LayarBerit, Bandung – Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran mengggelar Kongres Indonesianis Sedunia (KIS) secara virtual dari Museum Konferensi Asia-Afrika, Rabu-Kamis (1-2/12/2021).

Kongres dengan tema “Indonesia’s Post COVID Recovery: Grow Stronger and More Resilient” dihadiri oleh 250 peserta, dan dibuka oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi.

Kongres yang digelar untuk ketiga kalinya ini merupakan inisiatif Kemlu yang melibatkan Indonesianis dari seluruh dunia untuk saling bertukar gagasan, pandangan, dan pemikiran untuk kemajuan Indonesia sekaligus memperkaya pemahaman dan perspektif Indonesianis tentang Indonesia.

Dalam sambutannya, Menlu menekankan pentingnya kerja sama, kesetaraan akses kesehatan, serta transformasi digital dalam pemulihan nasional.

Dalam mewujudkan visi utama Indonesia 2045, terdapat 4 (agenda) yang telah ditetapkan yakni melalui peningkatan dan ketahanan kesehatan, green and sustainable economy, transisi energi, dan transisi digital, sebut Menlu.

Sementara Plt. Kepala BSKLN berharap Kongres Indonesianis ini dapat meningkatkan persahabatan dan kerja sama yang kuat serta menarik minat yang lebih besar bagi para Indonesianis untuk menghadirkan generasi baru.”

Pada sesi panel, terdapat masukan, aspirasi, dan concern yang sangat berarti yang dapat menjadi masukan dalam menyusun strategi kebijakan yang adaptif dan membantu Indonesia dalam mencapai sasaran pembangunan, serta upaya percepatan pemulihan dan penguatan ketahanan/resilience terhadap pandemi.

Masukan tersebut meliputi:​

  • Implementasi transformasi ekonomi strategis untuk dapat menjadi high income country sebelum 2045, di antaranya adalah dengan transformasi digital dan ekonomi hijau.
  • Pengembangan sektor digital, seperti perdagangan, pendidikan, dan kesehatan. Infrastruktur digital Indonesia perlu diperkuat untuk mendukung transformasi digital.
  • Perluasan akses digital UMKM yang memiliki porsi yang sangat besar dalam perekonomian Indonesia.
  • Penguatan dan pembangunan kepercayaan di ranah diplomasi digital dan pemanfaatan diplomasi digital dalam menghadapi isu global.
  • Promosi kerja sama regional/internasional untuk mendorong pendekatan yang komprehensif dan multisektoral dalam memperkuat resiliensi global di tengah ancaman pandemi.

Prof. Bambang Permadi Soematri Brodjonegoro pada sesi panel menekankan bahwa Indonesia perlu segera menerapkan transformasi ekonomi strategis untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi sebelum tahun 2045 dengan berfokus pada transformasi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi sirkular.

Pada hari kedua, para Indonesianis menyampaikan sejumlah ide dan gagasannya dalam bentuk presentasi paper yang disampaikan oleh beberapa Indonesianis dari Australia, Bangladesh, Tiongkok, Mesir, Kazakhstan, Madagaskar, Moldova, Senegal, dan Tanzania. Presentasi tersebut menyoroti beberapa isu seputar perkembangan kebijakan kesehatan di Indonesia, pengembangan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, serta bagaimana menjaga nilai-nilai budaya Indonesia di era digital. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *