LayarBerita, Lhokseumawe – Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Juli 2021, harga barang dan jasa secara umum di Kota Lhokseumawe pada bulan Juni mengalami penurunan atau deflasi sebesar -0.07% dibandingkan Mei 2021. Kondisi (deflasi) tersebut berbalik dari kondisi harga pada Mei yang meningkat 0,19% dibandingkan April.

Kondisi deflasi pada Juni 2021 juga terjadi pada Kota Meulaboh dan Kota Banda Aceh yang tercatat masing-masing sebesar -0,06% dan -0,05%. Bahkan secara Provinsi Aceh dan nasional mengalami deflasi masing-masing -0,06% dan -10,16%.

Di antara 24 kota yang disurvei di Sumatera, mayoritas mengalami deflasi dimana yang terdalam terjadi di Bungo-Jambi (-0,28%). Namun terdapat pula kota yang secara umum mengalami kenaikan harga dengan tertinggi di Kota Tanjung Pandan-Bangka Belitung (0,36%).

Secara tahunan (year on year), harga barang dan jasa di Kota Lhokseumawe pada Juni 2021 meningkat 3,18% dibandingkan bulan yang sama tahun 2020. Angka tersebut masih dalam rentang sasaran inflasi Pemerintah tahun 2021 sebesar 3,0% ±1%, sebut Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lhokseumawe dalam rilisnya, Senin (12/7/2021).

Terjadinya deflasi di Kota Lhokseumawe pada bulan Juni 2021 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga cabai merah, ikan bandeng, bawang merah, ikan kembung, cabai hijau. Harga cabai merah dan cabai hijau menurun disebabkan oleh bertambahnya pasokan dari wilayah Brastagi-Sumatera Utara yang sedang panen besar.

Demikian pula bawang merah sedang memasuki masa panen di daerah Tapanuli Selatan yang membuat persediaan bawang di Lhokseumawe meningkat.

Meski secara umum mengalami penurunan, namun terdapat beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga diantaranya adalah daging ayam ras, udang basah, ikan teri, telur ayam ras, ikan teri asin.

Peningkatan harga daging ayam ras terjadi pasca hari raya Idul Fitri yang disebabkan oleh harga pakan ayam yang meningkat.

Sementara itu, kenaikan harga ikan teri dan ikan teri asin disebabkan cuaca buruk diserta angin kencang dan ombak tinggi yang melanda selat Malaka mulai dari minggu ketiga Mei hingga Juni, yang menyebabkan menurunnya tangkapan ikan teri hingga 40% dibandingkan bulan sebelumnya sebagaimana terkonfirmasi dari data tangkapan ikan di PPI Pusong.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe terus berkoordinasi dengan pemerintah Kota Lhokseumawe dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *