LayarBerita, Jakarta – Badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, memuji Pemerintah Indonesia atas izin pendaratan darurat yang diberikan kepada hampir 100 orang yang telah beberapa hari terombang ambing di perairan Indonesia.

Dari 99  orang yang diselamatkan di daratan Aceh Utara, oleh  penduduk setempat, diantaranya adalah 48 wanita, 34 anak–anak dan 17 pria dewasa. Sebagian besar dari mereka diduga adalah pengungsi  Rohingya dan telah berada di laut dalam kondisi berbaya selama beberapa bulan.

“Penyelamatan  jiwa  harus selalu  menjadi  prioritas  utama. Kami  memuji pihak  otoritas  di Indonesia  yang telah mengijinkan  kelompok  pria,  wanita  dan anak – anak yang rentan ini untuk  mendapatkan keselamatan,” ucap Ann Maymann, Kepala Perwakilan UNHCR di Indonesia.

“Indonesia telah beberapa kali mengambil tindakan yang patut dijadikan contoh oleh negara lainnya di kawasan ini, setelah memberikan bantuan kemanusiaan/ penyelamatan jiwa bagi orang – orang Rohingya di kapal di Aceh pada tahun 2015 dan 2018. Kami sangat bersyukur untuk melihat semangat kemanusiaan yang sama saat ini.”

Fasilitasi dalam pendaratan darurat bagi kapal yang berada dalam kesulitan dan bantuan penyelamatan jiwa adalah tindakan  kemanusiaan yang sangat penting untuk dilakukan. Disamping itu, kondisi penerimaan yang aman dan manusiawi, yang disertai akses perlindungan internasional, termasuk prosedur suaka, adalah hal yang sangat krusial.

Sebagai  akibat  dari  pandemi  COVID-19,  negara– negara membatasi  pergerakan antar perbatasan sebagai bagian dari upaya menjaga   kesehatan publik, untuk mencegah penyebaran virus. Namun, melalui cara–cara mitigasi seperti karantina dan pemeriksaan kesehatan, pembatasan di area perbatasan dapat diatur dengan cara–cara tertentu yang tetap memperhitungkan hak asasi manusia dan   standar perlindungan pengungsi internasional, termasuk prinsip non-refoulement.

UNHCR siap untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam menyediakan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan dan cara–cara karantinayang baik dalam hari–hari ke depan, sesuai dengan standar internasional dan protokol kesehatan publik.

Fakta bahwa kelompok rentan yang terdiri dari wanita, pria dan anak – anak tetap menempuh perjalanan  beresiko  tinggi  di  Teluk  Benggala  dan  Laut Andaman,  menunjukkan  betapa pentingnya bagi negara – negara untuk berkerja sama demi mencapai solusi regional dalam mengatasi perpindahan maritim yang tidak teratur.

UNHCR menekankan imbauannya terhadap negara–negara di kawasan ini untuk bersatu padu dalam basis prinsip solidaritas dan pemerataan  tanggung jawab dalam mengatasi masalah terkait perlindungan dan kebutuhan kemanusiaan pengungsi dan pencari suaka di laut. [rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *