LayarBerita.com – Rasulullah Saw bersabda:“Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa,” (HR. Bukhari).
Komponen terpenting yang ada pada diri manusia selain hati dan akal adalah lisan. Lisan manusia dapat memberikan faedah, tapi juga dapat mendatangkan petaka. Lisan juga dapat membuat orang tersenyum, tetapi di saat yang sama juga dapat membuat orang menangis.
Sebagaimana diungkapkan oleh Pepatah Arab:“Sesungguhnya lisan ibarat binatang buas. Jika engkau ikat, niscaya ia menjagamu. Jika engkau lepas, niscaya ia menerkammu. Karena itu hendaklah engkau berkata sekadarnya dan hendaklah engkau berhati-hati dengannya” Pepatah tersebut memberikan pembelajaran bahwa keselamatan dan kecelakaan seseorang tergantung pada kemampuan mengendalikan lisannya. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR. Bukhori).
Pada dasarnya lisan adalah penerjemah  atau pengungkap isi hati, untuk mengetahui apa yang tersirat dalam hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lisannya atau perkataannya. Karena itu, Rasul Saw memerintahkan untuk menjaga lisan, karena lurusnya lisan itu berkaitan dengan lurusnya hati dan keimanan seseorang. Sabda Rasul Saw:”Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (H.R. Ahmad).
Pesan Rasulullah Saw tersebut semestinya menjadi renungan sebagai modal membangun karakter dan revolusi mental, sehingga momen puasa Ramadhan menjadi praktik nilai-nilai ideal dalam realitas kehidupan. Puasa menjadi kunci utama untuk merawat kesucian lisan. Begitu juga  lisan memiliki peran penting dalam melaksanakan puasa. Amalan utama dan penyempurna pahala puasa Ramadhan seperti zikir dan membaca AlQuran justru menjadi domain lisan.
Sebaliknya, lisan yang menyimpang dari kebenaran dan condong kepada kebatilan seperti bohong, ghibah, mencela dan sebagainya bisa merusak puasa dan menghilangkan pahala. Ditegaskan Rasul Saw: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka Allah tidak butuh kepada ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari).
Puasa merupakan arena latihan untuk menjadi muslim sejati. Muslim sejati kata Rasulullah Saw adalah orang yang perkataan dan perbuatannya terjaga dari segala keburukan. Muslim sejati adalah orang yang menahan diri dari berkata buruk, menebar kebohongan dan keonaran.
Itu sebabnya Rasulullah Saw mengingatkan:”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang terbaik atau diam”(HR. Bukhari dan Muslim). Berdasarkan penjelasan Hadis tersebut dapat dipahami bahwa jika seseorang hendak berbicara, maka sebaiknya ia berpikir terlebih dahulu.
Jika menurut perkiraannya perkataan itu membawa manfaat atau tidak membawa mudharat, maka boleh saja ia berbicara. Tetapi sebaliknya jika perkataannya itu akan membawa mudharat, maka lebih baik ia tidak usah berbicara. Bahkan sebagaian ulama mengatakan bahwa catatan malaikat tentang amalan manusia, lebih banyak amalan diam daripada berbicara.
Menjaga lisan artinya menahan diri dari berbicara yang tidak sesuai syariat dan perkataan yang tidak perlu. Karena itu perlu berhati-hati dalam berbicara, tidak boleh semaunya. Lisan yang baik dan benar adalah lisan yang digunakan sesuai tuntunan Syariat Allah Swt.
Maka lisan seperti ini akan memproduksi berbagai kebaikan seperti mengucapkan kalimat tauhid, zikir, dakwah, perkataan yang santun dan sebagainya. Akumulasi dari berbagai kebaikan yang dilahirkan dari lisan yang terjaga akan menciptkan ketenangan jiwa dan mengundang simpati orang lain.
Salah satu keburukan lisan adalah mencela atau menghina orang lain. Lihatlah bagaimana ancaman Allah Swt terhadap orang yang suka mengumpat dan  mencela. Dijelaskan dalam AlQuran:”Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela”. (QS. Al-Humazah: 1). Besarnya ancaman Allah terhadap orang yang mencela, karena mencela itu mengandung kesombongan dengan meremehkan orang lain dan menganggap diri lebih baik. Karena itu, jangan sampai lisan yang suka mencela merusak pahala puasa.
Padahal puasa menjadi sarana untuk menyempurnakan ketakwaan kepada Allah Swt. Puasa menjadi latihan untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan manusia dengan meningkatkan hubungan baik kepada Allah juga kepada sesama.
Agar lisan menjadi wadah  produksi kebaikan dan terhindar dari perkataan yang dapat mengandung murka Allah, maka perlu meyakini bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui setiap perkataan yang diucapkan lisan. Dalam AlQuran ditegaskan:“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf: 18).
Disamping itu, perlu dipahami bahwa pentingnya menjaga lisan yang terkait dengan keimanan seseorang. Keimanan adalah nikmat tertinggi dari seluruh nikmat Allah, dimana legitimasi keimanan ini akan terancam jika tidak mampu mengontrol lisan.
Sejatinya puasa merupakan perpaduan latihan disiplin fisik, disiplin moral dan disiplin spiritual. Menjaga lisan merupakan bentuk latihan disiplin moral, yaitu menahan secara keseluruhan anggota tubuh dari perbuatan tercela. Jika menjaga lisan dipadukan dengan ketahanan fisik dengan menahan makan dan minum, kemudian ketahanan spiritual dengan sering membaca AlQuran, shalat lail, infak, zakat dan sedekah.
Maka, inilah puasa yang disebut Imam Ghazali dengan puasanya orang super khusus (shaumul khawashil khawash). Semoga, kita dapat menjaga lisan dengan berbicara yang baik sesuai dengan keperluan dan diam dari keburukan.
Oleh : DR. Marhamah, M. Kom. I
Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe
Email: marhamahrusdy@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *