Polres Magelang bongkar prostitusi online.
LayarBerita, Magelang – Kepolisian Resort Magelang berhasil membongkar praktik prostitusi online di wilayah Kabupaten Magelang.  Polisi menangkap seorang mucikariserta mengamankan sejumlah barang bukti dan pelaku.  Sejauh ini polisi masih terus melakukanpenyelidikan terhadap kasus tersebut.
Kapolres Magelang, AKBP Yudianto Adhi Nugroho, mengatakan , adapun mucikari yang diamankan berinisial Ve (33) warga Magelang, dirinya berperan menyediakan perempuan yang dapat dipesan untuk diajak melakukan persetubuhan.
Awalnya, menurut Yudianto, Ve menghubungi Tika, (24), mengatakan bahwa seseorang akan memesan dirinya, atas nama Budi, dengan tarif Rp 1.500.000.  Setelah ada kata sepakat, si mucikari memberitahukan Tika untuk datang ke salah satu hotel di wilayah Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, dimana pemesan telah menunggunya.
“Ve ini menjadi mucikarinya, yang menghubungkan saksi korban, Tika dengan, Budi, pemesan jasa prositusi. Ia mendapatkan upah dari uang transaksi yang didapatkan oleh Tika ,” ujar Kapolres Magelang.
Usai melayani pemesan, Tika menemui Ve dan memberikan upah uang sejumlah Rp500 ribu. Saat itulah personel Polres Magelang langsung bergerak ke lokasi, dan mengamankan tersangka, berikut kedua pasangan yang telah melakukan perzinahan.
“Kita amankan tersangka dan pasangan tersebut di hotel, sesaat usai melakukan transaksi prostitusi tersebut, Jumat (25/1/2019) sekitar pukul 12.00 WIB,” ungkap Kapolres Magelang.
Bersama tersangka dan saksi korban, polisi mengamankan barang bukti berupa satu buah kondom habis pakai, satu carik kertas transfer ATM BRI dan telepon selular. Petugas juga menemukan uang sebesar Rp 1.500.000 dengan pecahan lembaran Rp 100 ribu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka Ve atau yang berperan sebagai muncikari ini melakukan transaksi prostitusi online ini secara tertutup dan orang-orang tertentu saja. Seluruh komunikasi antara tersangka dan saksi korban ini dilakukan secara online dengan menggunakan aplikasi perpesanan WhatsApp.
Dari pengakuan tersangka sendiri, transaksi ini baru dilakukan sekali. Namun polisi yang tengah mendalami kasus ini, melihat transaksi diduga dilakukan lebih dari sekali, termasuk saksi korban, atau perempuan penyedia jasa prostitusi yang bukan hanya seorang saja.
“Dari pengakuannya, hanya sekali ini saja, tapi kami menduga ada lebih dari sekali transaksi dan saksi korban lain yang belum kami ketahui. Tersangka saat diperiksa tertutup, dan setelah transaksi dilakukan seluruh riwayat chat dihapus dari ponsel tersangka. Kami masih melakukan proses penyidikan lebih lanjut,” ujar AKBP Yudianto Adhi Nugroho.
Tersangka, muncikari, Ve, mengaku hanya melakukan transaksi tersebut satu kali. Ia mengaku hanya membantu saksi korban mendapatkan pelanggan. Meski dirinya mengungkapkan penyesalan atas perbuatan yang dilakukannya.
“Saya menyesal, hanya sekali saya melakukan itu. Itupun saya hanya membantu dirinya saja (Tika, saksi korban),” kata Ve, tak berbicara banyak.
Tersangka sendiri dijerat dengan pasal 296 KUHP yang menyebutkan barang siapa yang mata pencahariannya atau kebiasaanya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.
“Tersangka, Ve ini kami jerat dengan pasal 296 KUHP atas perannya sebagai muncikari. Namun Tika, sementara masih kami tetapkan saksi korban, dan begitu juga Budi, pemesan jasa. Kami masih dalami kasus ini,” ujar AKBP Yudianto Adhi Nugroho. [tribrata]

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda