan kapasitas peserta dalam komunikasi risiko dengan berbagai stakeholder dan publik. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *