[Opini : Redaksi]

Operasi Yustisi saat ini sangat masif dilakukan oleh tim gabungan dari aparat keamanan di sejumlah daerah di Provinsi Aceh.  Bahkan kini telah terbentuk ‘Tim Peucroek’ yang dalam arti bahasa Aceh adalah ‘Tim Kejar’.  Hal ini tentunya dikhususkan kepada masyarakat yang melanggar protokol kesehatan, terutama yang tidak menggunakan masker.

Operasi Yustisi dan hadirnya Tim Peucroek juga terlihat di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aeh Utara.  Petugas gabungan ini hampir setiap hari melakukan razia, baik dengan razia di jalan, maupun mendatangi sejumlah tempat keramaian.  Terlihat tim nyaris hampir setiap malam berhenti dan singgah di sejumlah warung kopi dan cafe yang ada di Kota Lhokseumawe.

Para petugas melakukan pemantauan warga yang tidak patuh terhadap aturan protokol kesehatan Covid-19.  Bagi yang melanggar, akan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan kepala daerah masing-masing dan dilakukan pencatatan nama oleh petugas. Serta bagi pengusaha warung yang melanggar, juga mendapat sebentuk ‘ancaman’ terhadap izin usahanya.

Upaya ini tentu sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, dimana kian hari kasus terkonfirmasi positif terus bertambah di Provinsi Aceh dan sejumlah kabupaten/kota lainnya.  Untuk itu tentunya upaya operasi yustisi harus didukung oleh segenap elemen masyarakat.

Apalagi operasi yustisi ini bukan hanya digelar di Aceh tentunya, tapi semua wilayah di Indonesia. Bahkan operasi yustisi ini sudah berjalan hampir 2 pekan, baik dengan razia di tempat keramaian maupun razia yang dilakukan jalan.  Tapi, masih ada saja warga yang terjaring razia dan dikenakan sanksi dan hukuman, baik denda maupun sanksi sosial

Pertanyaannya, kenapa masih ada saja warga yang terjaring razia karena tak menggunakan masker saat berada di luar rumah? apakah lantaran abai, lupa atau memang belum terbiasa dengan kehidupan normal baru di tengah pandemi saat ini, atau bahkan masih ada warga yang tidak percaya akan virus tersebut? Padahal jelas, virus ini telah meluluh lantakkan peradaban manusia di semua belahan dunia.

Jika mungkin masih ada warga yang kurang yakin dengan adanya Covid-19, tentu juga tidak boleh langsung disalahkan.  Hal ini dikarenakan realita yang dirasakan dan dilihat langsung oleh masyarakat itu sendiri. Ditambah informasi yang tidak sampai atau bahkan informasi ‘sesat’ yang didapatkan dari sejumlah info, baik melalui media sosial maupun internet di tengah derasnya ‘limbah’ informasi saat ini.

Kurang percayanya masyarakat terhadap kondisi pandemi Covid-19 saat ini tentu bisa dimaklumi, mengingat sejauh ini masyarakat terkesan tidak mengetahui jika pasien terpapar Covid-19 terus terjadi di daerahnya. Seperti halnya Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, dalam 2 bulan terakhir, masyarakat hampir tidak pernah mendengar atau mengetahui ada tim Satgas Covid-19 yang berbicara tentang kondisi bertambahnya pasien terkonfirmasi setiap harinya di media massa.

Tertutupnya informasi ini tentu dirasakan oleh para jurnalis di kedua daerah tersebut.   Update tentang perkembangan kasus tidak pernah dilakukan oleh tim Satgas Covid-19 melalui juru bicaranya.  Kecuali ada informasi yang didapatkan oleh jurnalis sendiri dan lalu dilakukan cross cek kepada tim Satgas.

Seolah tidak ada penambahan kasus setiap harinya di daerah tersebut, setidaknya ada kabar gembira yang disampaikan oleh juru bicara, seperti jumlah pasien sembuh ataupun upaya penyembuhan yang dilakukan oleh tim medis dan si pasien sendiri.  Sebab hal ini dapat memotivasi masyarakat untuk terus menjaga dan menerapkan protokol kesehatan.

Padahal riilnya, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, sudah banyak warga yang terpapar di kedua daerah ini.  Bahan pernah seharinya, jumlah pasien positif menapai 5 orang lebih.  Namun hal ini tida pernah dietahui, mengingat informasi dari yang berwenang sangat tertutup, termasuk bagi insane pers.

Tentunya harapan Kita bersama, Operasi Yustisi dapat berlangsung maksimal sehingga dapat memutus rantai penyebaran Covid di Aceh khususnya dan umumnya di Indonesia.  Selain itu juga adanya transparansi dari tim Satgas Penanganan Covid di daerah, agar menumbuhkan kepercayaan masyarakat, yang nantinya mendorong dan memotivasi masyarakat untuk patuh dan disiplin menerapkan protokol kesehatan di dalam tatanan kehidupan baru. [redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *