LayarBerita, Lhokseumawe –  Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe berhasil menangkap pelaku pengedar uang palsu (Upal). Bahkan telah menangkap 2 orang pelaku yang berstatus pelajar serta sejumlah barang bukti Upal.  Selain itu polisi masih mengejar seorang pelaku yang merupakan warga Pante Bidari, Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Menurut Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan, pengungkapan kasus peredaran uang palsu dilakukan sejak adanya laporan dari seorang pedagang,  berdasarkan laporan tersebut, diturunkan tim untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus peeredaran uang palsu tersebut.

“Kita berhasil menangkap 2 orang tersangka, yakni RD (17) siswa, warga Pante Panah, Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur dan MS (19) siswa warga Matang Keutapang, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.  Keduanya telah melakukan penukaran uang palsu dengan cara membelanjakan di kios-kios dan BBM eceran,” terang AKBP Ari Lasta yang didampingi Kasat Reskrim, AKP Indra T Herlambang dalam konferensi pers, Selasa (25/2/2020) di Mapolres Lhokseumawe.

[foto/Fazir]

Dari keterangan tersangka, sambung Ari Lasta, mereka mendapatkan uang palsu dari (30), warga Pante Panah, Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur.  Kini tersangka masih buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Lanjut Kapolres Lhokseumawe, tersangka RD mendapatkan uang palsu pecahan Rp 20 ribu dari tersangka IB (DPO).  Lemudian mengajak tersangka MS untuk membelanjakan uang palsu tesebut dengan tujuan mendapatkan kembalian uang asli sebagai keuntungan.

“Keuntungan tersebut dijanjikan oleh IB (DPO) akan dibagikan hasilnya dari pembelanjaan menggunakan uang palsu tersebut,” ucap Ari Lasta.

Sementara itu, setelah RD mengambil uang palsu di rumah IB, tersangka yang masih berstatus pelajar ini kemudian membelanjakan uang palsu tersebut di kios-kios.  Yakni dengan cara membeli makanan, minuman, BBM eceran, sehingga mendapatkan kembalian dari hasil pembelian menggunakan uang palsu tersebut.

Sedangkan peran tersangka MS adalah membawa kendaraan sepeda motor dan menerima perintah dari RD untuk berhenti di kios-kios yang akan dilakukan pembelian yang memakai uang palsu.

Adapun  barang bukti yang diamankan, satu tas sandang merk polo warna coklat, 55 lembar uang pecahan Rp 20 ribu yang diduga uang palsu, 20 lembar uang pecahan Rp 10 ribu asli yang diduga hasil pengembalian, 57 lembar uang pecahan Rp 5.000, asli hasil pengembalian, 15 lembar uang pecahan Rp 2.000,- asli hasil pengembalian, 5 lembar uang pecahan Rp 5.000,- asli hasil kembalian. Serta 1 unit sepeda motor Honda Vario warna merah Nopol : BL 6384 DAV.

Tersangka dijerat dengan Pasal 36 Ayat (3) Jo pasal 26 ayat (3) UU RI NO 7 tahun 2020 tentang Mata Uang, Subs UU RI no 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Subsider Pasal 55 KUHPidana.

“Adapun ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 50 miliar,” terang Kapolres Lhokseumawe.

Pada kesempatan tersebut, Kasat Reskrim juga menjabarkan terkait perbedaan antara uang asli dan uang palsu.  Dimana uang asli terdapat pita pengamannya sedangkan uang palsu tidak ada pita pengaman. Selain itu, kedua uang tersebut dapat dibedakan tembus pandang, yang membedakannya uang palsu tidak bisa tembus pandang.

Kedua tersangka diketahui telah berulang kali berbelanja ke wilayah Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, dengan membeli barang yang harganya rendah untuk mendapatkan kembalian uang pecahan asli. [zir]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *