LayarBerita, Jakarta –  Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia, Sofyan Djalil berkunjung ke sebuah areal perkebunan di Blang Bintang.  lokasi perkebunan yang sedang digarap PT KPA, merupakan milik pengusaha Aceh, Rusli Bintang. Adapun luas areal perkebunan sekitar 2.200 hektar di atas wilayah lahan HTI.

Seperti diketahui, di lahan tersebut KPA menanam durian, alpukat dan lainnya di sana.  Menteri Sofyan, yang rumahnya bertetangga dekat dengan Rusli Bintang di Jakarta, berkunjung ke lahan KPA di atas HTI itu.

“Pak Menteri hanya untuk meninjau lahan HTI, yang banyak digarap masyarakat.  Termasuk korporasi seperti PT KPA itu,” ujar ujar T. Taufiqulhadi staf khusus dan Jubir Kementerian ATR/BPN.

Di perkebunan Rusli Bintang, tampak hadir juga sejumlah tokoh masyarakat setempat. Para tokoh tersebut menjelaskan tentang maksud penggarapan lahan HTI tersebut.

Lahan perlu digarap untuk kemakmuran rakyat yang sedang menghadapi pandemi Covid. Karena itu, mereka mengharapkan Menteri Sofyan, sebagai orang Aceh dan pelaku perundingan damai, untuk mengabsahkan tanah garapan terseut menjadi milik masyarakat.

Sofyan Djalil, di lokasi tersebut menampik menerima proposal yang akan diserahkan Juanda, seorang anggota DPRK, Aceh Besar. Menteri menjelaskan tugas masing-masing kementerian. Dirinya mengistilahkan dengan kamar.

Dalam pemerintahan, katanya, ada kamar-kamar. Antara satu kamar dan lainnya beda tugas dan wewenangnya. Urusan lahan HTI itu tidak masuk kamarnya, tapi itu masuk kamar Menteri KLHK.

“Kami di Jakarta ada istilah, sesama bis kota dilarang saling mendahului,” katanya, disambut tawa meriah kelompok masyarakat yang hadir.

Soal pelepasan tanah HTI itu, sambungnya harus diajukan kepada Ibu Siti Nurbaya. Ia berpendapat, jika Ibu Siti memiliki keinginan melepaskannya, juga pasti dengan program tertentu yaitu  melalui program TORA (Tanah Objek Reforma Agraria).

“Jika melalui program ini, maka penerima tanah juga akan diseleksi sesuai ketentuan. Anggota masyarakat mana yang boleh menerima tanah itu,” ujar T. Taufiqulhadi. [rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *