Kota Lhokseumawe dulunya yang dikenal dengan nama Kota Petro Dolar, kini tampaknya hanya tinggal cerita.  Tentunya ini bukan saja dari sisi perputaran ekonomi masyarakat, usai kolaps sejumlah perusahaan proyek vital. Tapi juga tatanan kota yang terlihat tidak jauh berubah dan malah terkesan kian semraut.

Salah satunya menyangkut pengelolaan sampah dan keindahan Kota Lhokseumawe. Terlihat tumpukan sampah berserakan di sejumlah lokasi kota, tanpa ada kontainer pembuangan sampah.  Ini belum lagi semrautnya pedagang serta parkir yang terkesan tidak dikelola dengan baik.

Tumpukan sampah di jalur masuk Kota Lhokseumawe. [layarberita/Yasir]

Tumpukan sampah sangat mudah terlihat di sejumlah lokasi di Kecamatan Banda sakti, Kota Lhokseumawe. Kondisi ini membuat pandangan mata tidak nyaman dan merusak keindahan kota.  Selain itu juga menyebar aroma bau yang tidak sedap. Meski sejumlah lokasi yang menjadi ‘tong sampah’ ilegal nantinya sampah diangkut oleh armada kebersihan.

Melihat kondisi ini, mungkin pendatang atau tamu yang masuk ke Kota Lhokseumawe mempertanyakan luas wilayah Pemko Lhokseumawe.  Sehingga sangat sulit pimpinan daerah mengatasi permasalahan sampah di kota kecil ini.  Padahal sebelumnya Kota Lhokseumawe pernah meraih Adipura Kota Kecil di bidang kebersihan.

Ditinjau luas wilayah, Kota Lhokseumawe yang dipimpin oleh seorang walikota, merupakan salah satu daerah tingkat dua di Provinsi Aceh, dan memiliki luas wilayah 181,06 Km² yang dibagi dalam 4 kecamatan yaitu Kecamatan Blang Mangat, Muara Dua, Muara satu dan Banda Sakti dengan jumlah sebanyak 68 desa.

Jika dipersempit lagi, luas Kecamatan Banda sakti yang menjadi ibukota Lhokseumawe, hanya sekitar 11,24 Km². Tentunya dengan luas daerah dan jumlah penduduk di Kota Lhokseumawe, belum terlalu sulit untuk mengelola sampah dengan baik.  Syaratnya hanya satu, yakni kemauan dari pimpinan daerah dan kesadaran masyarakat tentunya.

Kembali ke permasalahan tumpukan sampah yang kerap menyebar aroma busuk.  Kondisi ini dapat kita lihat dihampir setiap sudut Kota Lhokseumawe, bahkan seakan mengepung Kota Lhokseumawe.  Tumpukan sampah tanpa tempat pembuangan, dapat kita lihat mulai dari pintu masuk kota, tepatnya setelah jembatan Cunda, hingga arah jalan keluar di Mon Geudong.

Sampah yang dibuang masyarakat ini memang diangkut oleh armada dinas kebersihan.  Tapi sebelum diangkat, sampah yang berserakan itu sangat rentan dihempas angin atau menyebarkan bau busuk.  Apalagi terkadang kerap hewan ternak bebas berkeliaran dan mengerubungi tumpukan sampah.

Seharusnya kondisi atau pemnadangan seperti ini tidak terjadi, jika para pengambil kebijakan mau bekerja ekstra untuk mengatasi permasalahan sampah.  Minimal dengan menempatkan kontainer, atau menempatkan petugas di lokasi yang kerap dijadikan ‘tong sampah’ ilegal oleh masyarakat. [red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *