BAGIKAN
Nakhoda kapal STS 50, Matveev Alexandre didampingi juru bahasa Rusia saat mendengar vonis yang disampaikan oleh majelis hakim PN Sabang, Kamis (2/8/2018). (Ist)

LayarBerita, Sabang – Pengadilan Negeri (PN) Sabang, Provinsi Aceh, menjatuhkan vonis berupa denda sebesar Rp200 juta, subsidair 4 bulan kurungan, terhadap Matveev Alexandre, Nakhoda Kapal Laut STS 50, asal Rusia.

Putusan tersebut dibacakan dalam sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Zulfikar, SH, MH dengan hakim anggota Junita, SH dan Nurul Hikmah, SH, MH, di PN setempat, Kamis (2/8/2018).

Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan JPU Muhammad Rizza, SH pada sidang sebelumnya, yakni denda Rp300 juta, subsidair 6 bulan kurungan.

Terpidana diberikan waktu paling lama 7 hati setelah putusan untuk membayar denda.

Seluruh barang bukti berupa Kapal FV STS-50, Peralatan kapal FV STS-50 terdiri dari GPS, kemudi, alat komunikasi dan alat navigasi, 150 alat tangkap bubu, alat tangkap jaring Gill Net siap pakai 600 buah, alat tangkap jaring gill net yang belum dirangkai 118 dirampas untuk negara. Sedangkan Seamen Book dan Dokumen lainnya dikembalikan kepada terpidana.

Terhadap putusan Majelis Hakim, terpidana Matveev Alexandre menyatakan pikir-pikir.

Kepala Kejari Sabang, Suhendra, SH, melalui Kasi Pidum Muhammad Rizza, SH yang dihubungi LayarBerita.com, Kamis (2/8/2018) sore, membenarkannya. “Ya, nakhoda kapal STS 50, Matveev Alexandre, warga negara Rusia divonis oleh PN Sabang berupa bayar denda Rp200 juta dan subsidair 4 bulan kurungan,” sebutnya.

Pihaknya juga menyatakan pikir-pikir terhadap putusan tersebut, tambahnya.

Dijelaskan Muhammad Rizza, Kapal FV STS-50 berbendera Togo (Afrika) yang dinahkodai oleh terpidana Matveev Aleksandre ditangkap oleh TNI Angkatan Laut (KAL Simeulue) di perairan Sabang atau saat melintasi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia pada Jumat (6/4/2018) lalu.

Sebelum ditangkap, telah ada Purple Notice yang dikeluarkan oleh Interpol terkait dengan kegiatan illegal di laut Antartika yang dilakukan oleh kapal STS-50.

Selama persidangan, Matveev Alexsandre hanya didampingi seorang juru bahasa Rusia, tanpa didampingi penasehat hukum, pungkasnya. (BIM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here