LayarBerita, Lhokseumawe – Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 4 Januari 2021, Kota Lhokseumawe pada bulan Desember 2020 tercatat mengalami inflasi atau peningkatan harga barang dan jasa secara umum sebesar 1,27% (month to month/mtm). Inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi pada bulan November 2020 sebesar 0,30% (mtm).

Jika dibandingkan dengan 2 kota lainnya yang menjadi perhitungan inflasi di Provinsi Aceh, Inflasi Kota Lhokseumawe pada bulan Desember 2020 merupakan yang tertinggi dibandingkan Kota Banda Aceh dan Kota Meulaboh yang masing-masing tercatat inflasi sebesar 0,85% (mtm) dan sebesar 1,02% (mtm).

Secara keseluruhan, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,99% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,19% (mtm). Secara nasional, pada bulan Desember 2020 terjadi inflasi sebesar 0,45% (mtm).

Berdasarkan perkembangan tersebut maka inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada Desember 2020 mencapai 3,55% (year on year/yoy) atau berada dalam rentang sasaran inflasi Pemerintah sebesar 3,0% ±1% (yoy).

Inflasi Kota Lhokseumawe pada bulan Desember 2020 bersumber dari peningkatan harga pada kelompok pengeluaran yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,33 %.

Lima komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi terbesar di Kota Lhokseumawe adalah Ikan Tongkol (andil: 0,30%), Cabai Merah (0,20%), Ikan Dencis (0,09%), Ikan Biji Nangka (0,08%), dan Cabai Rawit (0,06%). Hal ini terutama didorong oleh pasokan ikan laut kembali terbatas seiring cuaca dan gelombang tinggi laut di Selat Malaka di tengah lokasi penyimpanan yang belum optimal.

Sementara itu, permintaan relatif tinggi seiring masih berlanjutnya kebutuhan peringatan Maulid Nabi dan periode jelang tahun baru. Selain itu, terbatasnya pasokan di tingkat pedagang dan produsen cabai merah sehubungan dengan musim hujan, adanya banjir, serta kondisi sejenis yang dialami oleh daerah produsen luar Aceh. Secara tahunan, kenaikan harga komoditas laut dipengaruhi adanya base effect rendahnya demand pada tahun 2019 akibat African Swine Fever.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi diantaranya Emas Perhiasan (andil: -0,06%), Daging Ayam Ras (-0,02%), dan Cabai Hijau (-0,01%). Penurunan harga tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya penurunan harga emas dunia dan penyesuaian permintaan daging ayam ras yang beralih ke komoditas ikan.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Pengendalian inflasi dilakukan dengan menjaga 4 aspek yaitu Ketersediaan Barang, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi yang Efektif. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *