LayarBerita, Aceh Utara – Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Utara merendam ribuan hektar areal sawah, termasuk di Kecamatan Lhoksukon.  Namun ada sejumlah areal sawah yang sudah siap panen sehingga tidak berdampak pada kerugian bagi petani.  Namun lain halnya bagi sebagian besar petani yang berada di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Dampak banjir yang melanda sejumlah areal sawah di Kecamatan Lhoksukon, membuat tanaman padi warga terancam puso.  Bahkan warga memperkirakan, areal padi mereka tidak akan dapat dipanen dengan sempurna.  Hal ini akibat banjir yang merendam areal padi selama 5 hari ini disertai lumpur yang melekat pada batang padi milik mereka.

Petani terpaksa menuai padi milik mereka di tengah rendaman banjir, dikahwatirkan terjadi banjir susulan. [layarberita/Yasir]

“Kalau kita lihat kondisinya, dapat kita katakan padi milik kami tidak bisa dipanen.  Padahal sesuai jadwal, dalam beberapa hari ke depan sudah bisa di panen,” ucap Daud, warga Meunasah Meunye, Matang Ubi, Lhoksukon, Aceh Utara, Kamis (6/1/2022).

Sambungnya, hingga saat ini sejumlah areal sawah mereka masih saja terendam banjir.  Kalau pun nanti kering, padi akan mati karena sudah terendam lama dan bercampur lumpur. Terlebih kondisi cuaca terus mendung dan masih di guyur hujan.

“Kalau kita lihat, tidak ada sepertiga padi yang bisa dipanen.  Tentu kali ini kami rugi karena dampak banjir yang melanda di awal tahun 2022 ini,” sambungnya seraya memperlihatkan kondisi padi miliknya.

Menurutnya, dampak banjir yang terjadi tidak lain karena kondisi tanggul pengaman sungai yang tidak baik serta curah hujan yang sangat tinggi pada akhir tahun 2021.  Kondisi ini akan terus berulang setiap tahunnya jika pemerintah tidak membangun tanggul pengaman sungai dengan baik.

“Kita butuh perhatian pemerintah untuk membangun tanggul sungai dengan baik.  Sehingga kami tidak terus merugi setiap tahunnya karena banjir kiriman atau luapan sungai,” ujarnya.

Hal senada juga diungkap oleh Jafar, dirinya mengaku sekitar 1 hektar areal padinya akan gagal panen.  Padahal sekitar seminggu lagi, areal padi miliknya sudah bisa di panen.  “Serasa mimpi rasanya, padahal harapan Kami sudah bisa panen Minggu besok.  Tapi apa dikata, banjir datang merendam semua areal padi masyarakat disini,” terang Jafar.

Ditanya berapa rata-rata setiap satu hektar areal padi didapat oleh petani?  warga ini mengatakan sekitar Rp60 juta.  “Kami sudah membayangkan akan punya uang untuk membiayai kebutuhan keluarga dengan sudah masuk masa panen.  Tapi lantaran banjir, kami telah rugi karena padi tidak bisa dipanen dan terancam puso,” ungkapnya.

Menurut warga, hamparan areal sawah di sekitar lokasi padi milik mereka sekitar ratusan hektar.  Luas areal sawah tersebut terdiri dari 5 desa sekitar yang masuk ke Kecamatan Lhoksukon.  [red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *