Diduga cabuli 15 Santriwan, 2 Ustaz Pesantren Annahla Ditangkap Polisi
LayarBerita, Lhokseumawe – Perbuatan AI (45) pimpinan pesantren dan MY (26) guru di pesantren Annahla yang beralamat di Kota Lhokseumawe, sangat tidak patut ditiru.  Pasalnya kedua ustaz yang seharusnya mengajarkan kebaikan kepada para santri, malah mereka yang melakukan pencabulan terhadap anak didiknya.
Dampak dari perbuatan bejat tersebut, keduanya kini harus merasakan dinginnya lantai ‘Hotel Prodeo’ Polres Lhokseumawe. Kedua ustaz di pesantren khusus Tahfidzul Quran ini ditangkap dengan dugaan telah melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri pria.
Informasinya, penangkapan kedua ustaz yang diduga berperilaku seks menyimpang tersebut dilakukan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik Polres Lhokseumawe yang menerima laporan dari keluarga korban (santri) yakni R (13) dam L (14).  Setelah itu penyidik memeriksa sejumlah saksi lainnya dan saksi korban lainnya.
Menurut Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta, keduanya ditangkap setelah dilakukan serangkaian penyelidikan, sesuai laporan korban. Pelaku melakukan pelecehan terhadap santri yang rata-rata berusia di bawah 15 tahun.  Pelecehan atau pencabulan tersebut terjadi di lokasi pesantren.

“Keduanya kita jadikan tersangka telah melakukan pelecehan seksual kepada santri pria.  Sementara yang sudah dilakukan pemeriksaan, ada 5 santri yang menjadi korban.  Total semua santri yang mendapat perlakuan cabul dari pelaku, berjumlah 15 orang,” ujar Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta yang didampingi Kasat Reskrim dan Kanit PPA dalam konferensi pers, Kamis (11/7/2019) di Mapolres Lhokseumawe.
Dari hasil pemeriksaan sementara, dari 5 santri yang menjadi korban, diketahui kalau AI yang merupakan pimpinan pesantren melakukan pencabulan terhadap 5 santri, yakni R (13), L (14), D (14), T (13), A (13).  Perlakuan bejat itu dilakukan berulang, bukan hanya sekali.  Sementara tersangka MY melakukan pencabulan terhadap seorang santri berinisial R (13) sebanyak 2 kali.
“Pencabulan dilakukan tersangka dengan cara memanggil korban satu-persatu di ruangan.  Modus meminta tolong membersihakan ruangan dan rata-rata semua santri pria,” ujar Kapolres Lhokseumawe.
Penyidik menjerat pelaku dengan pidana Pasal 47 Qanun Aceh no.6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat.  Yakni dengan ancaman paling banyak 90 kali cambuk atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan. [red]

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda