Layarberita.com – Masa tenang menjelang Pilpres 2019 telah dimulai. Tidak ada lagi debat, kampanye, kunjungan, baliho dan spanduk dibersihkan, bahkan tidak boleh lagi ada  pertentangan publik antara paslon yang bersaing.
Sekarang tinggal menghitung waktu menunggu hasil dari kontestasi politik. Yang pasti dalam sebuah kontestasi politik akan ada yang menang dan yang kalah. Tidak mungkin semuanya menang dan tidak mungkin pula semuanya kalah. Meskipun, kalah dan menang dalam dunia politik mengandung makna dan tafsir yang beragam dengan implikasi tak bisa diprediksi­kan.
Dan terkadang sesuatu terjadi di luar dari nalar biasa manusia. Karena itu, seringkali dibuat tafsir yang rancu untuk memaknai akibat sebuah perta­rungan politik. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana menyikapi apa pun hasi dari kontestasi politik nanti.
Elit politik  yang terlibat dalam kontestasi politik ibarat seorang petarung, maka seorang petarung sejati memiliki jiwa besar untuk menerima kekalahan. Karena kalau untuk menerima kemenangan siapapun bisa menerimanya. Kebesaran jiwa elit politik untuk menerima kekalahan sangat menentukan dalam menjaga ketertiban masyarakat.
Elit politik yang berjiwa besar, tidak akan membiarkan pendukungnya melakukan tindakan anarkis dalam menyikapi kekalahan. Akan tetapi, elit politik yang bertanggung jawab mampu menanamkan kekalahan dan kemenangan dalam sebuah kompetisi politik sebagai hal yang wajar. Sikap ksatria elit politik menerima kekalahan dan kemenangan secara bijak adalah bagian dari pendidikan politik yang mendewasakan.
Elit politik harus menjadi panutan dalam menanamkan sportifitas kompetisi politik secara holistik. Menjunjung sikap sportif dengan mengedepankan fair play, akan dapat menepis kegaduhan yang muncul kepermukaan. Bukan melihat kemenangan dan kekalahan secara sesaat, dengan membuat manuver yang memalukan. Membangun kualitas kontestasi politik secara bermartabat sangat ditentukan oleh cara pandang terhadap kemenangan dan kekalahan itu sendiri.
Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan itu sendiri. Bila mampu menyikapi dengan dewasa, maka akan memberi dampak positif atas terselenggaranya pilpres lebih berkualitas. Mampu mengedepankan sikap jujur, transparan, akuntabel, dan adil, akan memberi nilai tambah yang maksimal atas terselenggaranya pilpres.
Bagaimana elit politik mampu memberi peran secara utuh sehingga menciptakan iklim kondusif yang kuat terbangun ditengah masyarakat, pada hakikatnya inilah yang paling penting.
Kalah-Menang  “Sunnatullah”
Pada dasarnya, hakekat menang dan kalah itu adalah Sunnatullah, seperti halnya ada kaya dan miskin yang merupakan perguliran waktu di antara manusia.
Diingatkan dalam AlQuran:”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8).
Ayat ini memberikan pesan dan saran agar siapa pun itu, dan apa pun jabatannya, agar jika berkompetisi lalu kalah atau menang, haruslah berlapang dada. Yang menang berlapang dada tidak menyombongkan diri, dan terutama untuk yang kalah harus berlapang dada menerima kekalahan.
Maka jika Allah telah mem­berikan keputusan dengan memenangkan salah satu pihak, meski dengan selisih yang ti­pis sekalipun, haruslah mampu menerima kekalahan itu. Karena itu janganlah kekalahan menjadi suatu beban baru yang member­atkan, sebaliknya malahan segala upaya yang telah dicapai dalam rangka berkompetisi adalah be­ban yang telah dilepaskan Allah dengan memenangkan pihak lain.
Kekalahan bisa saja berubah menjadi kemenangan, tergantung bagaimana menyikapinya. Sebagaimana sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa “kekalahan adalah kemenangan”, meskipun ungkapan ini terdengar aneh dan irrasional. Tetapi faktanya memang demikian, bila setiap kekalahan selalu diterima dan disikapi dengan lapang dada serta dijadi­kan sebagai momentum intros­peksi dan kontemplasi.
Tamsilan ini mengingatkan bahwa kekalahan bukanlah akhir dari segala-galanya, tapi justru itu adalah awal menuju sebuah kesuksesan yang maha dahsyat. Maka itu, jangan dijadikan makna kekalahan itu sebagai makna yang sebenar-benarnya. Karena makna kekalahan yang sebenarnya adalah ketika tidak mampu bangkit dari kekalahan dan tidak mau melakukan intropeksi.
Nilai yang sesungguhnya dari sebuah kontestasi tidak pada menang atau kalah. Justru nilai yang sesungguhnya ada pada bagaimana menyikapinya. Menang akan bernilai (berarti) jika disikapi dengan rasa syukur, dan menang akan menjai nilai (value) jika disikapi dengan intropeksi.
Selain itu diingatkan pula, jika ingin nama dan sebutan ditinggikan Allah, maka bersikaplah rasional dan propor­sional dalam menerima kekala­han itu. Mampu mengakui kele­bihan orang lain dibanding diri sendiri. Mungkin ada kelebihan pihak yang menang terhadap pi­hak yang kalah.
Jika budaya menerima kekalahan yang disandingkan dengan kemenangan mampu berjalan beriringan, maka keberadaan kontestasi politik bukan menjadi masalah krusial yang harus ditakutkan. Memadukan keduanya dapat bersinergi dengan baik harus dapat diupayakan terus menerus oleh elit politik secara sadar.
Dalam kompetisi politik, kemenangan bukan berarti menjatuhkan yang kalah. Karena, konsekuensi kompetisi tersebut hakekatnya bukan menaklukan sebagai sebuah jajahan dalam kekuasaan terhadap rival politiknya.
Dengan demikian budaya menerima kekalahan mesti mampu ditransformasikan dengan budaya menerima kemenangan. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam kompetisi politik yang mencerdaskan. Mestinya elit politik memiliki common ground (pijakan yang sama) dalam berpolitik. Dan secara kebangsaan pijakan yang sama adalah mewujudkan daerah/negara yang damai, adil dan sejahtera.
Kemenangan tidak selalu dilihat pada akhirnya, tapi pada niat dan proses. Jika niat dan proses benar serta penuh tanggungjawab, apapun hasil akhirnya itulah kemenangan. Karena keputusan Allah lah pada akhirnya yang terbaik sekaligus kemenangan.
Akhirnya, meletakkan korelasi menang dan kalah dalam bingkai hubungan dialog yang mendewasakan, merupakan bagian dari esensi kompetisi politik yang bersifat dinamis. Kemenangan dan kekalahan adalah sebuah proses politik yang mesti dilalui secara dewasa dalam kompetisi.
Memilih diantara yang baik, adalah proses pematangan publik dalam memberikan garansi politik yang mendewasakan. Dalam posisi ini, kekalahan dan kemenangan diantara yang terbaik adalah bagian dari resiko pilihan publik.
Kekuasaan poliitk hanya satu dan secuil dari lahan amal. Ketika lahan ini lepas yakinlah di dedapnnya terbentang jutaan lahan amal lainnya. Karenanya dunia selalu terbuka lebar untuk melangkah. Cita juang hanya terbatasi oleh ketinggian langit.
Maka jangan merasa terhalangi untuk berbuat baik karena kekalahan dalam kontestasi politik. Sebaliknya justru harus disadari bahwa dengan kelahan ini sebagai cara Allah untuk membuka jalan-jalan keberhasilan lainnya. Seribu menuju kepada pengabdian demi agama, bangsa dan negara.
Dalam demokrasi, ada semangat untuk menghargai serta menjunjung tinggi kepentingan rakyat seutuhnya. Di sana juga ada nilai-nilai suci yang memang tidak bisa diukur dengan uang, apalagi ditakar dengan banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam proses politik. Kedewasaan dalam berdemokrasi banyai ditentukan oleh kedewasaan dalam menyikapi hasil dari kontestasi politik itu sendiri.
Jadi, siapa pun yang terpilih dan dipilih rakyat harus dihargai. Artinya, pihak yang tidak dipilih dalam kontestasi politik, mesti menunjukkan kebersamaan dan semangat perjuangan dalam membangun bangsa. Tentunya, siapa pun yang terpilih harus mengemban amanah rakyat dengan penuh tanggung jawab. [***]
Oleh: DR. Marhamah, M. Kom. I
Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe
Email: marhamahrusdy@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *