LayarBerita, Lhokseumawe –  Sepekan jelang berakhirnya masa jabatan sebagai Bupati dan wakil Bupati Aceh Utara, H Muhammad Thaib dan Fauzi Yusuf terlihat lebih segar dibanding hari biasanya.  Bahkan keduanya lebih punya waktu untuk bersantai dengan sejumlah koleganya di warung kopi di luar jam kerjanya.

Bahkan saat dalam perjalanan pulang dari Bener Meriah hari lalu untuk menyemangati kontingen MTQ dari Aceh Utara, Cek Mad, panggilan akrab Bupati Aceh Utara yang telah menjabat dua periode ini, singgah menepi di sebuah taman cafe di kawasan Gunung Salak, Nisam Antara, Aceh Utara.

Cek Mad langsung minta berhenti pada sopirnya untuk turun ke taman tersebut, yang dia ketahui milik salah seorang yang dia kenal dan berprofesi sebagi wartawan di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara.  Bupati Aceh Utara ini langsung turun dan berjalan masuk ke arah taman setelah mobil berhenti.

Dengan gaya ‘koboinya’ Cek Mad langsung berteriak memanggil pemilik taman layaknya dia bukan sebagai seorang pejabat negara atau orang nomor satu di Aceh Utara.  Tentunya candaan ringan langsung menaglir ketika pemilik taman Mutiara Bunga melihat siapa yang datang dan memanggil dirinya.

Ini hanya sebagian kecil momen dimana Bupati Aceh Utara terlihat lepas seakan tanpa beban diakhir masa jabatannya.  Bahkan saat menghadiri rapat dengan organisasi yang dia pimpin, Cek mad juga terlihat lebih tenang dan santai dalam memberikan pendapat dan menerima masukan dari para pengurus dan anggota lainnya.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Sejak dilantik menjadi Bupati pada 12 Juli 2017 lalu, lantaran Cek Mad langsung dihadapkan dengan banyak persoalan di daerah berjuluk Bumi Pase ini. Bukan hanya masalah pembangunan, tapi juga berbagai persoalan sosial ekonomi masyarakat.  Salah satu yang cukup membebani adalah tuntutan khalayak agar segera memindahkan kantor instansi Pemkab Aceh Utara dari Kota Lhokseumawe ke Ibukota Lhoksukon.

“Hal itu cukup menyita pikiran saya waktu itu, bagaimana kita mau berkantor di Lhoksukon, infrastruktur apapun belum ada,” ungkap Cek Mad.

Sejak saat itu Cek Mad terus duduk berunding dengan jajaran terkait untuk menyiapkan kantor-kantor Pemkab Aceh Utara di Lhoksukon. Minimal Kantor Bupati dan DPRK harus lebih dulu nongol di sana. Dinas-dinas bisa menyusul secepatnya.

“Alhamdulillah Kantor Bupati dan DPRK beroperasi di Landing, Lhoksukon, pada awal 2021. Banyak dinas sekarang juga telah berkantor di sana,” ungkapnya.

Selain berhasil meng-kantor-kan para ASN ke Lhoksukon, banyak hal lainnya yang mungkin dapat dilihat di website Kabupaten Aceh Utara tentang capaian yang sudah dilakukan Cek Mad bersama Wakil Bupati Fauzi Yusuf dalam masa lima tahun terakhir.

Di antaranya, pembangunan waduk/bendungan Krueng Keureutoe di Gampong Blang Pante Kecamatan Payabakong dan rehab berat bendungan irigasi Krueng Pase. Saat ini bendungan Krueng Keuretoe sudah hampir rampung, di mana diharapkan dapat mereduksi banjir kawasan Ibukota Lhoksukon dan beberapa kecamatan lainnya di wilayah tengah Aceh Utara, juga menjadi suplai air irigasi untuk 9.420 hektar sawah, pembangkit listrik, serta wisata bahari.

Rehab berat bendungan Krueng Pase yang hancur pada 2008, kini sedang dalam penyelesaian. Dari sini nantinya bisa menjadi sumber irigasi bagi 8.922 hektar sawah di sembilan kecamatan.

“Hari-hari ini adalah hari-hari terakhir saya menjabat sebagai Bupati Aceh Utara, yang akan berakhir pada 12 Juli 2022. Saya mohon maaf kepada seluruh rakyat Aceh Utara bila saya belum mampu melaksanakan seluruh visi misi saya dan juga memenuhi harapan masyarakat,” ungkap Cek Mad.

Semua awal pasti ada akhirnya, begitu juga dengan jabatan seorang Kepala Daerah. Menurut Cek Mad, jabatan tersebut ada batasan dan pembatasannya. Setiap lima tahun sekali akan ada pemilihan secara demokratis, sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang.

Begitu juga dengan pembatasan dalam mengemban tugas sebagai Kepala Daerah, ada aturan pelaksanaan dan aturan teknis yang telah diatur dalam ketentuan Undang-Undang.

“Saya sangat menyadari bahwa dalam menjalankan amanah rakyat tersebut masih banyak terdapat kekurangan dan pekerjaan yang belum bisa saya tunaikan sepenuhnya. Namun banyak hal juga yang sudah saya lakukan sebagai kepala pemerintahan di Kabupaten Aceh Utara. Kami terus berbenah dari hulu ke hilir di tengah kompleksitas permasalahan,” terangnya.

Kata Cek Mad, pada saat itu kita mencoba bangkit dengan melakukan konsolidasi birokrasi pemerintahan agar cepat terintegrasi sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat dilaksanakan secara maksimal. Langkah awal adalah segera memindahkan pusat Ibukota dan pusat pelayanan publik, yaitu ke Landing, ke Kantor Bupati dan gedung DPRK Aceh Utara yang baru.

Namun di luar prediksi, tiba-tiba muncul pandemi wabah Covid-19, sehingga terjadi pembatasan-pembatasan yang berimbas pula terhadap refocusing anggaran. Hal ini menyebabkan beberapa proyek strategis daerah harus tertunda.

Selain itu, Cek Mad juga melakukan reformasi birokrasi melalui perampingan beberapa dinas dan badan. Tentunya semua ini belum maksimal karena semua sedang berproses menuju kepada tatakelola pemerintahan yang lebih baik.

Pada kesempatan itu, Cek Mad  turut menyempaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik tokoh formal maupun tokoh informal, yang telah berkontribusi terhadap kemajuan Aceh Utara.

“Begitu juga kepada Abu-Abu pimpinan Dayah, Teungku, Waled dan seluruh Ulama yang selama ini terus mengawal saya dalam memimpin Aceh Utara agar tidak melenceng dari koridor yang telah ditetapkan Undang-Undang.  Saya tidak mampu mengkonversi rasa terimakasih atas dukungan dan support-nya selama ini, semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan dan rahmatNya kepada para ulama kita,” ungkap Cek Mad.

Ucapan terima kasih juga disampaikannya kepada jajaran birokrasi yang telah membantu tugas–tugas selama memimpin Aceh Utara. Juga kepada pejabat jajaran Forkopimda yang telah bekerjasama dengan baik serta membantu meringankan tugas-tugas bupati.

“Tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada insan pers yang selama ini mengawal dan mengkritisi saya agar saya tetap konsisten menjalankan visi misi saya sebagai Bupati Aceh Utara, terimakasih saya juga kepada adik-adik mahasiswa, aktivis LSM dan Ormas, yang secara elegan dalam memberi masukan dan kritikan agar saya tetap patuh dan tunduk pada Undang-Undang.”

Akhirnya hanya kepada Allah SWT jualah tempat kita menyerahkan segala kelemahan kita sebagai hamba yang penuh kekurangan ini. Semoga Allah memberi rahmat dan hidayahNya kepada kita sehingga kita terhindar dari segala marabahaya. Kita berdoa semoga Kabupaten Aceh Utara bisa bangkit kembali sebagaimana dulunya pernah mendapat gelar sebagai daerah ‘Petrodolar’ dengan hasil Migas yang dimiliki.

“Sekali lagi, di akhir masa jabatan saya, dengan segala kerendahan hati saya memohon maaf atas segala ketidaksempurnaan Saya sebagai manusia,” pungkas Cek Mad. [Advetorial]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.