BAGIKAN
Fauzi Abubakar

Apa yang bisa dilakukan masyarakat, mereka hanya bisa menyaksikan dan menonton saja.  Padahal mereka berharap dengan terpilihnya gubernur dan dapat bersinergi dengan DPRA dalam membangun Aceh, untuk kemajuan masyarakat Aceh.

Akibat “Suet Luweu” dari kedua belah pihak, masyarakat Aceh tidak memperoleh apa yang kemudian menjadi haknya sebagai rakyat (warga). Selama “Pake” terus dipelihara, selama itu pula rakyat tidak memperoleh apa-apa. Mereka memilih gubernur untuk membawa Aceh ke arah lebih baik, sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan.

Sebaliknya disisi yang lain, DPRA yang menjadi pembawa aspirasi rakyat Aceh, juga tidak membawa manfaat untuk masyarakat. Kondisi ini akan menjadi bumerang pada pemilu legislatif, hal ini disebabkan masyarakat melihat DPRA tidak berpihak kepada rakyat.

Seharusnya, menurut pendapat Saya :

  1. Kedua belah pihak harus memperbaiki komunikasi Politik, untuk meraih kepercayaan masyarakat kembali. Walaupun belum tentu menjamin sikap masyarakat menaruh kepercayaan kembali.
  2. Berkenaan dengan hal yang bersifat pribadi, biarlah menjadi urusan pribadi tidak perlu dibawa ke ranah Publik
  3. DPRA dan Gubernur harus ingat bahwa Rakyat menunggu janji yang pernah dilontarkan, mereka tinggal melihat ditepati atau tidak.
  4. Apakah “pake” ini akan terus dilanjutkan, apa keuntungan bagi Gubernur dan DPRA sementara Rakyat tidak butuh “Pake”

Selain itu, kinerja Sekretaris Dewan juga tidak berjalan sesuai fungsinya. Sekwan perpanjangan tangan eksekutif yang harus mampu menjembatani kepentingan kedua pihak.  Sehingga tidak terjadi perdebatan panjang yang jelas bukan demi kepentingan masyarakat luas.

Penulis : Dr. Fauzi. M. Kom. I

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here