Muhammad Yasier / Lhokseumawe

LayarBerita.com – Suara gergaji dan ketukan palu terdengar saling bersahutan di sebuah lokasi Kuala Pusong, Lhokseumawe, persisnya di lokasi PPI.  Ada beberapa kerangka bangunan berbentuk boat yang belum rampung.

Dilokasi, tampak ada beberapa orang sedang sibuk bekerja yang ditemani oleh semilir angin laut dan matahari.  Mereka tidak lain adalah para tukang yang sedang membuat boat berbahan kayu.

Kedatangan wartawan media ini sedikit menyita perhatian para tukang.  Namun setelah memperkenalkan diri, para tukang kembali bekerja menyelesaikan jobnya masing-masing.  Ada yang sedang memotong kayu lantai boat, ada yang sedang memaku lantai serta juga mengukur papan untuk bahan baku boat.

Disela kesibukan para pekerja, Saya menyempatkan diri ngobrol dengan kepala tukang, Amren dan seorang pengawas Zainuddin.  Keduanya  mengaku kalau permintaan boat langgar tetap ada kepada mereka.  Sejauh ini tidak ada kendala apapun terhadap usaha mereka, hanya sulitnya mencari kayu yang berukuran panjang.

Meski ditengah kenaikan sejumlah harga bahan baku serta sulitnya mendapatkan kayu.  Para pembuat boat nelayan masih terus menjalankan usahanya.  Sehingga satu boat langgar ukuran 23 m x 6,8 m, terkadang selesai dalam waktu lebih 9 bulan.  Sementara kebutuhan boat yang dipesan oleh nelayan masih saja berdatangan.

“Untuk bahan baku lantai boat, yakni papan masih mudah di dapat.  Tetapi yang sulit kita dapat, kayu panjang untuk bingkai atas seukuran boat, yakni sekitar 23 meter hingga 24 meter.  Kondisi ini yang membuat pembuatan kapal terkadang memakan waktu di luar dari biasanya,” ungkap Amren.

[LayarBerita/Reza]

Menurutnya, dengan jumlah tukang 4 orang, mereka mampu menyelesaikan satu boat besar tersebut sekitar 6 hingga 8 bulan.   Hal ini jika kondisi normal, baik itu cuaca maupun tersedianya bahan baku.

Pengaruh cuaca tentunya ada pengaruh, sebab mereka membuat boat di alam terbuka.  Sehingga jika hujan deras dan cuaca kurang baik para tukang terpaksa berhenti bekerja.

Kesulitan Bahan Baku

“Kami sering kewalahan dengan bahan baku yakni kayu ukuran panjang.  Kalau untuk lantai boat dan dinding masih mudah ditemui di sejumlah panglong.  Sedangkan kayu panjang untuk bingkai boat, agak payah didapat. Terlebih dengan aturan pemerintah tentang kebijakan penebangan hutan.  Kalau belum dapat kayu, biasanya pembuatan terpaksa ditunda,” terangnya.

Para pekerja berharap, pemerintah tentunya memudahkan penyediaan bahan baku bagi mereka.  Yakni dengan tidak mempersulit saat pembelian kayu untuk pembuatan boat.   Mengingat tanpa bahan baku, usaha mereka tentu akan terkendala.  Otomatis, juga mengganggu  mata pencaharian mereka yang hanya punya keahlian pada pembuatan boat.

[LayarBerita/Reza]

Menurutnya, untuk setiap boat ukuran 23 m x 6,8 m menghabiskan sekitar 20 ton kayu.  Itu bukan lagi kayu untuk bagian tengah boat (gading-gading) yang berukuran lebih tebal.  Kayu yang dipakai juga bukan kayu jenis sembarang.  Tetapi kayu yang punya mutu dan kekuatannya baik.  Sehingga boat dapat bertahan hingga di atas 10 tahun lamanya.

Kualitas kayu yang baik, tentunya kayu yang tidak celah cacat dan tidak pecah-pecah.  Kayu tidak berlubang pada lingkaran tahun, atau kayu harus tahan terhadap air, cuaca musim, jamur dan serangga.  Termasuk pemilihan  kayu tidak mudah dimakan tiram dan tidak mudah lengkung.

[LayarBerita/Reza]

“Harga satu unit boat tanpa mesin sekitar Rp.2 miliar.  Untuk satu boat dibutuhkan paku berbagai ukuran hampir sekitar 100 kg dan kayu sekitar 20 ton.  Dalam pembuatan tentunya Kami menggunakan sejumlah perkakas lainnya, seperti, gergaji palu penggaris serta alat tukang lainnya,” ungkap Amren.

Para pekerja, biasanya mendapatkan bayaran dari pemilik usaha sekitar seratus jutaan untuk satu unit boat.  Uang itu dibagi menurut banyaknya tukang dan tingkatan keahlian para tukang yang terlibat.  Sedangkan biaya lainnya tentu digunakan untuk pembelian bahan baku.  Juga untuk berbagai sarana pendukung termasuk makan para tukang.

Pemilik usaha tentunya dinilai telah menghasilkan produk boat yang punya kualitas.  Disamping mutu dan daya tahan boat, tentunya juga boat layak untuk digunakan berlayar oleh nalayan.  Sebab kesempurnaan design sebuah kapal atau boat, mempengaruhi keberhasilan operasional dan keselamatan nelayan saat melaut.  Boat yang dibuat tentunya harus laik laut dan juga laik tangkap.  []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *