LayarBerita, Siak –  Bupati Siak, Alfedri memegang sebuah alat semacam sekop kecil, dan mulai menggali tanah untuk mengeluarkan umbi porang yang ditanam Sahnan sekitar 6 bulan yang lalu.

“Besar nih,” ujarnya, saat melihat umbi porang di kebun milik pak Sahnan warga Kampung Benteng Hulu, Mempura, Minggu (11/4/2021).

Warga yang menyaksikan pun ikut berkomentar secara spontan.  “Wah besarnya,  bisa sampai 5 kilo tuh,” ujar seorang warga.

Melihat ini, anggota kelompok tani ikut membantu untuk mengangkat dan membersihkan porang yang di panen oleh Bupati Siak itu.  Kemudian  ditimbang, dan ternyata beratnya hampir mencapai 5 kilogram.

Pada kesempatan itu, Bupati Alfedri mengatakan bahwa tanaman porang tersebut lebih menguntungkan dari kelapa sawit.

“Dalam hitungan kasar, jika satu hektar bisa menghasilkan 24 ton, dan dikalikan dengan harga Rp 6.000/kilogram, kan lumayan nih,” jelas Alfedri.

Sambung Bupati Siak, tanaman porang mempunyai nilai komoditi tinggi, sehingga menjadi bahan ekspor keluar negeri.

“Ini bisa menjadikan porang sebagai produk unggulan di satu kampung, one village one product,” ujarnya.

Saat ini lanjut Alfedri, para petani porang sedang menunggu masa panen sebanyak ratusan ribu batang yang berlokasi di 6 kecamatan.

Ketua DPW Pegiat Petani Porang Nusantara (P3N) Deny Welianto berharap Kabupaten Siak dapat menjadi sebagai salah satu sentra komoditi porang di Riau,  karena Siak punya potensi yang sangat menjanjikan.

Siak memiliki lahan gambut yang cukup luas, ia pun sudah mencoba mengembangkan porang di lahan gambut.

“Saya mengembangkan porang di lahan gambut, dan Alhamdulillah pertumbuhan dan hasil yang dicapai sangat bagus,” ungkapnya.

Sambungnya, lahan gambut memiliki deposit air yang cukup besar, kemudian lahan gambut  memiliki kandungan nitrogen yang cukup tinggi dan dibutuhkan oleh tanaman porang.

Harga benih porang perkilonya sekitar Rp 300 – 400 ribu dan harga umbi porang perkilonya  6.000-8.000 rupiah.  Jika masyarakat berminat bisa membelinya di DPD P3N yang berlokasi di Kecamatan Tualang, atau di PAC Mempura, Siak, Kandis dan Koto Gasib. [Infotorial]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *