DR. Marhamah, M. Kom. I
Layarberita.com –  Kondisi pendidikan saat ini cenderung mengalami dinamika perubahan orientasi, bahkan mengarah pada persimpangan jalan. Di satu sisi pendidikan telah meningkatkan kualitas kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi di sisi lain kompetensi karakter terabaikan. Padahal, karakter merupakan fondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini.
Kondisi saat ini banyaknya kasus sosial yang mengarah pada krisis moral level mengkhawatirkan. Maraknya penyalahgunaan narkoba, pornografi, kekerasaan menjadi kasus sosial  yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Karena itu tidak mengherankan jika pada 2018 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data 84% siswa di Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah. Adanya berbagai kasus sosial yang tidak sesuai dengan etika, atau moralitas menunjukkan rendahnya karakter generasi sekarang ini.
Pendidikan tidak hanya sebatas menghasilkan luaran (output) yang berpengetahuan, tapi selayaknya juga harus menghasilkan dampak (outcome) berupa nilai-nilai pendidikan yang baik dalam kehidpan di masyarakat. Pendidikan bukan sekedar transfer pengetahuan belaka (transfer of knowledge) atau semata mengembangkan aspek intelektual.
Namun, juga merupakan proses transformasi nilai dan pembentukan karakter atau kepribadian dengan segala aspeknya (transfer of value). Dengan proses semacam ini maka suatu bangsa atau negara dapat mewariskan nilai-nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran dan keahlian kepada generasi muda sehingga mereka mampu menyongsong kehidupannya di masa depan. Dengan demikian, pendidikan adalah membangun budaya, membangun peradaban, membangun masa depan bangsa.
Membaca fenomena pendidikan sekarang ini, dirasakan mulai kurang memperhatikan penanaman nilai-nilai pendidikan. Pendidikan lebih cenderung mementingkan intelektual daripada sikap yang baik. Pendidikan yang semestinya dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran, toleransi, religius, dan nilai pendidikan lainnya belum sepenuhnya berhasil.
Dunia pendidikan selayaknya menjadi wadah yang tepat untuk membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan siap menerima tantangan zaman. Namun, tidak serta merta menurunnya nilai-nilai pendidikan hanya menjadi tanggungjawab lembaga pendidikan. Di sisi lain perlunya keterlibatan keluarga, karena pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan keluarga.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin melesat, justru berbanding terbalik dengan moral generasi yang semakin terdegradasi. Krisis moral ini telah merambah ke semua lini masyarakat, tidak hanya pada remaja bahkan orang dewasa yang seharusnya menjadi figur teladan moral bangsa.
Selain maraknya kenakalan remaja, dalam dunia pendidikan didapati praktik plagiasi, bahkan dalam kehidupan bernegara didapati praktik korupsi. Globalisasi dengan segala kemajuannya telah memberikan banyak kemudahan. Namun tanpa sadar, kemudahan itu pula yang telah memperdaya. Sehingga hasilnya bangsa kita telah kehilangan ruhnya, yaitu kearifan lokal yang menjadi karakter budaya bangsa.
Menyadari fakta-fakta krisis moral saat ini, maka bangsa ini sedang berada di tepi jurang kehancuran dan hanya menunggu waktu untuk jatuh ke dalamnya. Sebagaimana pandangan Thomas Lickona, seorang pendidik karakter dari Cortland University, New York, terdapat sepuluh tanda-tanda sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, seperti: meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; membudayanya ketidakjujuran; sikap fanatik terhadap kelompok;  rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru; semakin kaburnya moral baik dan buruk; penggunaan bahasa yang memburuk.
Serta meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, konsumsi alkohol dan seks bebas; rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara; menurunnya etos kerja; dan adanya rasa saling curiga dan kurangnya kepedulian diantara sesama.
Hal ini disebabkan oleh ukuran-ukuran dalam pendidikan tidak dikembalikan pada nilai-nilai keluhuran budi pekerti dan karakter tetapi cenderung bersifat rasional. Sebagai contoh, dunia kerja saat ini hanya mensyaratkan nilai IPK yang tinggi, tanpa memperdulikan nilai-nilai karakter. Ini menambah pembenaran bagi sebagian besar masyarakat untuk lebih mengutamakan kemampuan intelektual dan kompetensi, dibandingkan pertimbangan karakter.
Krisis moral yang tidak segera diatasi akan berdampak luas terhadap timbulnya berbagai krisis lainnya. Tidak hanya membawa dampak buruk terhadap perkembangan pola pikir masyarakat, lebih berbahaya lagi dapat menganccam kepentingan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Substansi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pada hakikatnya berpijak pada karakter dasar manusia yang bersumber dari nilai moral universal, yaitu nilai-nilai agama (the golden rule). Sementara, proses pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan moral sebatas teks dan kurang mempersiapkan peserta didik untuk menyikapi dan mengahadapi kehidupan yang kontradiktif.
Padahal pencapaian hasil belajar tidak hanya dilihat dari ranah kognitif (menyangkut aktivitas otak) dan psikomotorik (keterampilan atau kemampuan bertindak), tetapi juga harus dilihat dari hasil afektif (berkaitan dengan sikap dan nilai). Ketiga ranah tersebut berhubungan secara resiprokal (saling berbalasan), meskipun kekuatan hubungan tersebut bervariasi.
Mengembangkan pendidikan karakter berarti mengupayakan tumbuh kembangnya sistem nilai, moral dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan karakter tidak semata-mata bersifat individual, melainkan juga memiliki dimensi sosial struktural.
Pendidikan karakter yang berkaitan dengan dimensi sosial struktural, lebih melihat bagaimana menciptakan sebuah sistem sosial yang kondusif bagi pertumbuhan individu. Montesquieu, seorang filosofi berkebangsaan Perancis, mengemukakan bahwa karakter bangsa sangat berkaitan dengan hukum, bentuk dan perilaku pemerintahan yang ada. Karakter bangsa akan tercermin bagaimana warga bangsa tunduk dan patuh pada hukum yang berlaku.
Masyarakat yang berkarakter akan selalu memberikan dukungan apabila pemerintah berjalan di atas rel yang benar. Sebaliknya masyarakat akan bereaksi dan memberikan kritik, manakala pemerintah menyeleweng dari garis-garis yang telah ditetapkan.
Tidak ayal lagi bahwa fondasi terkuat dari bangunan masyarakat adalah individu yang berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moralitas yang baik. Semakin kuat nilai-nilai moral seseorang, akan beresonansi kepada bangunan masyarakat yang semakin kuat juga. Sebagaimana semangat Ki Hadjar Dewantara dalam membangun dan memajukan pendidikan dengan filosofinya yang memberikan keteladanan dalam bentuk ajaran yang berbunyi: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Pendidikan karakter merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti luhur (karakter).
Salah satu fenomena yang terjadi adalah menipisnya disiplin moral dengan gejala penyalahgunaan sikap rasional, teknikal dan profesional (yang hanya mempertanyakan apa yang dapat dilakukan?), tetapi mengabaikan sikap moral (yang mempertanyakan apa yang baik dilakukan?), apa lagi sikap spiritual yang religius (yang mempertanyakan apa yang halal dilakukan?).
Pendidikan karakter dalam Islam, terbentuk atas dasar prinsip ketundukan, kepasrahan dan kedamaian. Dalam konteks ini, figur Rasul Saw menjadi suri tauladan. Pentingnya pendidikan karakter dihubungkan dengan kualitas kemauan, bobot amal dan jaminan masuk syurga. Dijelaskan dalam Hadist Rasul Saw: “Sesugguhnya orang yang paling cinta kepadaku diantara kamu sekalian dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kamu sekalian”. (H.R. Tirmidzi).
Karena itu, fungsi pendidikan karakter sebagai pembentukan dan pengembangan potensi agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku sesuai dengan falsafah pancasila. Pendidikan karakter juga memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Disamping itu, pendidikan karakter menjadi pemilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa dan karakter bangsa yang bermartabat.
Pendidikan karakter mengembangkan disiplin diri sebagai kunci pertama untuk mengatur mekanisme pribadi. Apabila setiap pribadi mampu mengolah dan mengatur dirinya, maka akan terbentuk manajemen diri dan dapat menghargai waktu. Kemudian dilakukan latihan kejujuran (truthfulness). Kejujuran tidak tumbuh secara alamaiah mengingat salah satu sifat manusia adalah egois, maka berlaku jujur harus dilatih dan diawasi secara ketat. Pada tingkat yang paling dasar, kejujuran berarti ‘berbicara kebenaran’.
Berbicara tentang kebenaran dalam makna yang kita ketahui pada setiap saat dan dalam segala situasi. Tidak ada pengecualian untuk berbicara kebenaran ini dan tidak ada hitam dan putih di dalamnya, yang ada hanya kebenaran.
Dengan demikian, tentang kejujuran ini kita harus menjadi pencari kebenaran untuk menjadi jujur, tidak sekadar jujur dalam arti tidak berbohong. Dengan nilai moralitas ini, berbagai bentuk kebohongan harus dipahamkan kepada peserta didik. Tindakan seperti menyontek, berkata bohong, melakukan dan menyebarkan berita hoaks, dan sebagainya harus sejak dini dipahamkan sebagai tindakan ketidakbenaran yang harus dihindari.
Pendidikan karakter membutuhkan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik, jujur, berani, dan sifat baik lainnya serta malu bila berbuat kesalahan seperti curang dan malas juga sifat buruk lainnya. Karakter tidak terbentuk secara instan, namun harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai hasil yang ideal. Pendidikan karakter tidak semata-mata bersifat individual, melainkan juga memiliki dimensi sosial struktural, yakni lebih melihat bagaimana menciptakan sebuah sistem sosial yang kondusif bagi pertumbuhan individu.
Diharapkan dengan pendidikan karakter, tercipta generasi yang bermoral dan bertanggungjawab serta mampu menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya. [***]
Oleh: DR. Marhamah, M. Kom. I
Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe
Email: [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda