Layar Berita, Siak –  Sutar, seorang warga asal Kampung Buantan Lestari Kecamatan Bungaraya Kabupaten Siak, nekat melakukan penanaman padi secara organik, walaupun notabene Bungaraya termasuk lahan yang tak luput dari pupuk, Herbisida maupun Fungisida yang mengandung Unsur kimia.

Pada kesempatan jumpa dengan awak media pada tanggal 5 Desember 2019 di Sawah, yang terletak di Kampung Buantan Lestari, petani tersebut menyampaikan keinginanya untuk mengubah pola pertanian di Kecamatan Bungaraya kembali pada pertanian organik. Walaupun Sutar sendiri menyadari bahwa berat untuk menyampaikan pesan tersebut kepada petani lainnya.

Mengingat di Bungaraya saat ini mayoritas petani sudah berorientasi pada bisnis.  Sehingga menerapkan prinsip bagaimana menghasilkan produksi sebanyak-banyaknya.

“Saya sudah selama 3 tahun melakukan pemeliharaan tanaman padi secara organik pada lahan seluas ¼ Ha. Dan saya akan tetap berpola secara organik, walaupun ketika kita mengkaji unsur tanah dan air yang ada disekitar lahan yang saya tanami ini kecil kemungkinan untuk mendapatkan produksi padi secara organik. Namun saya tetap konsisten untuk melakukan pola pemeliharaan secara organik ini,” ucap Sutar.

Ke depan, sambungnya meski dirinya tidak bisa mendapatkan label ‘Padi Organik’.  Minimal dirinya punya produk padi bebas residu. “Ini target Saya ke depan,” sambungnya.

Dirinya mengakui dengan pola bertani secara organic akan mengurangi hasil. Walaupun produksi lebih sedikit dibandingkan dengan bertani menggunakan kimia, tetapi menurt Sutar punya daya saing dari harga. “Sawah seluas ¼ hektar yang Saya miliki, mampu menghasilkan 1000 Kg/1 ton padi, dengan harga jual beras Rp.18.000 hingga Rp.20.000/kilogram,” terangnya.

Terkait dengan dukungan pemerintah, menurutnya Dinas Pertanian Kabupaten Siak sangat repons melalui Petugas Penyuluh Lapangan ( PPL ), yang selalu membimbing dan memberikan support padanya. Selain pihak pemerintah Lembaga Swadaya Masyarakat Riau Hijau pun turut mendukung dengan melakukan pendampingan untuk melakukan pola tani non kiimia ini.

Dalam bincang tersebut turut hadir Direktur Riau Hijau Dudi Candra, yang terus melakukan pendampingan. Beliau menyampaikan bahwa Riau Hijau akan terus berkonsentrasi pada usaha menerapkan pola tani non kimia yang dilakukan oleh Sutar.

Selain itu Riau Hijau juga sudah berusaha untuk berkomunikasi dengan dinas terkait, dengan harapan program pertanian non kimia ini dapat disinergikan dengan program pemerintah yang ada di Dinas Pertanian Kabupaten Siak.

Bahkan dalam Diskusi Publik yang  digelar pihaknya pada tanggal 4 November 2019 di Hotel Grand Mempura, yang dihadiri seluruh Gapoktan di 3 kampung dampingan Riau Hijau, yaitu Kemuning Muda, Buantan Lestari dan Jayapura. Kemudian juga diundang narasumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Siak H.Suwanto, Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Siak T. Amri, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Siak.

“Pada kesempatan tersebut, pak H Suwanto menyampaikan, bahwa Program akan ada bantuan Pertanian Organik untuk seluas 100 Ha di Kampung Buantan Lestari pada tahun 2020,” ujar Direktur Riau Hijau Dudi Candra. [Wiam]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *