LayarBerita, Aceh Utara – Pabrik garam di Desa Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara dijadwalkan akan diresmikan dalam waktu dekat ini. Pabrik garam yang dimiliki dan dikelola oleh PT Vinca Rosea akan menampung garam petani. Lahan garam dengan luas 1000 hektar tersebut juga ditargetkan menjadi Sentra Garam di Sumatera.

Tidak hanya itu, pada tahun 2021, kontribusi garam Desa Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang juga ditargetkan bisa menutup keran impor garam nasional.

Hal diungkap Direktur PT Vinca Rosea, Azhari, ST kepada LayarBerita.com, Senin (10/2/2020) sore.

Dijelaskannya, pembangunan pabrik garam bertujuan untuk mendongkrak, pemerataan dan meningkatkan ekonomi petani garam dan perekonomian di Kabupaten Aceh Utara.

Menurutnya, garam farmasi dengan kandungan NaCl berkisar antara 99,90 persen yang dihasilkan mampu bersaing dan memiliki pangsa pasar tersendiri.

Dijeskannya, selain memproduksi garam untuk kebutuhan aneka pangan, juga akan diproduksi garam untuk kebutuhan farmasi dan industri.

Selain itu, juga akan dilakukan pemilahan dan pengolahan residu (ampas sisa proses kimia) berupa dolomit sebagai bahan campuran pembuatan pupuk organik, gypsum untuk pembuatan plafon, soda ash (soda abu) untuk pembuatan mie, soda api untuk untuk pembersih toilet, lantai dan lainnya, caustic soda untuk membuat bubur kertas, serta nigari (air garam yang tidak bisa diolah lahi menjadi garam) sebagai bahan campuran pembuatan tahu agar tidak cepat basi (memiliki daya tahan hingga 7 hari).

“Peresmian pabrik sekaligus launching perdana dijadwalkan pada Februari. Dan di tahun 2020 ini, kita targetkan kawasan Desa Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara menjadi sentra garam se-Sumatera, serta di tahun 2021 ditargetkan kontribusi garam Kecamatan Lapang bisa munutup keran impor garam nasional,” ungkap Azhari.

Dari semua produk yang akan diproduksi, juga ada produk Nigarin, yakni suplemen tetes untuk mengatasi stroke, jantung koroner, diabetes, kolesterol dan sebagai pelangsing alami.

Di luar negeri seperti Jepang, Nigarin sudah banyak dikonsumsi. Dan harga untuk ukuran 200 ml, bisa mencapai USD9,9 atau setara Rp150.000, sambungnya.

“Kita juga akan mengolah limbah garam menjadi magnesium (mg) untuk farmasi sebagai bahan baku pembuatan obat,” ujarnya.

Sebagai contoh, Amerika Serikat sedikitnya membutuhkan 100.000 liter bitten(air kuloh) yg kaya magnesium (mg) untuk bahan baku pembuatan obat, termasuk Jepang yang sedikitnya membutuhkan 50.000 liter magnesium. Dan ini menjadi peluang untuk bisa memenuhi kebutuhan magnesium di kedua Negara tersebut. Tentunya dengan tetap menjaga dan meningkatkan kualitas agar mampu bersaing dengan kompetitor lainnya.

“Dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang dimiliki di kawasan Desa Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Aceh Utara itu, kita juga akan mengupayakan menjadai kawasan ‘Minapolitan’ dan ‘Agropolitan’ di lokasi pertanian dan peternakan yang sedang berjalan,” pungkas Azhari yang Direktur Klinik Vinca Rosea. (BIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *