LayarBerita, Aceh Utara –  Pagi Sabtu lalu, Saya bersama 8 teman lainnya berkumpul di Qbo Coffee, yakni sebuah warung kopi yang ada di Kota Lhokseumawe.  Warung yang baru sekitar setahun dibuka ini juga menjadi tempat mangkalnya sejumlah jurnalis di Kota Lhokseumawe.

Di tempat itu, Kami sepakat untuk pergi ke suatu lokasi situs yang tentunya paling bersejarah, untuk Aceh maupun Indonesia.  Sebab lokasi yang akan kami tuju adalah Makam Cut Mutia, yang merupakan salah seorang pejuang wanita dari Aceh yang telah diangkat menjadi pahlawan nasional oleh Negara melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 1964.

Saat tiba di warung tersebut, Saya melihat beberapa teman telah berada di sana.  Disamping mereka terlihat bungkusan dan ransel besar, yang tentunya berisi sejumlah peralatan untuk kebutuhan perjalanan menuju lokasi makam.

Tidak lama berselang, sebuah mobil double cabin bewarna coklat tiba dilokasi warung yang telah kami sepakati.  Dibelakang mobil terlihat sejumlah peralatan, dan ransel besar sudah tertata rapi.  Peralatan ini sejak satu minggu sebelumnya telah dipersiapkan dan didata kebutuhannya. Agar dalam perjalanan dan setibanya dilokasi, kami tidak lagi kelimpungan mencari kebutuhan yang diperlukan.

Hal ini memang perlu dipersiapkan dengan matang, sebab perjalanan menuju lokasi makam, menghabiskan waktu seharian.  Karena lokasi makam tidak dapat ditempuh dengan mobil, hal ini karena kondisi jalan yang belum memadai.  Untuk itulah kami harus mempersiapkan segala hal untuk kebutuhan selama dalam perjalanan dan saat menginap nantinya di sekitar makam.

Hanya menunggu sekitar 30 menit, Kami sepakat berangkat agar tidak malam dalam perjalanan nanti.  Apalagi kami juga telah menghabiskan segelas kopi pagi dan sarapan.

“Ayo kita bergerak,” ujar Andree kepada kami yang masih duduk dihadapan gelas kopi yang sudah kosong.

Saya memilih duduk di kabin kedua mobil, sementara mobil di sopiri oleh Ricky sedangkan 3 orang yang lebih muda memilih duduk di bak belakang mobil.  Setelah memastikan semua peralatan tak ada yang tertinggal, Ricky langsung menginjak pedal gas melaju ke arah Timur Kota Lhokseumawe.

Baru sekitar 25 menit perjalanan mobil berhenti, ternyata ada seorang teman lagi yang juga ikut dan menunggu di jalan.  Setelah itu mobil kembali berjalan menuju arah Kota Lhoksukon yang berjarak sekitar 35 kilo meter dari arah Kota Lhokseumawe.

Untuk mencapai lokasi makam Cut Mutia, Kami tidak melalui jalur Kecamatan Pirak Timu atau dari Gampong Alue Rime.  Tapi kami akan menempuh jalur melalui Kecamatan Cot Girek yang menurut informasi lebih cepat dan tidak harus menempuh perjalanan berat dari Pirak Timu.

Ada dua jalur akses menuju ke lokasi makam Cut Meutia, jika dari pusat Kecamatan Pirak Timu membutuhkan jarak sekitar 22 Kilometer, namun jalur tersebut tidak mampu dilalui dengan mobil.  Karena harus melewati sungai dan perbukitan yang terjal.  Sedangkan dari Kecamatan Cot Girek, jarak tempuh juga tidak kurang dari Pirak Timu, namun kita bisa menempuh jalur jalan berbatuan dengan menggunakan mobil yang punya handle hingga desa terakhir, yakni Bate Uleu.

Melewati terminal Lhoksukon, mobil terlihat berbelok ke kanan memasuki arah Kecamatan Cot Girek.  Mencapai ibukota kecamatan, hanya dibutukan sekitar 20 menit, sebab jalan mulus dan beraspal.  Tiba di Cot Girek, tim kami bertemu seorang teman dan kami dipaksa turun untuk sekedar ngopi sebentar.

Menghargai teman, tentu kami semua turun dan minum bersama sambil ngobrol.  Di kedai kopi desa yang terletak di sekitar areal sawit tersebut, kami hanya duduk sekitar 30 menit dan lalu pamit kepada ‘Ki Jagat’ nama panggilan teman kami tersebut.

Meski tidak dapat ikut bersama, namun Ki Jagat dengan rela mengantarkan kami hingga jalan terakhir desa yang menuju ke arah Bate Uleu.  Sebab tanpa dipandu, mungkin agak sedikit membingunkan, karena kondisi jalan yang persis sama dan di kiri kanan dipenuhi oleh areal sawit.

Menuju batas desa kami lalui sekitar 20 menit, lalu Ki Jagat yang diketahui seorang pria yang punya kekuatan gaib bisa melihat dan mengusir roh jahat itupun menghentikan sepeda motornya.  Lalu dirinya mengintruksikan jalur yang harus kami lalu untuk menuju Bate Uleu.

“Intinya abang ikuti saja tiang listrik tersebut.  nanti disana abang Tanya lagi, ujar Ki Jagad.

Double cabin coklat yang kami tumpangi kembali berjalan melewati jalan berbatuan dan dipenuhi sawit di kiri kanannya.  Setelah berjalan sedikit jauh dan tidak terlihat ada sebuah bangunan rumah, tiba-tiba kami melihat ada sebuah kios kecil di pinggir jalan.

Andree, yang duduk di depan segera turun untuk menanyakan arah menuju Bate Uleu.  Tidak lama, terlihat Andree telah kembali dan naik ke mobil dan Ricky kembali menginjak pedal gas mobil melaju lurus dan langsung berbelok ke kanan.

Baru sekitar beberapa menit mobil melaju di jalan tanah yang ditumbuh ilalang, sebuah sepeda motor dari arah belakang terlihat datang mengejar mobil kami.  Suara klaksonnya jelas menyiratkan memberikan sinyal atau tanda kepada kami yang berada di depannya.

Ricky sang sopir menghentikan laju mobil dan menunggu pria yang naik sepeda motor menuju ke arah kami. Tiba di dekat mobil, pria bersepeda motor yang masih berusia muda itu langsung meminta kami balik.

“Bang balik, gak bisa lewat dari jalan ini.  Sebab jembatan di depan tidak bisa dilalui mobil, karena rusak,” ucapnya memberitahukan kepada Kami sambil menunjukkan jalan lain.

Mendengar arahan pemuda tersebut, Ricky langsung mencari jalan agak sedikit lebar untuk memutar balik mobil.  Singkat cerita, kami akhirnya tiba di sebuah warung yang ramai orang dan terlihat terparkir beberapa mobil traktor dilokasi. Namun untuk menggapai lokasi ini, Kami harus melewati jalanan yang sulit dan harus berhati-hati.  Sebab selain berbatuan, juga terdapat lubang jalan yang sangat besar.

Untungnya saat itu tidak dalam kondisi hujan, sehingga mobil bisa melaju perlahan tanpa harus takut tersangkut.  Hal ini tentu juga hanya dapt dilakukan menggunakan mobil berbadan tinggi dan punya handle bukan mobil biasa.

Tiba di warung paling ujung Gampong Bate Uleu, Kami turun dan bertanya kepada pemilik warung dan warga yang berada disana.  Ternyata mobil memang tidak lagi dapat dibawa kelokasi makam, karena tidak ada akses jalan jika menggunakan mobil.  Sehingga kami memutuskan untuk memarkirkan mobil di sekitar lokasi dan menurunkan semua peralatan dan kebutuhan.  Artinya kami kini harus berjalan kaki dengan membawa semua peralatan ke lokasi makam yang diperkirakan memakan waktu sekitar 6 jam.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 Wib, tentunya Kami tidak ingin berlama-lama, khawatir nanti akan kemalaman saat dalam perjalanan.  Lalu semua bergerak berjalan dan awalnya dipandu oleh Nazar yang kebetulan dirinya pada peringatan hari Pahlawan tahun 2019 lalu pernah melewati jalan tersebut menuju makam bersama tim Pemkab Aceh Utara dan Kodim 0103/Aceh Utara.

Tetapi hari lalu, menurut Nazar, mereka bergerak menuju lokasi makam dari Pirak Timu.  Hal itu sangat melelahkan, sebab harus berjalan sekitar 11 jam lebih.  Beda halnya dengan saat ini yang akan dilalui, hanya sekitar 5 atau 6 jam dan melalui jalur sungai.

Perjalanan menuju lokasi makam Cut Mutia untuk ziarah telah dimulai dengan berjalan kaki. Semua kami masing-masing membawa ransel dan sejumlah peralatan.  Bermodal peta udara yang sudah diprint out, tim juga berupaya memotong jalan tidak hanya mengikuti alur sungai.

Meski tidak panas oleh teriknya mentari siang, tapi lelah pastinya menerpa kami.  Apalagi kondisi usia Saya yang tidak muda lagi.  Sehingga dalam perjalanan menuju sebuah jembatan gantung yang menghabiskan waktu 5 jam, kami harus berhenti sebanyak 3 kali.  Apalagi memang sebelumnya kami belum makan siang.

Yang membuat terkurasnya tenaga, karena pijakan kaki saat berjalan harus melintas air yang terkadang harus menyebrang untuk mencari tempat yang dangkal.  Bahkan pinggir sungai, tanahnya yang lembut membuat pijakan kaki lebih berat.

Saat berjalan, kami juga ada beberapa kali bertemu dengan warga yang duduk di pinggir sungai, ada yang sedang menangkap ikan dan juga sedang bergerak pulang dari kebun.  Bahkan tak jarang kami mendengar suara-suara hewan dan burung berkicau di hutan.

Aliran Krueng (sungai) Peuto terdengar sangat nyaring dengan air yang mengalir jernih.  Ini tentu menjadi suatu teraphy alam bagi kami saat harus istirahat saat berjalan.  Disamping panorama alam sekitar yang cukup menakjudkan.  Di kiri kanan tampak dinding tebing yang indah seperti penahan bending.  Bahkan jelang tiba ke lokasi, kita akan menemukan alur sungai berbatu di dasar.  Layaknya sungai Peuto seperti sebuah kolam renang yang sedang tidak dipenuhi air.

Melihat ini tentu kami tidak akan melepaskan momen tersebut, tim jepret-jepret pun langsung beraksi.  Di lokasi ini, Saya memilih berjalan di tengah sungai tidak lagi dipinggir.  Sebab lebih ringan berjalan di atas batu daripada harus berjalan di tanah yang lembut.

Sekira pukul 16.30 Wib, Kami tiba di sebuah jembatan gantung dimana terlihat ada sebuah pondok di sebelah kanan atas sungai.  Sedangkan sebelah kiri terlihat sebuah alur yang airnya mengalir ke sungai kami berjalan.  Yah itulah alur sungai menuju lokasi makam, yang diperkirakan berjakar sekitar 1,8 kilometer dari jembatan gantung tersebut.

Dipondok jembatan gantung, tim beristirahat dan melihat kondisi dimana lokasi yang pas untuk mendirikan tenda untuk bermalam.  Seraya mengaso, 2 orang tim berjalan lebih ke depan mencari lokasi yang cocok untuk bermalam.  Hanya sekitar 30 menit, terdengar suara panggilan radio dari Muzek yang mencari lokasi menginap.

“Bang disini ada lokasi menginap, ada pondok dan lokasi yang bagus.  Selain itu terdapat air terjur kecil dengan air yang cukup jernih,” ucapnya dari seberang radio yang memang sudah disiapkan beberapa unit.

Mendapat informasi ini, kami langsung bergerak menuju lokasi yang dituju.  Sampai disana, kami disapa oleh seorang pria, Piyoh…ujar pria tanpa baju dan hanya mengenakan celana ponggol yang ternyata pemilik pondok dan kebun tempat kami singgah.

Setelah menurunkan semua peralatan, rasanya sudah tidak tahan melihat air yang mengalir jernih persis di depan.  Terlihat sejumlah kawan sudah menggunakan celana pendek dan langsung menuju sungai untuk mandi atau sekedar membasuh badan yang memang sudah dipenuhi keringat selama berjalan selama 7 jam dari Kota Lhokseumawe.

Malam itu, kami mendirikan sebuah tenda di lokasi dan sebagian kami tidur di pondok kayu milik pria yang diketahui merupakan adik dari penjaga makam Cut Mutia.  Keheningan malam kami habiskan dengan bercerita ngalur ngidul serta memasak makanan seadanya yang telah kami bawa sebelumnya.

Keesokan harinya, kami langsung bersiap-siap untuk menuju lokasi makam.  Dari penjelasan pemilik pondok, kami bisa melalui jalur bukit menuju lokasi makam Cut Mutia dan lebih dekat.

“Kalau dari sini lebih dekat, hanya naik bukit sekitar 2 buah.  Setelah itu langsung turun dan akan bertemu lokasi makam.  Kalau kembali ke jalan kemarin, butuh waktu 1,5 jam berjalan kaki,” ucapnya.

Mendengar ini, kami memutuskan untuk mengikuti arahan pria pemilik kebun tersebut yang merupakan warga Alue Rime Pirak Timu.

Ternyata untuk menjangkau lokasi makam, buanlah hal yang mudah.  Bahkan kami sempat putus asa, karena yang terjal dan mendaki yang membuat kami benar-benar kehabisan tenaga.  Kenapa tidak, kami harus berjalan mendaki bukit yang terjal yang berdasar GPS yang dibawa tertulis tinggi bukit pertama 181 meter dan bukit kedua sekitar 250 meter.

Bukan hanya perjalanan mendaki, tapi saat jalan turun, ini merupakan satu hal yang sangat sulit.  Pasalnya turunan juga terjal dan dasar gunung yang berpasir sehingga sangat menyulitkan dan harus berhati-hati jika tidak ingin terjerembab.

Ketengah keputus asaan yang mulai menerpa, akhirnya terdengar sebuab suara melalui radio oleh tim yang berada di depan, bahwa lokasi makam sudah sampai.  Suara ini langsung seperti sebuah obat dalam tayangan iklan yang dapat meneymbuhkan penyakit sekali minum.

Teaga dan semangat saya langsung pulih, meski lutut dan dada sudah terasa panas. Tiba dilokasi, kami beristirahat seraya membuka bekal makanan untuk mengisi perut yang memang sudah lapar dan haus yang sudah menerpa sejak tadi.

Tim tidak lama berada di sana, sebab kami khawatir kemalaman saat pulang kembali ke Lhokseumawe saat berada di hutan.  Setelah membersihkan sedikit lokasi makam dan berdoa, kami berkemas untuk segera pulang.  Kembali kami melewati alur dan sungai menuju lokasi mobil yang terparkir di Bate Uleu.

Perjalanan pulang terlihat lebih cepat, sebab tim yang masih berusia muda dan berjalan di depan dengan cepat.  Kami menghabiskan waktu hanya 4 jam untuk tiba di kedai tempat mobil kami parker.  Perjalanan pulang kami hanya perlu istirahat sebanyak 4 kali, sedangkan saat pergi kami istirahat sekitar 6 kali untuk menggapai simpang jembatan gantung.[red]

Memang sangat disayangkan, jika lokasi makam Cut Meutia yang gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng, Aceh, pada 24 Oktober 1910, belum punya akses jalan yang baik.  [red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *