LayarBerita, Aceh Timur – Seekor gajah betina yang diperkirakan berumur 25 tahun ditemukan mati mengenaskan di areal perkebunan Afdeling 1 Keramat PT. Atakana yang berada di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Rabu 20 November 2019.  Kematian hewan dilindungi berbobot sekitar 3 ton ini masih menunggu hasil pengujian sampel dari Puslabfor Polri.

Menurut Kepala Balai KSDA Aceh Agus Arianto, S. Hut, kematian gajah liar tersebut ditemukan oleh pekerja kebun PT. Atakana yang kemudian melapor kepada tim petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Aceh, yang sedang melakukan penggiringan gajah liar dengan menggunakan gajah jinak di sekitar area desa tersebut sekitar pukul 12.30 WIB.

Mendapat laporan tersebut, tim petugas BKSDA Aceh yang terdiri dari Resor KSDA Langsa dan CRU Serbajadi beserta aparat TNI dan pihak perusahaan langsung menindaklanjuti dengan melakukan pengecekan ke lokasi kejadian.

Kepala Balai KSDA Aceh, memberikan arahan kepada tim petugas untuk melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian setempat, agar dilakukan pengamanan Tempat Kejadian Perkara (TKP), meminta tim untuk mengumpulkan informasi dari masyarakat sekitar dan mengirim tim medis Balai KSDA Aceh ke lokasi untuk melakukan tindakan bedah bangkai (Nekropsi).

“Tim medis Balai KSDA Aceh telah melakukan tindakan nekropsi dan mengambil beberapa sampel dari bangkai gajah sumatera tersebut untuk dikirim ke Puslabfor Polri, Kamis (21/11/2019). Tim medis memperkirakan umur kematian Gajah Sumatera tersebut sekitar 8 hingga 10 hari yang lalu dengan estimasi berusia 25 tahun,” terang Agus.

Gajah Betina Berumur 25 Tahun Ditemukan Mati di Areal Perkebunan  [bksda]

Sejauh ini, Balai KSDA Aceh masih menunggu hasil pengujian sampel dari Puslabfor Polri untuk mengetahui penyebab kematian satwa liar gajah tersebut. Secara taksonomi, Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) termasuk kelompok Mammalia dengan Famili Elephantidae yang tergolong jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi.

Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) di Provinsi Aceh sendiri, hampir 85% berada di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan. Sehingga potensi terjadinya konflik gajah dengan manusia sangat tinggi. Sempitnya habitat gajah di Provinsi Aceh juga menjadi penyebab utama pemicu konflik gajah dengan manusia.

Upaya penanganan konservasi dan kelestarian keanekaragaman hayati terhadap satwa liar gajah sumatera diperlukan berbagai peranan dari elemen stakeholder lainnya. Mulai dari elemen instansi pemerintah baikdi pusat ataupun di daerah, LSM/NGO, sektor swasta, pihak aparat/kepolisian, hingga elemen masyarakat.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengimbau dan mengharapkan  dukungan serta peran dari berbagai pihak stakeholder tersebut dalam penanggulangan permasalahan konflik Gajah Sumatera dengan Manusia di Provinsi Aceh sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar serta Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 522.51/1097/2015 tentang Pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar Provinsi Aceh.

Balai Konservasi Daya Alam Aceh memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keterlibatan pihak Kepolisian Resor Aceh Timur, Kepolisian Sektor Rantau Peureulak, FKL, dan pihak lainnya yang ikut membantu dalam melakukan pengamanan dan olah TKP hingga proses bedah bangkai atau nekropsi dapat terlaksana dengan lancar. [red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *