Tampak salah satu lokasi Pesantren Annahla terlihat sepi dan terkunci, usai kejadian pencabulan terhadap santri.
LayarBerita, Lhokseumawe – Terkait peristiwa pencabulan terhadap sejumlah santri oleh pimpinan dan seorang guru Pesantren Annahla yang terjadi baru baru ini.  Pemko Lhokseumawe membentuk Tim Investigasi yang terdiri dari sejumlah SKPK.  Bahkan telah menggelar rapat bersama untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.
Menurut Kepala Bagian Humas Pemko Lhokseumawe Muslim, hasil keputusan rapat bersama, diputuskan bahwa sementara waktu operasional Pesantren Annahla dibekukan.  Atau dengan kata lain kegiatan belajar mengajar di pesantren dihentikan.  Hal ini untuk menjaga segala hal yang tidak diinginkan dengan kejadian pencabulan yang kini sudah ditangani aparat penegak hukum.
“Hasil rapat bersama, diputuskan kalau operasional Annahla dibekukan sementara. Selain itu, kita telah menyiapkan sejumlah petugas Satpol PP dan WH untuk mengamankan lokasi.  Bukan itu saja, Tim Investigasi juga membuka Posko Pengaduan bagi keluarga santri,”terang Muslim kepada wartawan, Kamis (11/7/2019) di lokasi Pesantren Annahla.
Lanjutnya, pengamanan dilakukan dengan waktu yang tidak ditentukan.  Selain itu untuk memberikan kejelasan terhadap para orang tua santri terkait proses belajar mengajar.   Menyangkut kelanjutan proses belajar mengajar, tim juga sedang membahas bersama pihak terkait.
Sejumlah petugas didatangkan untuk memberikan pengamanan lokasi Pesantren Annahla
“Inikan memasuki tahun ajaran baru, tentu dengan ditutupnya sementara Annahla, berdampak kepada para santri.  Termasuk kepada calon santri baru yang juga sudah mendaftar sejak awal.  Tentu kita tidak mau kalau dengan masalah ini, membuat santri harus ‘menganggur’ tidak belajar. Jadi Kami sedang mencari solusi, agar santri lama bisa tetap sekolah dan santri baru bisa diterima disejumlah sekolah lain,”terang Muslim.
Ditanya apakah nantinya operasional akan tetap dilakukan di lokasi tersebut? Kabag Humas mengatakan itu akan dibicarakan lebih lanjut.  Namun sejauh ini, warga sekitar sudah mengirimkan keputusan bersama dan melakukan rapat dengan Pemko Lhokseumawe.
“Warga meminta agar pemilik rumah yang disewa untuk tidak lagi memberikan sewa kepada pihak yayasan tersebut.  Intinya kalau kita lihat, warga kini menolak jika pesantren tersebut kembali beroperasi di daerah mereka,” terang Muslim
Sementara itu, informasi dari sejumlah warga sekitar mengaku sejak lama tidak nyaman dengan kehadiran pesantren tersebut.  Apalagi ada beberapa lokasi bangunan yang digunakan untuk lokasi belajar dan pemondokan santri di komplek tersebut.
“Kita sejak awal hadirnya merasa sudah tidak nyaman.  Pimpinan pesantren terkesan ‘ekslusif’ dan kurang bersahabat dengan warga sekitar.  Namun karena tempat itu merupakan lembaga pendidikan agama, Kami tetap menahan diri,” ucap Kamaruzaman, warga sekitar.
Hal senada juga diungkapkan oleh warga lain, seorang ibu rumah tangga ini malah mengatakan kalau sikap pimpinan pesantren sangat tidak bersahabat.  Bahkan kerap melarang para santri dan pengajar disana untuk tidak berhubungan dengan warga.  Malah kerap mengkritik cara berpakaian warga sekitar secara langsung.
“Mungkin sebelum kejadian pencabulan ini terungkap, Kami masih bisa menahan diri.  Sebab itukan lembaga untuk mendidik generasi muda lebih berakhlak dan memahami agama.  Tapi sekarang Kami secara tegas menolak jika nantinya pesantren itu kembali beroperasi disini,”tegas wanita ini yang rumahnya tidak jauh berada di depan pesantren Annahla.
Pantauan layarberita.com, disekitar lokasi terlihat dipenuhi oleh warga.  Baik itu para orangtua santri maupun warga sekitar.  Dilokasi juga sudah hadir petugas keamanan serta petugas Satpol PP dan WH dari Pemko Lhokseumawe.  Para orangtua santri mendatangi lokasi untuk menanyakan kejelasan proses belajar mengajar anaknya.
“Kita datang kemari setelah mendengar kabar kalau telah terjadi masalah dengan pimpinan pesantren ini. Sehingga perlu Saya ketahui langsung bagaimana masalah kelanjutan pendidikan anak kami.  Apalagi tahun ajaran baru akan dimulai beberapa hari lagi.  Sementara anak Saya sudah terdaftar disini, dan tempat lain pastinya juga sudah ditutup pendaftaran,” ujar seorang pria yang membawa 2 anaknya dilokasi tersebut.
Sementara itu, kedua pelaku, yakni AI (45) dan MY (26), kini sudah ditahan oleh penyidik Polres Lhokseumawe. Pelaku diduga telah melakukan pencabulan terhadap 15 santri, dan dilakukan sejak September 2018 lalu.  Polisi juga telah memeriksa keterangan sejumlah saksi termasuk saksi korban.
“Status pelaku AI adalah duda, dan sebelumnya telah pernah menikah dan cerai 3 kali.  Sementara MY masih lajang. Kedua pelaku kita jerat dengan Pasal 47 Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat,” ujar Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta dalam konferensi pers Kamis (11/7/2019). [red]

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda