Nasib Petani Seunebok di Musim Kemarau dan Tak Punya Irigasi
LayarBerita, Aceh Utara –  Sejauh ini masih banyak areal sawah di Kabupaten Aceh Utara yang mengandalkan air hujan (tadah hujan).  Hal ini tentunya dampak dari belum hadirnya saluran irigasi terhdap sejumlah areal sawah masyarakat.  Jika memasuki musim kemarau seperti saat ini, nasib petani kian miris.  Sebab hasil pertanian yang diusahakan tidak memuahkan hasil yang sesuai seperti diharapkan.
Seperti halnya pengakuan Iskandar, petani asal Desa Seunebok, Nisam, Aceh Utara.  Dirinya sudah sekian lama hanya menanam padi Cuma sekali dalam setahun.  Sebab daerah mereka memang belum memiliki saluran irigasi yang mengairi sawah mereka, seperti daerah lainnya.
Untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya, Iskandar biasanya menanam tanaman muda lainnya di areal sawah, saat telah panen padi.  Tentunya ini dilakukan agar tanah yang ‘nganggur’ itu dapat diberdayakan untuk membiayai kebutuhan keluarganya.
Tetapi memasuki akhir Juni 2019 lalu, kondisi alam menunjukkan musim kemarau.  Padahal saat itu dirinya baru saja menanam sekitar ribuan bibit semangka di areal sawah tadah hujan milik keluarganya.  Sayangnya, bibit yang ditanam itu hanya sebagian saja yang tumbuh.  Itupun kondisinya sangat memprihatinkan karena kondisi kekurangan air.

“Hari lalu ada sekitar 4.000 bibit semangka Saya tanam.  Tapi lebih setengahnya mati, karena diserang hama tikus.  Itu belum lagi karena mati kekeringan,”ungkap Iskandar.
Meski hanya dalam jumlah kecil yang hidup, petani ini tidak putusa asa.  Dirinya tetap berupaya agar bibit yang tersisa itu dapat tumbuh dengan baik.  Tentunya ini bukan hal yang mudah, sebab kebutuhan air sangat sulit didapat.  Untungnya dia tidak hilang akal, meski harus mengeluarkan biaya untuk bekerja lebih giat.
“Saya sudah mengeluarkan modal sekitar Rp 4 juta.  Tapi seperti yang Anda lihat, hanya sebagian bibit yang hidup.  Untuk mendapatkan air, Saya harus memasang selang air dari sebuah suur bor ke lokasi sawah.  Ini tentu membutuhkan biaya tambahan, baik untuk membeli selang dan juga membeli BBM untuk menghidupkan mesin air,” terang Iskandar.
Pantauan layarberita.com, di areal sawah seluas hampir 8.000 meter persegi itu, terlihat ada dua buah drum besar dan dua buah kubang buatan dari terpal di atas lahan.  Ternyata kedua tempat itu untuk diisi air yang ditarik dari sumur bor yang berjarak hampir 30 meter dari lokasi sawah.
“Saya terpaksa membuat kumbangan dari terpal dan menyediakan drum. Ini untuk mengisi air agar bisa tersimpan dan tidak jauh untuk mengangkatnya.  Jadi ini supaya mudah untuk mengambil air untuk menyiram tanaman di tengah kondisi kemarau seperti ini,”terangnya sambil mengangkat air untuk menyiram semangka di tengah terik matahari. [red]

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda