LayarBerita, Lhokseumawe – Direktur Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL), Rizal Syahyadi menandatangani Nota Kesepahaman kerja sama (MoU) dengan Dinas Pendidikan Aceh dan 85 SMK Negeri dan Swasta yang berada di wilayah Aceh, Selasa (19/1/2021), di Aula Lantai III Gedung Utama PNL.

Koordinator Humas dan Kerjasama PNL, Muhammad Hatta dalam laporannya mengatakan, PNL sebagai Perguruan Tinggi Vokasi Negeri (PTVN) memiliki peran strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Disamping itu, PNL dituntut untuk terus menjalin komunikasi, membangun jejaring, dan memperkuat kemitraan dan kerjasama dengan Industri, dunia usaha dan dunia kerja (IDUKA), stakeholders maupun dunia pendidikan dalam upaya memperkuat positioning PNL sebagai penghasil tenaga kerja terampil yang siap pakai.

Hatta menambahkan, tujuan dari penandatangan kerja sama itu adalah untuk meningkatkan sinergitas, kolaborasi dan partnership antara PNL dengan Dinas Pendidikan Aceh dan SMK dalam bidang Pengembangan Pendidikan Vokasi, Pengembangan SDM dan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Untuk tahap ini sebanyak 85 SMK ikut berpartisipasi dalam penandatangan MoU, baik secara tatap muka maupun desk to desk yang tersebar di kabupaten/kota yang ada di Aceh,” terang pria yang sering disapa Bung Hatta ini.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, yang diwakili oleh Kabid Pembinaan SMK Azizah menyampaikan bahwa Dinas Pendidikan Aceh terus melakukan berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan untuk mewujudkan visi Pemerintah Aceh, yaitu “Aceh Caroeng” melalui program-program peningkatan mutu serta mewujudkan SMK yang bermutu, unggul, merata, terampil, berkarakter dan berdaya saing dalam kebekerjaan, diantaranya dengan menjalin kerjasama dengan PNL dan berbagai pihak.

“Kami mengharapkan, mari kita saling bersinergi dalam hal meningkatkan kompetensi SDM khusus di SMK melalui kerjasama dengan PNL dalam beberapa hal, diantaranya Penyelarasan Kurikulum, Magang Siswa dan Guru, Guru Tamu, keterserapan siswa/ kebekerjaan dan Pengabdian Masyarakat melalui SMK Membangun Desa,” ungkap Azizah.

Direktur PNL, Rizal Syahyadi dalam sambutannya mengatakan bahwa di dalam pendidikan vokasi Dosen dan Guru SMK harus merubah mindset-nya. Dosen dan Guru bukan hanya sekedar pengajar tetapi harus bisa menjadi mentor dan fasilitator, coach, friends/parents serta brother and sister. Dosen dan guru harus mampu melihat passion, minat dan bakat siswa dan mahasiswa.

“Lulusan vokasi bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah dan transkrip, tetapi lulusan pendidikan vokasi wajib memiliki Sertifikat Kompetensi dan English Proficiency, karena syarat kompeten “aku bisa perform dan aku mampu perform”, ungkap pria yang biasa disapa Didi.

Rizal Syahyadi menambahkan bahwa untuk tahun 2021 terdapat 11 program pengembangan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, yaitu:

  1. Fokus pada output dan outcomes, bukan hanya pada proses maupun administrasi, lulusan pendidikan vokasi haru dapat memuaskan DUDI, kompeten, unggul dan sesuai, serta menghasilkan produk nyata yang dilahirkan ke pasar/industri/masyarakat.
  2. Fokus kepada kebijakan utama, yaitu merdeka belajar, menjadi pembelajar pancasila dan kebijakan “Link and Super Match
  3. Fokus pada program kerja utama, yaitu SMK Pusat Keunggulan, P3TV, PKK dan PKW, Training SDM Vokasi, SMK D2 Jalur Cepat dan Upgrading D3 menjadi Sarjana Terapan.
  4. Pandemic Concern yang berdampak pada jenis kegiatan serta pola sasaran, salah satu cara yang dilakukan adalah mengurangi event luring, mix dengan daring meeting, melakukan kegiatan yang realistis di masa pandemi, serta terkait dengan kebekerjaan lulusan di masa pandemi.
  5. Persiapan dan pelaksanaan kegiatan lebih awal. Penyediaan juknis/KAK kegiatan dirilis lebih awal dan komprehensif, serta meningkatkan kualitas sosialisasi persiapan kegiatan.
  6. Sinergitas di tingkat internal lebih kuat dan mendalam antar Direktorat Teknis Diksi, serta peran strategis Direktorat Mitas DUDI diperkuat untuk mendukung program kerja ke seluruh Direktorat Teknis, termasuk peran penting Balai Besar agar disiapkan dengan baik.
  7. Kolaborasi dengan stakeholder, yaitu meningkatkan kolaborasi dengan stakeholder dan mitra, lintas Ditjen dan Lintas Kementerian, Pemda, serta IDUKA.
  8. Re-Branding yang kuat, cerdas dan impactfull. Setiap program kerja harus tersampaikan value dan message-nya dengan kreatif dan kekinian.
  9. Terukur dan akuntabel. Program dan kegiatan yang dilakukan selalu terukur dalam aspek kualitas capaian, aspek administrasi-akuntabilitas, serta konsen pada data dan statistik.
  10. Efektif dan efisien dalam aspek realisasi pembiayaan, sumber daya, manajemen dan aspek lainnya.
  11. Memaksimalkan teknologi digital dan TIK untuk meningkatkan efektivitas proses dan kualitas layanan. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *