Rumah Sakit Umum Cut Mutia, Aceh Utara di Buket Rata Lhokseumawe menjadi salah satu tempat rujukan untuk perawatan pasien Covid-19 yang ditetapkan pemerintah.  Untuk itu dibutuhkan tempat isolasi yang sesuai standar protocol Covid-19. Total dana refocusing untuk tahun 2020 yang ditempatkan di RSU Cut Mutia mencapai Rp 12,8 miliar lebih.

Guna kebutuhan tersebut, Rumah Sakit milik Pemkab Aceh Utara ini menganggarkan dana pembangunan dan rehabilitasi ruang isolasi Covid-19 yang bersumber DAK Fisik Reguler sebesar Rp 5,3 miliar lebih. Hal ini dijelaskan langsung oleh Direktur RSUCM, drg Nurhaida MPH kepada anggota DPRK Aceh Utara dalam Rapat Dengar Pendapat hari lalu.

Selain membangun dan merehab ruang isolasi Rp5,3 miliar, RSUCM juga menganggarkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk pengadaan alat kesehatan ruang isolasi Covid-19 dari sumber DAK Fisik Reguler. Tidak hanya itu, melalui dana BLUD, RSUCM menganggarkan dana sebesar Rp 5 miliar untuk penyediaan jasa layanan penanganan Covid-19. Termasuk anggaran untuk penanggulangan penyakit infeksi emergency tertentu Covid-19 sebesar Rp 500 juta.

Dengan jumlah anggaran yang lumayan wah ini, tentunya harus dibarengi dengan pelayanan yang baik tentunya.  Namun sebelumnya, Pansus DPRK Aceh Utara terhadap LKPJ Bupati Aceh Utara menyoroti kondisi pelayanan di RS milik pemerintah daerah tersebut.

Gabungan Panitia Khusus (Pansus) DPRK Aceh Utara terhadap LKPJ Bupati Aceh Utara meminta agar keberadaan Direktur dan manajemen RSUD Cut Meutia dievaluasi dan ditinjau ulang.  Hal ini disampaikan oleh pelapor gabungan Pansus, Terpiadi A Majid dalam rapat paripurna ke-3 masa persidangan I DPRK Aceh Utara tahun 2020, dengan acara penyampaian rekomendasi DPRK Aceh Utara terhadap LKPJ Bupati Aceh Utara tahun anggaran 2019.

Menurut pelapor gabungan Pansus Terpiadi, evaluasi perlu dilakukan terhadap manajemen Rumah Sakit Cut Meutia agar dapat ditiingkatkan standar pelayanan pada ruang IGD dan pelayanan kepada pasien secara umum.  Mengingat selama ini pelayanan di RSUD Cut Meutia sangat amburadul, rata-rata pasien rawat inap dilayani oleh tenaga honorer dan dokter muda.

Terkait pelayanan pasien Covid-19, dengan jumlah anggaran mencapai sekitar Rp 12,8 miliar ini tentu kurang jika harus membeli semua perangkat pendukung, baik itu alat pelindung diri lengkap dan lainnya.  Tapi yang perlu diketahui bahwa dana sebesar itu, hanya digunakan hanya untuk 4 item belanja.

Usai masuknya sejumlah pasien terkonfirmasi positif di rawat di RSU Cut Mutia dalam beberapa hari ini.  Warga mempertanyakan kondisi riil ruangan tempat isolasi pasien covid-19 tersebut. Hal ini lantaran dengan anggaran mencapai Rp 5,3 miliar lebih, tentu bangunan diperkirakan mampu menampung banyak pasien.

Tapi saat ada penambahan pasien sebanyak 8 orang dari Lhoksukon. Semuanya dirujuk ke RSU Zainal Abidin Banda Aceh. Alasannya dilakukan karena kapasitas ruangan untuk menampung pasien Covid-19 di RSU Cut Meutia Buket Rata tidak lagi mencukupi. Sebab saat itu di RSU Cut Meutia sedang merawat beberapa pasien Covid-19, sehingga ruang isolasi semuanya penuh. [redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *