LayarBerita, Lhokseumawe – Dua terdakwa kasus jarimah zina di Kota Lhokseumawe, yakni J alias SB (27 tahun), laki-laki, dan W alias Y (28 tahun), wanita, dikenakan hukuman uqubat hudud cambuk.
Prosesi pelaksanaan uqubat hudud cambuk itu berlangsung di Stadion Tunas Bangsa, Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Jumat (5/2/2021) siang, pukul 14.30 WIB.

Pelaksaan hukuman cambuk terhadap kedua terdakwa yang berdomisili di salah satu desa di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, berdasarkan surat perintah Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lhokseumawe, Nomor: Print-31/L.1.12/Eku.3/01/2021 tanggal 11 Januari 2021, atas putusan Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe, Nomor: 9/JN/2020/MS-Lsm tanggal 28 Desember 2020.

Dalam amar putusan Mahkamah Syariah, keduanya melanggar Pasal 33 Ayat 1 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, dengan hukuman uqubat hudud cambuk masing-masing sebanyak 100 kali.

Kajari Lhokseumawe, Dr. Mukhlis, SH, MH usai prosesi hukuman cambuk mengatakan, penerapan hukuman cambuk sebagai peringatan dan juga pembelajaran kepada masyarakat agar tidak melanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, baik itu judi (maisir), konsumsi minuman keras (khamar) dan perzinahan.

“Penerapan hukuman cambuk bagi yang melanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat tetap dilaksanakan, meskipun di tengah pandemi Covid-19. Jadi pandemi Covid-19 bukan menjadi penghalang untuk dilaksanakan hukuman cambuk. Tentunya, pelaksanaannya tetap mengedepankan aturan protokol kesehatan yang berlaku,” ujar Kajari.

Dijelaskan Kajari, terdakwa jarimah zina tersebut, si laki-laki berstatus lajang. Sementara si wanita sudah memiliki suami.

Pantauan LayarBerita.com, saat menjalani proses hukuman cambuk, kedua terdakwa sempat beberapa kali mengangkat tangan, tanda meminta untuk dihentikan sementara karena tidak kuat menahan sakit yang mendera.

Namun setelah petugas medis memeriksa kondisi fisik keduanya dalam keadaan sehat, dan keduanya menyatakan masih sanggup, prosesi hukuman cambung dilanjutkan hingga hitungan selesai. (BIM/reza)

1 Komentar

  1. Pertanyaan
    1. Apakah dengan adanya hukum cambuk membuat masyarakat menjadi jera dan peristiwa tersebut dijadikan pengalaman?
    2. Kenapa Masyarakat masih ada saja melakukan hal hal yg sudah ditentukan dalam qanun atau istilahnya melanggar syariah di sini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *