LayarBerita, Sigi – Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi Tengah, meminta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) untuk memperkuat relevansi strategi implementasi program termasuk mekanisme kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan.

Hal itu disampaikan Asisten II Iskandar Nongtji dalam sambutannya mewakili Bupati Sigi Mohamad Irwan, S.Sos. M.Si pada lokakarya internalisasi dan konsolidasi FPRB yang didukung oleh Yayasan Pusaka, di Aula Kantor Bupati Sigi, Sabtu(10/4/2021).

“Pasca gempabumi, pemerintah daerah sedang bergiat dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi serta terus melakukan rekonstruksi serta terus melakukan upaya-upaya penguatan kesiapsiagaan, penguatan risiko bencana berbasis masyarakat,”Ujar Iskandar Nongtji.

Ia menambahkan, sebagai langkah lebih lanjut dari penguatan risiko bencana tersebut, pemerintah daerah bersama forum pengurangan risiko bencana melaksanakan internalisasi dan konsolidasi penguatan managemen risiko bencana.

“Oleh karena itu, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait ini dapat menguatkan relevansi strategi implementasi program termasuk mekanisme kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, tegasnya.

Dalam implementasi program, ia berharap adanya gambaran terkait tujuan, strategi, pendekatan dan keluaran program, serta masukan terkait program yang akan dilaksanakan.

Dalam kesempatan itu, Iskandar Nongtji menyampaikan beberapa pesan Bupati Sigi,  pertama, hal paling utama adalah pelaksanaan di lapangan bukan hanya membuat aturan.

Kedua, kebijakan pengurangan risiko bencana terintegrasi dari hulu ke hilir. Dan ketiga, penyelenggaraan manajemen tanggat darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi serta peringatan dini dilakukan secara cepat dan akuran, keempat gunakan dan manfaatkan anggaran penanggulang bencana secara optimal.

“Jangan takut bila sesuai aturan. Dengan kata lain, pelajari, pahami dan implementasikan peraturan perundang-undangan kebencanaan dalam pelaksanaan anggaran penanggulan bencana,” pesan Bupati Sigi.

Sementara Koordinator Program PRB Yayasan Pusaka Indonesia (YPI), Markoko,  mengatakan, Pusaka indonesia dan Caritas Swiss berkomitmen melakukan penguatan terhadap FPRB Kabupaten  Sigi untuk mendukung ketangguhan Kabupaten Sigi dalam menghadapi situasi bencana. Dan diharapkan FPRB dapat menjadi fasilitator untuk penguatan hingga ke desa-desa di Kabupaten Sigi.

Saat ini ada 176 desa yang belum memahami upaya pengurangan risiko bencana (PRB), imbuhnya.

Sambungnya, selain memberikan dukungan penguatan internal FPRB Kabupaten Sigi, YPI dan Caritas Swiss juga memberikan kontribusi perlengkapan sekretariat forum PRB Kabupaten Sigi.

Hal Senada juga disampaikan Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Sigi, Saiful Taslim, lokakarya yang dilaksanakan  untuk membahas lebih detail upaya pengurangan risiko bencana, mengingat wilayah Sigi dengan risiko tinggi untuk tujuh jenis ancaman bencana. Dan sekarang Sigi sedang dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi untuk dapat membangun kembali wilayahnya menjadi lebih baik dan lebih aman.

“Untuk mencapai hal ini tentunya dibutuhkan pengarusutamaan program-program pengurangan risiko bencana melalui program ketangguhan bencana yang disusun yang didanai oleh Caritas Swiss dan konsorsium sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sigi, sebut Saiful Taslim.

Ia menambahkan, melalui kegiatan internalisasi dan konsolidasi yang dipilih oleh FPRB Sigi sebagai langkah awal dalam rangkaian aktivitas FPRB Sigi, dengan tujuan membenahi internal lembaga terlebih dahulu sebelum mengambil langkah strategis ke depannya. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *