LayarBerita.com – Mobil dengan transmisi otomatis (matic) menghadirkan suatu kemudahan dan kenyamanan berkendara. Pengemudi tinggal ngegas dan ngerem saja, tanpa perlu ribet oper gigi sambil main kopling. Walaupun begitu, masih banyak pengemudi yang melakukan kebiasaan buruk yang membuat transmisi matic cepat jebol.

Dikutip dari laman autofun.co.id, saat ingin berkendara, kita cukup sekali memindahkan gigi ke posisi D, dan saat berhenti agak lama kita perlu memindahkan tuas transmisi ke posisi N. Saat akan mundur, kita tinggal pindahkan ke posisi R.

Nah, masih ada pengemudi yang ngawur karena tetap memposisikan tuas transmisi di D saat berhenti di lampu merah yang agak lama. Transmisi dibiarkan di posisi D dan mobil berhenti karena menginjak pedal rem terus menerus. Padahal, itu adalah kebiasaan yang keliru, karena semestinya kita harus memposisikan di N ketika berhenti lebih dari 5 detik supaya transmisi juga bisa ‘beristirahat’ sejenak.

Itu tadi adalah salah satu contoh kebiasaan yang membuat transmisi matic cepat jebol. Sebab saat transmisi dalam posisi D, mobil bisa tetap berjalan pelan walaupun kita tidak menginjak pedal gas. Kalau kita hanya menahan dengan rem tanpa pindah ke N, membuat kampas kopling bermasalah. Lebih lengkapnya, berikut ini lima kebiasaan buruk yang sebaiknya tidak dilakukan saat berkendara dengan mobil bertransmisi otomatis.

1. Sembarangan Menerjang Genangan Air

Walaupun kalian berkendara memakai SUV, sebaiknya tidak sembarangan kalau menerjang genangan air atau banjir. Situasi seperti ini sering terjadi di Jakarta atau beberapa kota lain yang sering mengalami banjir setelah hujan lebat.

Di transmisi otomatis mobil ini terdapat lubang penguapan atau breather, fungsinya untuk membuang udara hawa panas sedikit demi sedikit dari dalam. Bila kita tidak paham posisi breather dan nekat terobos banjir, maka air bisa menyusup masuk ke transmisi.

Bila air sudah tercampur dengan oli transmisi, alamat jebol transmisi matic di mobil kita. Untuk itu, kalian juga perlu memastikan tidak ada air yang masuk dan tercampur ke oli transmisi matic dengan cara mengecek dipstick.

Apabila olinya sudah ada warna putih maka pertanda telah tercampur air. Namun bila masih merah atau sewajarnya warna oli transmisi, maka kondisinya masih baik.

2. Tidak Memindahkan Transmisi dari D ke N Saat Berhenti

Sempat disinggung di atas, kalau ini adalah kebiasaan paling sering dilakukan oleh pengguna mobil matic. Bila cuma berhenti 1-5 detik karena macet, cukup gunakan pedal rem namun bila berhenti agak lama maka sebaiknya pindahkan transmisi dari D ke N.

Saat akan memindahkan dari D ke N, perlu sambil menginjak rem supaya mobil tidak nyelonong. Setelah masuk posisi N, aktifkan rem tangan atau rem parkir dan lepaskan kaki dari pedal rem supaya bisa beristirahat sejenak.

Lalu, apa jadinya bila saat berhenti transmisi mobil otomatis tetap ada di posisi D?

Kondisi berhenti lama dengan posisi D ini sebenarnya transmisi masih berputar. Bahasa gampangnya, rem jadi menahan perputaran transmisi. Kopling transmisi jadi aus karena efek gesekan yang ditimbulkan pada kopling.

Di sisi lain, dikhawatirkan bila masih ada di posisi D dan kamu hanya menginjak pedal rem, lalu injakan kaki pada pedal melemah, tanpa sadar mobil melaju sedikit. Hal ini berisiko menabrak mobil atau kendaraan lain di depan.

3. Pindah ke Posisi R, Tanpa Berhenti

Nah, ini kebiasaan yang tanpa sadar suka dilakukan oleh pengguna mobil dengan transmisi matic terutama saat sedang akan parkir. Ketika kita membenahi posisi mobil untuk parkir, pasti kita akan maju dan mundur. Karena sedang terburu-buru, tanpa sadar pindah langsung dari D ke R walaupun mobil belum berhenti.

Nah ini jelas keliru, karena sebaiknya saat pindah dari D ke R dalam kondisi berhenti sejenak. Bila kebiasaan ini terus dilakukan maka kopling cepat rusak dan inilah penyebab gejala jeduk. Dengan berhenti sejenak, maka kopling transmisi matic akan awet karena tidak dipaksa bekerja keras.

Transmisi matic perbaikannya lebih ribet dan lebih mahal, sehingga kita perlu berkendara ‘pakai hati’.

Biasanya penggantian oli transmisi mobil baru setiap 40 ribu kilometer. Namun bila mobil sudah berumur, maka penggantian sebaiknya dipercepat hingga setiap 20 ribu kilometer.

Sebagaimana disebutkan dari YouTube Dokter Mobil, walaupun oleh pabrikan tidak menyarankan ganti oli transmisi, namun kita sebaiknya tetap melakukan penggantian secara periodik.

“Penggantian oli adalah bagian dari maintenence juga supaya transmisi kita sehat. Karena kalau transmisi rusak, sekelas Honda Jazz saja bisa keluar di atas Rp10 juta untuk ngebenerinnya,” ucap Koh Lung Lung selaku pemilik Dokter Mobil. [autofun]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *