LayarBerita, Aceh Utara –  Sebelumnya diketahui bahwa seekor harimau telah turun ke perkampungan dan memangsa sejumlah ternak warga di Desa Seurekey, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Kondisi konflik harimau dan manusia ini membuat keresahan dalam masyarakat.

Mengatasi persoalan ini, Balai KSDA Aceh, melalui Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Resor 11 Aceh Utara, didampingi Polisi Kehutanan dan Pawang Harimau Balai KSDA Aceh telah melakukan upaya penghalauan Harimau Sumatera (Panthera tigrisssp.sumatrae).

Upaya penghalauan yang dilakukan oleh tim yaitu dengan cara pengusiran yang dibantu oleh Pawang Harimau Balai KSDA Aceh Pak Sarwani Sabi melalui pendekatan kearifan lokal lewat doa-doa. Kegiatan ini merupakan salah satu penanganan konflik yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor :P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia dan Satwa Liar.

Selain upaya penghalauan, tim petugas juga memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, bahwa Harimau Sumatera (Pantheratigrisssp.sumatrae) merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi.  Serta tergolong satwa kunci yang populasinya terancam punah di alam.

“Tim petugas mengimbau masyarakat setempat agar tetap berhati-hati dan tetap memasang penerangan pada kandang ternak yang masyarakat miliki,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, AgusArianto, S.Hut melalui rilis.

Penghalauan ini merupakan salah satu tindak lanjut dari respon konflik yang telah dilakukan sebelumnya pada, Jumat (29/11/2019). Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh akan terus memantau pasca upaya penghalauan konflik Harimau Sumatera (Pantheratigrisssp.sumatrae) di Dusun Mihra Istimewa Paket 20 Desa Seureukey Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara.

Hal ini agar tidak terjadi kerugian dan dampak negatif lainnya, bagi masyarakat setempat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, mengapresiasi masyarakat Desa Seureukey Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara, beserta jajaran Pemerintah dan aparat TNI (Babinsa) serta pihak-pihak terlibat yang segera melaporkan kejadian konflik satwa liar ini. [rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *