MALIKUSSALEH merupakan kerajaan Islam pertama di Aceh menjadi icon peradaban masyarakat yang adil sejalan dengan konsep syariah. Kesultanan Malikussaleh, sering disebut kerajaan Samudera Pasai dibentuk oleh Meurah Silu sebagai raja Pasai pertama dengan gelar Sultan Malik Al Saleh (659-688 H /1261-1289 M). Kerajaan yang diwariskan Malikussaleh ini berakhir ketika Sultan Zainal Abidin Malikul Zahir (Sultan ke 16 sebagai sultan terakhir) setelah di serang oleh Portugis, kemudian ditawan di Malaka (918-930 H/1511-1523 M). Puteri sultan Malikussaleh menikah dengan Sultan Kerajaan Aceh ke-13 Sultan Alaidin Riayatsyah Al-Qahar. Atas penikahan ini Kesultanan Malikussaleh menyatukan diri dengan kerajaan Aceh Darussalam.

Disamping sebagai pusat dagang kekuatan Pasai disegani sebagai pusat pengembangan Islam di nusantara. Pengaruhnya dalam mensyiarkan Islam tak terbantahkan. Para sultan di kerajaan Samudera Pasai adalah pribadi yang taat pada perintah agama. Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai raja yang sangat shaleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin.

Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul Dhahir tidak pernah bersikap jemawa, tamak dan rakus pada harta. Ia menyatukan kerajaan Peureulak karena mencegah aggressor portugis dan tentu untuk mengekalkan ajaran Islam. Tak heran pada makamnya ditulis “cahaya dunia sinar agama”. http://www.partaiaceh.com/2012/02/dr-zaini-abdullah)

Universitas Malikussaleh didirikan dengan mengambil nama besar Raja Kerajaan Samudera Pasai pertama, yang dilandasi pada semangat estafet kepemimpinan dan pembangunan yang telah diletakkannya melalui sifat kepeloporan, kedinamisan, dan komitmen serta patriotisme Sultan Malikussaleh. Kerajaan Islam Samudera Pasai dalam sejarah tercatat sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara yang menjadi cikal bakal pusat pengembangan dan penyebaran agama Islam di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara, yang juga merupakan pusat Pendidikan Islam dan Ilmu Pengetahuan ternama yang mewariskan semangat pejuang bagi generasi penerusnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya sebagaimana tuntunan Islam, telah menghasilkan Syech (Guru Besar) serta berbagai ilmuan aplikatif lainnya. Kecemerlangan pemikiran mereka pada saat itu telah memberi dampak besar dengan terjadinya Era Kemakmuran dan Kejayaan (Welfare State) “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur” suatu Negeri Indah, Adil, dan Makmur yang diridhai Allah Subhana Wataala.

Sultan Malikussaleh bukan saja telah meletakkan fundamen dasar yang kokoh pada masanya, namun gaung dan kecendikiawannya mampu mewarnai watak serta spirit bangsa hingga saat ini. Hal tersebut membuktikan bahwa ulama yang kharismatis tersebut selalu dapat memancarkan energi positif meskipun jasatnya sudah kebali kepada Allah SWT. Kerajaan Samudera Pasai secara organisasi telah lenyap dan Malikussaleh juga telah wafat, namun semangat dan jiwa kepeloporan, kedinamisan, serta patriotismenya masih tetap terukir di sanubari dan menjadi spirit perjuangan bangsa. Sejarah yang menjiwai serta semangat untuk membangun peradaban yang menjadi tumpuan harapan bagi generasi penerus merupakan landasan utama bagi Universitas Malikussaleh dalam membangun sumber daya manusia. Anugerah terhadap sumber daya alam yang melimpah, merupakan peluang yang harus diambil oleh Universitas Malikussaleh agar mengelola dengan baik untuk kemakmuran bangsa dan Negara.

Universitas Malikussaleh hingga kini telah memiliki 7 fakultas, yaitu Ekonomi, Ilmu Sosial dan Politik, Teknik, Pertanian, Hukum, Kedokteran dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). FKIP merupakan fakultas yang sudah pernah ditutup kemudian dihidupkan kembali oleh Rektor Unimal Prof Apridar. Keputusan strategis tersebut diambil utamanya untuk melahirkan para pendidik professional yang menjadi penerus peradaban yang tidak boleh putus dimuka bumi ini.

Kondisi politik di Aceh dahulu yang kelam dikarenakan konflik berkepanjangan telah menimbulkan dampak yang serius dan mendalam terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat. Untuk mengembalikan harkat dan martabat masyarakat yang telah digilas oleh degradasi nilai-nilai sosial yang semakin memprihatinkan dan semakin menjauhkan dari suasana masyarakat madani (civil society), maka perlu upaya kongkrit dan komprehensif, agar tidak menimbulkan ancaman terhadap disintegrasi bangsa.

Untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat Aceh kepada Pemerintah Pusat yang berkesinambungan dalam suasana masyarakat madani, diperlukan tambahan lembaga pendidikan tinggi universitas negeri untuk dapat memper erat ikatan persaudaraan bangsa di Samudera Pasai khususnya. Upaya ini merupakan bagian dari proses penyelesaian konflik Aceh yang menyeluruh sebagai suatu kebijakan strategis politik, mengingat wilayah Samudera Pasai yang terdiri dari Kabupaten Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara yang sebahagian wilayahnya merupakan daerah pusat konflik paling bergolak. serta paling intensif menyuarakan prilaku ketidak adilan dalam pengeloloaan negara pemerintah pusat masa tersebut. Aceh yang memiliki deposit sumber daya alam yang melimpah seandainya mampu dikelola oleh putra putri Aceh tentu akan dapat meningkatkan kesejahteraan bersama. Untuk mempercepat peningkatan kualitas sumberdaya manusia Aceh, tambahan perguruan tinggi yang mumpuni menjadi suatu keharusan.

Dengan dinegerikannya Universitas Malikussaleh pada hari Sabtu Tanggal 8 September 2001 di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno Putri menjadi tonggak baru pembangunan peradaban sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia bagi Masyarakat Aceh, dengan harapan Allah SWT meridhai upaya kita bersama dalam mencerdaskan bangsa.

Universitas Malikussaleh yang disingkat dengan UNIMAL setiap menggali kebenaran dari berbagai riset yang dilakukan, tidak akan meninggalkan rujukan sunatullah (hukum alam) yang menjadi landasan dengan mengharapkan keberkahan dalam menggapai kesuksesan.

Peta jalan yang telah dirintis oleh Kesultanan Malikussaleh merupakan petunjuk nyata dalam membangun peradaban bangsa yang bermartabat. Moga Universitas Malikussaleh yang mengambil nama besar Kesultanan Islam pertama tersebut, selalu menjadi mesin produktif yang mampu melahirkan insan paripurna yang merupakan titisan dari aura pejuang kharismatik yang juga merupakan ulama besar Sultan Malikussaleh. [***]

Oleh : Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si
Rektor Unimal (Periode 2010-2014 dan 2014-2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *