Oleh: Dr. Fauzi, M. Kom. I

Allah swt mengistimewakan bulan Ramadhan di atas bulan-bulan lainnya Bulan yang dihimpun didalamnya rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan itqun minan naar (keselamatan dari api neraka). Di dalam bulan Ramadhan begitu banyak kebajikan Ilahi yang didapatkan manusia, sehingga begitu keluar dari bulan Ramadhan benar-benar menjadi manusia yang berkualitas, manusia yang terbaik.

Sabda Nabi Saw: “Sekiranya manusia tahu kebajikan-kebajikan yang terdapat di dalam bulan Ramadhan, sungguh mereka akan mengharap supaya ramadha berlaku sepanjang tahun”. (H.R. Ibnu Abid Dunya).

Keutamaan dan kelebihan bulan Ramadhan inilah menjadikan Allah Swt mensyari’atkan kepada umat Islam untuk berpuasa dan memperbanyak amal ibadah. Kedatangan bulan Ramadhan disambut (tarhib Ramadhan) dengan sikap suka cita (alfarhu), karena dipanggil Allah Swt untuk melaksanakan puasa.

Karena dengan puasa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman menjadi hamba-Nya yang bertaqwa, sesuai dengan firman  Allah Swt: “Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Q.S. al-Baqarah: 183).

Puasa yang diwajibkan pada bulan Ramadhan merupakan pengendalian diri dari hegemoni nafsu syahwat dan pemisahan diri dari kebiasaan berbuat maksiat, sehingga memudahkan seorang hamba dalam menerima pancaran cahaya Ilahi. Karena pada dasarnya cahaya Ilahi tidak pernah sirna, akan tetapi nafsu syahwat kemanusiaan sering menghalangi. Maka pintu-pintu mukashafah (keterbukaan) rohani hanya dapat dibuka dengan puasa. Inilah rahasia dan faedah puasa Ramadhan bagi pribadi manusia jasmani dan rohani adalah menjadi orang yang bertakwa kepada Allah Swt.

Dalam berpuasa manusia berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya dengan jalan mencontoh Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Karena itu Rasulullah saw bersabda: “Berakhlaklah (bersifatlah) kamu sekalian dengan sifat-sifat Tuhan”. Meneladani sifat Rahman dan Rahim Allah swt misalnya menjadikan rahmat dan kasih sayang terasa bagi seluruh makhluk Tuhan.

Begitu juga dengan sifat-sifat Allah yang lain yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan manusia. Filofof muslim,  Ibnu Sina menggambarkan orang yang berusaha meneladani Tuhan dan sifat-sifat-Nya  sebagai orang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi namun dari dirinya tampak sesuatu yang nyata. Selalu melihat kebenaran, melihat yang Maha Suci dan melihat semua manusia itu sama. Jiwanya selalu diliputi rahmat kasih sayang, karena ia memandang sirr Allah (rahasia Allah terbentang di dalam kodrat-Nya.

Upaya peneladanan sifat-sifat Tuhan dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya dan jika hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dapat dicapai. Karena itu pula nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut bukan hanya sebatas sisi lapar dan dahaga, sehingga dapat dimengerti mengapa Rasulullah saw menyatakan bahwa “banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga”. (H.R. nasa’i dan Ibnu Majah).

Gelar takwa akan dianugerahkan jika memenuhi kualifikasi: pertama, tawadhu’ yaitu menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah dan tanpa menganggap dirinya tinggi (Ibnu Taimiyah).

Artinya orang yang mempunyai sifat tawadhu’ mempunyai kesadaran bahwa seluruh kelebihan dan keistimewaan yang ada pada dirinya bukanlah alat untuk menyombongkan diri. Dengan pemahaman tersebut, orang yang tawadhu’ tidak pernah terbersit dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potensi dan  prestasi yang sudah dicapainya, tetap rendah hati dengan menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya kepada Allah.

Maka tanda orang yang tawadhu’, semakin bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya, maka semakin dekat dengan manusia. Karena orang yang tawadhu’ menyadari akan segala nikmat yang didapatnya dari Allah swt untuk mengujinya dalam mensyukuri nikmat tersebut.

Sebagaimana firman  Allah Swt: “…Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (Q.S. an-Naml: 40). Kedua, sifat qanaa’ah yaitu selalu menerima dengan lapang atau puas dengan apa saja yang Allah karuniakan. Puas itu ditunjukkan dengan syukur dan mengekang diri dalam memburu apa yang diinginkannya dan  ketiga, sikap wara’ yaitu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah.

Puasa Ramadhan merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas keagamaannya. Pertama, dimensi teologis dan spiritualitas yang tercermin dalam komunikasi antara makhluk dan Khaliknya sehingga memungkinkan dalam diri manusia berkembangnya sifat-sifat Ketuhanan yang sebenarnya sudah dimiliki. Kedua, dimensi sosial yaitu tumbuhnya kesadaran sosial dalam batin untuk memiliki sikap kepeduliaan dengan aspek-aspek sosial kemanusiaan.

Kualitas kesadaran batin dapat diukur dengan tingkat kepedulian terhadap realitas sosial tersebut, yaitu menyantuni anak yatim dan orang miskin, membela orang yang tertindas hak dan martabatnya dan keberanian melakukan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ketiga, dimensi mental yaitu dengan berpuasa akan melahirkan mental tegar dan kuat sehinggga mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Melatih mental optimis dan berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan tetap mengacu pada nilai-nilai etika dan moral agama.

Keempat, dimensi etika yaitu dengan menjalankan puasa Ramadhan dengan benar dan berkualitas maka akan tercermin nilai-nilai etika dan moral agama yang diaktulisasikan dalam pola kehidupan sehari-hari. Mempunyai kemampuan untuk mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan negatif maupun emosional destruktif. Sehingga mempunyai kemampuan untuk mengarahkan diri kepada kebenaran, sifat obyektif dan konstruktif.

Tarhib Ramadhan disambut dengan tahniah (ucapan selamat, dzikir dan do’a), sesuai contoh Nabi Saw dengan ucapannya: “Allah Maha besar, ya Allah, mulailah bulan ini atas kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman, dan taufiq ke arah yang engkau sukai dan ridahai Tuhan kami dan Tuhanmu ialah Allah”. (H.R. Turmudzi dan Darimi). Menyambut kedatangan bulan Ramadhan dilakukan umat Islam dengan at-tazkiyah nafs, berusaha membersihkan dirinya dengan berbagai bentuk ibadah, amal shaleh dan langkah-langkah mujahadah.

Sehingga mempunyai sifat terpuji pada dirinya di dunia dan di akhirat mendapatkan balasan yang besar. Apabila semua tazkiyah nafs itu dilakukan, maka dirinya akan menjadi bersih yang selanjutnya membawa dampak positif pada perkataan, perilaku dan membekas pula pada anggota tubuh lainnya. Dengan tazkiyah nafs akan memudahkan umat Islam untuk mengakses hikmah yang tersembunyi di balik bulan Ramadhan.

Semoga puasa ramadhan dapat menempa jasmani dan rohani serta menjadikan momentum pembentukan manusia yang bertakwa. Amiin.

Dr. Fauzi, M. Kom. I

Dosen STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe

Email: fauzikalia2017@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *