LayarBerita, Lhokseumawe – Pandemi Covid-19 mempengaruhi semua sektor kehidupan tentunya, terutama berdampak pada perekonomian bagi semua lapisan masyarakat. Namun yang paling merasakan adalah masyarakat kelas bawah, dimana mencari nafkah harian.

Seperti halnya yang dialami oleh Tgk Nurdin seorang tukang jahit tradisional yang berusia 54 tahun. Dampak pandemi saat ini sangat dirasakan dirinya, dimana penghasilannya jauh dari sebelum pandemi terjadi. Namun dirinya tetap bertahan, agar dapat membiayai kebutuhan keluarganya.

Mengenakan kemeja batik serta kopiah yang bermotif Aceh dan terlihat sangat rapi, Tgk Nurdin tampak telaten membentangkan kain merah putih yang akan di jahit menjadi sebuah bendera sangsaka Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan menggunakan mesin jahit kuno. Pria tua yang akrap disapa Teungku Din ini mampu menjahit puluhan bendera merah putih berbagai ukuran dalam.

Tgk Din yang telah bekerja menjadi tukang jahit di sudut kota lhokseumawe semenjak tahun 80’an sampai sekarang. Meskipun Tgk DIN terlihat sudah berumur. Namun, matanya masih sangat terang untuk memasang benang di jarum mesin jahitnya.

Selain menjahit bendera, Tgk Nurdin juga menerima reparasi pakaian lainnya, seperti celana dan baju. Namun, dalam dua tahun ini, selama pandemi Covid-19 yang telah melanda bumi ini pendapatan dirinya drastis menurun selama dua tahun terkahir ini.

“Menjahit bendera ini sampingan, lantaran menjelang Hari Kemerdekaan. Sedangkan hari biasanya, saya juga menerima order jahitan ringan. Pasalnya pesanan jahitan baju atau celana kini jauh berkurang,” ujarnya.

Permintaan bendera merah putih pun jauh berkurang dibanding sebelum pandemi COVID-19.  “Kalau dulu memasuki bulan Agustus, bisa terjual sekitar 10-15 lembar bendera setiap hari ini. Namun saat ini hanya beberapa lembar saja yang terjual. Terpenting bagaimana kita mensyukurinya,” ungkapnya. [Yasir]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *