LayarBerita, Aceh Tenggara – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang terdiri dari Tim medis balai dan Resort Wilayah 14 Aceh Tenggara – SKW II Subulussalam bersama Balai Besar TNGL, serta didukung tim medis FKL, WCS, Kepolisian, TNI dan aparat desa terkait, berhasil melakukan upaya penyelamatan seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terkena jerat di sekitar perkebunan masyarakat di wilayah Desa Gulo, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, Minggu (24/1/2021).

Informasi adanya Harimau Sumatera yang terjerat, diperoleh dari masyarakat pada Jum’at tanggal 22 Januari 2021.

Dalam rilisnya, Minggu (24/1/2021), pihak BKSDA Aceh menyebutkan, saat ditemukan, kondisi harimau sangat lemah (dehidrasi) berdasarkan perkiraan tim medis. Harimau Sumatera tersebut terjerat kurang lebih 3 hari yang lalu. Tim berhasil melepaskan jerat yang mengenai kaki depan sebelah kanan dengan membius satwa tersebut.

Berdasarkan identifikasi oleh tim medis, Harimau Sumatera tersebut diperkirakan berumur 1-1,5 tahun berjenis kelamin jantan dengan berat 45–50 kg.

Hasil pemeriksaan dan penanganan tim medis di lapangan, kondisi Harimau Sumatera ini sementara waktu perlu dilakukan perawatan, khususnya penyembuhan luka pada kaki depan sebelah kanan akibat terkena jerat.

Tim medis memutuskan untuk sementara waktu observasi kesehatan secara intensif dilakukan di Kantor BPTN Wilayah 2 Kutacane, BBTNGL guna kenyamanan dan keamanan satwa tersebut.

Pasca dilakukan proses pemulihan, jika kondisi Harimau Sumatera tersebut menunjukan perkembangan kesehatan yang bagus, maka akan dipersiapkan rencana proses pelepasliaran ke habitat alaminya.

Adapun proses pelepasliaran ini akan melibatkan para pihak, terutama pemerintah daerah setempat untuk menjamin keselamatan harimau di habitat alamnya.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk punah di alam liar.

BKSDA Aceh mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian khususnya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta tidak memasang jerat /pagar jerat babi, racun, pagar listrik tegangan tinggi yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Disamping itu, beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Harimau Sumatera dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut.

BKSDA Aceh mengapresiasi atas dukungan semua pihak khususnya masyarakat Desa Gulo, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kepolisian, TNI yang sangat antusias membantu proses evakuasi dan mendukung untuk dilakukan pelepasliaran kembali Harimau Sumatera tersebut ke kawasan hutan/habitatnya. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *