Kaca pintu DPRK Aceh Utara pecah akibat aksi saling dorong anatar mahasiswa dan aparat kepolisian yang mencoba masuk ke gedung wakil rakyat tersebut. (layarberita.com)

LayarBerita, Lhokseumawe  – Aksi bersama dengan hastag #Selamatkan Indonesia oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kohati Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara di gedung DPRK Aceh Utara, diwarnai aksi saling dorong antara peserta demo dengan aparat keamanan dari Polres Lhokseumawe dan anggota Satpol PP Kabupaten Aceh Utara, Rabu (26/9/2018).

Akibatnya, kaca pintu utama gedung DPRK Aceh Utara pecah, dan insiden itu menyebabkan seorang aparat keamanan dan peserta demo mengalami luka ringan terkena pecahan kaca pada bagian lengan.

Pantauan LayarBerita.com, peserta aksi yang berjumlah seratusan orang tersebut sebelumnya melakukan orasi di Tugu Rencong, Simpang Kutablang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, pada pukul 10.00 WIB, dan selanjutnya berlanjut ke gedung DPRK Aceh Utara.

Aksi demo Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menuntut agar ada perbaikan bagi perekonomian masyarakat. (layarberita.com)

Kedatangan mereka di lantai II gedung dewan itu diterima oleh pimpinan dewan Mulyadi CH dan dua orang anggota dewan, yakni Ismed Nur AJ Hasan dan Zubir HT. Namun peserta demo menolak, dan meminta bisa bertemu dengan seluruh anggota dewan di dalam ruang rapat dewan.

Permintaan mereka tidak diakomodir. Pihak dewan hanya mengizinkan 20 orang perwakilan saja untuk masuk dan beraudiensi.

Peserta aksi menolak dan berusaha untuk masuk dengan cara menerobos barikade yang dijaga oleh puluhan petugas keamanan, tetapi gagal.

Para pendemo yang dikomandoi oleh M. Atar, ketua umum HMI Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara, selanjutnya turun ke lantai I dan berusaha masuk ke dalam gedung, namun kembali terhalang oleh petugas keamanan yang telah bersiaga.

Mereka pun kembali berorasi terkait stabilitas ekonomi Indonesia dan transparansi kinerja MD3, serta meminta Kepala Kepolisian RI untuk mengevaluasi kinerja para Kapolda dan Kapolres di daerah terkait penanganan pengamanan aksi demo yang digelar oleh mahasiswa, agar peristiwa tindak kekerasan terhadap peserta demo tidak terulang kembali.

Dalam aksi ini mereka menuntut terjadinya defisit anggaran yang ada di Aceh Utara, meminta anggota Dewan Aceh Utara untuk berkantor di Lhoksukon, serta meminta menindak lanjuti tenaga honorer agar tahun depan bisa menjadi CPNS.

“Aceh Utara sangat membutuhkan tenaga kerja, karena kondisi daerah termiskin. Jadi, dengan dibukanya PNS mungkin sudah terserap pemuda untuk bisa bekerja”. Ujar Rajis Fadli selaku koordinasi lapangan saat wawancara

Mereka juga meminta pertanggung jawaban kerja Dewan, baik secara pengawasan maupun anggaran secara legislasi.

Usai berorasi, mereka kembali mencoba mendobrak barikade petugas keamanan untuk merangsek masuk. Terjadilah aksi saling dorong yang menyebabkan pecahnya kaca pintu utama gedung DPRK Aceh Utara.

Situasi cepat terkendali. Dua korban yang mengalami luka gores segera dilakukan tindakan medis.

Peserta aksi akhirnya membubarkan diri setelah beraudiensi dengan dengan pihak dewan di halaman gedung tersebut, sekira pukul 12.30 Wib. [mag2/BIM]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here