Pertanyaan mendasar adalah, Cukupkah hanya  sebatas Slogan:  Saya Pancasila!
Pancasila menjadi ideologi dan jiwa serta kepribadian bangsa Indonesia. Sebagai Ideologi, nilai-nilai Pancasila merupakan pedoman dan pegangan dalam pembangunan bangsa dan negara, agar tetap berdiri kokoh dan mengetahui arah dalam memecahkan berbagai masalah.
Sementara, sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, nilai-nilai Pancasila mencerminkan garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa. Pada saat ini di tengah derasnya arus globalisasi dan semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi, Pancasila dihadapkan pada tantangan dengan banyaknya persoalan yang mendera bangsa Indonesia.
Era globalisasi menjadikan dunia ibarat sebuah komunitas global yang hidup dan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, tanpa memandang apakah negara tersebut maju atau berkembang. Maka, globalisasi menjadi sebuah keniscayaan waktu yang mau tidak mau harus dihadapi oleh setiap negara manapun dibelahan bumi ini, tidak terkecuali oleh bangsa Indonesia. Ia mampu memberikan paksaan kepada setiap negara untuk membuka diri dalam segala bidang kehidupan.
Di era globalisasi, setiap negara dituntut untuk selalu lebih maju mengikuti setiap perkembangan demi perkembangan, yang terkadang jauh dari sebuah keteraturan. Pihak yang diuntungkan dalam situasi tersebut, tentunya adalah negara-negara maju yang memiliki tingkat kemapanan dan kemampuan yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang.
Sebenarnya dalam konteks globalisasi saat ini, Pancasila bersifat dinamis yang memungkinkannya dapat dengan baik mengikuti perkembangan zaman. Pancasila juga memiliki keterbukaan dalam menerima unsur budaya asing sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.
Justru dengan masuknya budaya dan nilai-nilai asing akan membuat Pancasila semakin teruji. Hal ini sangat mungkin dengan melihat kenyataan bahwa suatu budaya atau nilai akan teruji kevalidannya kalau tahan terhadap nilai-nilai yang lain. Nilai yang tahan uji niscaya akan tetap hidup dan bertahan. Dalam konteks inilah, Pancasila akan menunjukkan jati dirinya.
Perjumpaan Pancasila dengan globalisasi akan menghasilkan masyarakat lokal yang berpikir global dan bertindak lokal. Selain itu, perkawinan antara keduanya akan mendamaikan globalitas dan lokalitas. Dalam konteks seperti ini, Pancasila tidak sekadar menyediakan nilai bagi masyarakat Indonesia sendiri, tetapi juga bagi masyarakat internasional.
Ciri keindonesiaan yang kental dengan semangat ke-Tuhanan, pluralitas keagamaan, kemanusiaan, persatuan yang tinggi, dan demokrasi akan semakin kental. Kenyataan seperti ini tentu dapat mengharumkan negara Indonesia di mata dunia. Akan tetapi, dibalik peranan era globalisasi yang memberikan pengaruh positif, namun tak jarang juga pengaruh negatif.
Globalisasi telah memberikan tantangan baru yang mau tidak mau harus di hadapi dan disikapi oleh semua elemen masyarakat. Era keterbukaan sudah mulai mengakar kuat di era globalisasi seperti sekarang ini, sehingga identitas nasional adalah salah satu bagian mutlak yang harus dipegang agar tidak hilang dan terbawa arus globalisasi.
Tidak adanya filter terhadap pengaruh budaya asing menyebabkan terkikisnya nilai-nilai Pancasila dan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Adanya upaya-upaya untuk menyelewengkan atau mengganti ideologi Pancasila, menjadi salah satu ancaman bagi bangsa Indonesia. Pancasila seakan terlupakan sebagai sebuah dasar negara dan ideologi nasional yang seharusnya dijunjung tinggi oleh semua masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya tindakan dan perilaku masyarakat Indonesia yang jauh dari nilai-nilai yang mencerminkan Pancasila.
Dampak globalisasi yang tidak mencerminkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia terlihat pada perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin modern dan konsumtif, pudarnya nilai-nilai gotong royong, munculnya sikap individualisme, dan terbentuknya sikap materialistis serta sekularisme.
Padahal, Pancasila memiliki nilai-nilai dasar yang bersifat universal dan merangkum semua. Pancasila juga memiliki nilai praksis, karena begitulah ideal sebuah nilai. Artinya, cara hidup dan pandangan hidup masyarakat dapat menunjukkan suatu penghayatan atas nilai-nilai Pancasila. Nilai praksis akan nyata dalam realitas hidup sehari-hari. Karena itu, nilai-nilai Pancasila hanya akan hidup kalau sudah menjelma dalam praktik hidup yang nyata.
Dampak Negatif Globalisasi

Pages 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *