LayarBerita, Aceh Tengah – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan berkapasitas 88 Mega Watt yang mulai dikerjakan sejak tahun 1998 dengan anggaran investasi sekitar Rp 5 triliun, ditargetkan rampung pada 2023. Pembangunan PLTA Peusangan Power House 1 berada di Desa Remeson, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Saat kunjungan ke lokasi pembangunan PLTA bersama dengan PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Aceh, Selasa (6/4/2021).  Sejumlah jurnalis dapat melihat langsung proses pengerjaan PLTA yang nantinya akan menjadi sumber listrik yang akan menerangi Aceh.

Menuju lokasi pembangunan rombongan harus memasuki terowongan yang telah di cor dan diberikan pondasi besi yang memiliki panjang sekitar 1 kilometer.  Romobongan menggunakan kendaraan roda empat menuju kedalaman yang mencapai 120 meter dari atas permukaan jalan.

Pada kedalaman 120 meter, terlihat para pekerja sedang melakukan pembangunan pondasi turbin dan sejumlah terowongan saluran air, yang nantinya digunakan untuk mengaliri air dari danau Lut Tawar, Takengon, yang nantinya akan digunakan untuk pembangkit listrik.

General Manager PT. PLN Unit Induk Wilayah Aceh, Abdul Mukhlis mengatakan, proyek PLTA Peusangan yang berkapasitas 88 Mega Watt berada di dua lokasi, untuk Power House 2 ditargetkan akan rampung pada tahun 2022 dan Power House 1 pada tahun 2023, dan siap beroperasi pada 2023, pada saat ini progres pembangunan tersebut sudah mencapai 85%.

“Insya Allah jika tidak ada kendala teknis PLTA Peusangan akan siap beroperasi pada 2023. Sebelumnya ada beberapa kendala, yakni kondisi geologi dan bencana alam seperti gempa dan tanah longsor bahkan konflik yang pernah terjadi di Aceh.  Pada tahun 2011 proyek ini kembali dilanjutkan agar cepat selesai,” ucapnya.

General Manager PT. PLN Unit Induk Wilayah Aceh, Abdul Mukhlis

Sambungnya, biaya operasional PLTA itu sangat murah sekali, namun biaya pembangunannya yang sangat mahal dan butuh waktu sedikit lama.

“Anggaran pembangunan PLTA Peusangan, dihasilkan dari investasi luar negeri yaitu sekitar 83 persen dan selebihnya dari dalam negeri.  Seperti investasi pinjaman dari Jepang, dan sebagain dari lokal sini. Jika PLTA sudah beroperasi maka kapasitas listrik akan bertambah dan ini bisa meningkatkan ekonomi di Aceh,” terangnya. [Reza]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *