LayarBerita, MEDAN-Hanya segelintir orang yang berani melawan saat Olo Pangabean masih hidup. Bahkan pemerintah pun seperti mati kutu ditangan orang kuat itu. Tapi tidak bagi seorang Sutanto mantan Kapolri tahun 2005. Sikap tegas sang jenderal itu terhadap bisnis judi Olo tidak main-main. Maraknya kegiatan haram itu di Medan membuat Sutanto gerah.

Pada pertengahan 2000, saat masih menjabat Kapolda Sumut, Sutanto memanggil Olo, tapi panggilan itu dianggap remeh temeh oleh si raja Togel. Olo hanya mengirimkan seorang wakilnya. Kejadian itu membuat emosi sang Kapolda memuncak, aktivitas judi ditekan. Omset bisnis Olo pun menurun.

Dendam kesumat Sutanto tidak berhenti disitu, lima tahun kemudian saat Sutanto menjabat sebagai Kapolri. Bisnis judi IPK dan Olo Pengabean pun diberantas habis-habisan. Cukup tiga tahun bagi Sutanto membuat Olo menyerah tidak lagi membangun bisnis haram itu.

Sejak itu Olo mulai meninggalkan bisnis itu dan beralih ke usaha legal, membangun POM Bensin, perusahaan bus antar daerah dan banyak usaha legal lainnya. Sampai sekarang usaha-usaha itu masih berjalan dengan baik.

Mulai saat itu pula, popularitas Olo mulai meredup. Sosok yang sangat disegani di kalangan preman itupun tidak segarang dulu. Tetapi organisasi yang didirikannya tetap eksis dan bertaji, apalagi saat berhadapan masalah memperebutkan lahan bisnis dengan OKP Pemuda Pancasila. Perselisihan kedua kelompok pemuda itu acap terjadi dan sering memakan korban jiwa.

Kondisi itu sudah menjadi rahasia umum di Medan dan sekitarnya. Kebengisan IPK dan Pemuda Pancasila masih menjadi momok menakutkan bagi kaum lemah di kota itu. aparat kepolisianpun dibuat seakan tak Kebengisan IPK dan Pemuda Pancasila masih menjadi momok menakutkan bagi kaum lemah di kota itu. aparat kepolisianpun dibuat seakan tak berdaya. Mungkin hanya Sutanto yang berani.[]

Editor : M Jamil