Dr. Marhamah, M. Kom. I
Layarberita.com – “Sejarah sakral dalam peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi sens pratique (akal praktis), capital symbolique (modal simbolis) dan incoper incorporation (peresapan dalam tubuh) (Pierre Bourdieu, Sosiologi Perancis)”.
Isra’ dan Mi’raj menjadi peristiwa fenomenal dan penting dalam sejarah peradaban umat Islam, karena Nabi Muhammad Saw mendapat kehormatan dengan kekhususan oleh Allah Swt untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Sebagai pengalaman keagamaan, peristiwa ini termasuk pada sesuatu yang remarkable (luar biasa) dan admirable (terpuji/mulia), yang ditunjukkan pada peristiwa dua perjalanan sekaligus, yaitu naik ke langit (Sidrat al-Muntaha) dan kembali ke bumi.
Menurut John Renard. dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” Isra’ dan Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah Saw, selain perjalanan Hijrah dan Haji Wada. Jika perjalanan Hijrah dari Mekkah ke Madinah menjadi permulaan dari sejarah umat Islam, maka perjalanan Haji Wada menandai penguasaan umat Islam atas kota suci Mekkah, sedangkan Isra’ dan Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-Abd) menuju sang pencipta (al-Khaliq).
Setiap peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam diperingati setiap tahunnya tidak hanya sebatas seremonial ritual keagamaan semata, tetapi lebih dari pada itu mengandung nilai-nilai yang dapat ditransformasikan dalam kehidupan saat ini. Makna Isra’ Mi’raj tidak hanya semata perjalanan Nabi Muhammad Saw di malam hari untuk menerima perintah shalat. Akan tetapi, peristiwa Isra’ Mi’raj ini memberikan kemampuan kepada umat Islam untuk membangkitkan daya spiritualnya.
Ditegaskan dalam AlQuran: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. al-Israa’: 1).
Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap (dark side) pengamalan dan sejarah kemanusiaan. Perintah shalat lima waktu dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak hanya ditafsirkan sebagai kewajiban yang sifatnya ritual an sich, tetapi juga merupakan wahana untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kemunkaran (amar ma’ruf nahi munkar) di muka bumi ini.
Agama sebagai sebuah misterium tremendum, selalu butuh legitimasi kebenaran (truth claim) yang seringkali melampaui rasionalitas. Karena itu, peristiwa Isra’ Mi’raj memiliki makna simbolis yang luar biasa dalam perspektif sosial yang merupakan salah satu etape penting dalam rangkaian perjuangan berat Rasulullah Saw melanjutkan transformasi moral, sosial dan spiritual manusia secara mondial (yang tersebar di seluruh dunia).
Modal simbolis inilah yang harus dikembangkan ke dalam sikap dan gerak kehidupan nyata umat Islam. Menggali pesan-pesan yang ada dibalik simbolnya dengan maksud merevitalisasi dan mereguk hikmahnya bagi kehidupan terestrial manusia. Kembalinya Muhammad Saw dari pengalaman keagamaan yang luar biasa itu menjadi penggerak untuk mengubah realitas-realitas sosial, khususnya masyarakat Arab pada waktu itu yang telah mencapai titik nadir peradaban dan secara umum memberikan perubahan  bagi seluruh manusia. Isra’ Mi’raj mengandung makna simbolik baik pada tatanan kemanusiaan maupun teologi kepemimpinan.
Simbol Kepemimpinan
Bertepatan dengan tahun politik saat ini, peringatan Isra’ Mi’raj dapat menjadi momentum untuk memilih pemimpin yang dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Karena itu, jika dicermati lebih lanjut banyak hal yang dapat dijadikan motivasi dalam memaknai Isra’ Mi’raj sebagai simbol kepemimpinan:
Pertama, simbol penyucian hati. Peristiwa Isra’ Mi’raj dimulai dengan tasbih, peristiwa pembersihan dada Nabi Saw dengan air zam-zam ditambah dengan wudhuk. Penyucian bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Dalam konteks kepemimpinan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga integritas moral.
Kedua, simbol keteladanan dari peristiwa di Baitul Maqdis ketika Rasul Saw ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, dimana Rasul memilih susu. Dapat dimaknai bahwa dengan integritas moral, diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan dengan benar dan tidak mudah tergoda. Kepemimpinan yang demikian dapat dimungkinkan manakala ditegakkan keadilan dengan didasari oleh nilai-nilai persamaan di muka hukum (al-musawwah), istiqamah (konsisten), dan amanah (dapat dipercaya).
Ketiga, prinsip keadilan dilambangkan dari proses negosiasi yang dilakukan Nabi Muhammad saw dalam menerima kewajiban shalat mencerminkan esensi pemimpin yang berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Dalam konteks ini shalat tidak hanya dipandang sebagai karitas individual, tetapi juga menunjuk pada transformasi sosial. Mengutip dari Dr. Moelsim Abdurrahman, transformasi merupakan jalan yang paling manusiawi untuk mengubah sejarah  kehidupan umat manusia. Karena dalam proses ini yang berlaku adalah pendampingan bukan pemolaan apalagi pemaksaan.
Transformasi merupakan gerakan kultural yang didasarkan pada tiga syarat profetis merujuk pada firman Allah Swt: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S. Ali-‘Imran: 110).
Tiga syarat profetis tersebut yaitu, humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi mungkar) dan transendensi (tu’minuuna billahi), yang merupakan cita-cita profetis yang diidealkan Islam setelah peristiwa isra’ mi’raj yaitu upaya mendesain peradaban manusia ke arah yang lebih partisipatif, terbuka, egaliter dan emansipatoris.
Peristiwa isra’ mi’raj memiliki daya energy yang kuat untuk menggerakkan kehidupan manusia agar menapaki jalan-jalan spiritual yang sifatnya mampu memberikan pencerahan teologis-religius di tengah krisis kemanusiaan. Pemaknaan ini memberikan implikasi pada kehidupan sosial umat Islam, sehingga tidak hanya menggunakan rasionalitas an sich tetapi juga tidak melupakan jalan spiritual yang bersumber pada wahyu Allah Swt. Karena dimensi spiritualitas dari pemahaman dan penghayatan keberagamaan pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri.
Bisa jadi dalam kehidupan modern saat ini, masih ada yang awam dalam pengembaraannya sebagai upaya mengenal dimensi batinnya bahwa ia adalah makhluk spiritual. Saat ini menjadi tantangan Islam untuk merevitalisasikan dimensi kekayaan spiritual yang terdapat dalam ajaran-ajarannya. Dan isra’ mi’raj memiliki dimensi kekayaan spiritual serta pesan-pesan kehidupan manusia menuju kehidupan akhirat.
Dan keempat adalah simbol  membangun peradaban yang kuat. Dalam sejarah Islam dijelaskan bahwa setelah Rasul hijrah ke Madinah dan berhasil menyampaikan risalahnya bahkan berhasil membangun sebuah negara yang disebut al Farabi sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, aman dan damai.
Kepemimpinan Nabi di Madinah yang memadukan antara nilai-nilai keislaman dan spirit demokrasi yang dalam bahasa Robert N. Bellah disebut sebagai masyarakat madani (civil society), yaitu melindungi keselamatan fisik, melindungi keselamatan keyakinan agama, menjaga keselamatan keturunan, menjaga keselamatan harta benda dan milik pribadi dan menjaga keselamatan profesi. Inilah yang diperjuangkan Nabi selama memimpin di Madinah.
Tidak salah kiranya orientalis Arthur Glyn Leonard dalam buku Islam, His Moral and Spiritual mengakui, Nabi Muhammad Saw berhasil membangun umat yang besar, membangun suatu imperium yang besar dan membangun agama yang lebih besar lagi. Simbol-simbol tersebut menggambarkan betapa kepemimpinan politik Rasul sangat adil dan demokratis. Simbol kepemimpinan seperti inilah yang harus diinternalisasikan dalam konteks tahun politik sekarang ini.
Kepemimpinan yang dapat mengartikulasikan dan meralisasikan keinginan rakyat. Tidak menggunakan kekuasaan sebagai senjata menegakkan panji otoritarianisme. Tidak mengutamakan kepentingan golongan dan orientasi politik partisan sesaat, tetapi pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat. Karena, kepemimpinannya merupakan sebuah tanggungjawab tidak hanya di dunia saja tetapi juga di akhirat kelak.
Pada frame seperti inilah, makna Isra’ Mi’raj dapat dijadikan kekuatan transformasi bagi perubahan sosial menuju masyarakat yang adil dan egaliter. Dan menjadikan momentum Isra’ Mi’raj di tahun politik saat ini untuk menggugah pemimpin bangsa dalam menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan dan keimanan. Semoga!
Oleh: Dr. Marhamah, M. Kom. I
Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe
Email: marhamahrusdy@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda