Fauzi Abubakar

“Puasa adalah ladang tempat terciptanya niat yang teguh serta tempat dimana manusia dekat dengan Tuhannya melalui kepatuhan yang sempurna dan kepasrahan diri” (Sayyid Quthb)

Setiap individu memiliki perkembangan tumbuh kembangnya masing-masing, begitu juga remaja. Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada fase remaja, individu mengalami perkembangan secara pesat baik dari segi kematangan fisik, sosial dan emosi.

Pada fase ini juga jiwa remaja cenderung tidak stabil, karena pada fase inilah dimulainya pencarian jati diri, mencari jawaban atas pertanyaan “who am I. Dalam komunitasnya, remaja mempunyai loyalitas yang tinggi bahkan terkadang lebih mendahulukan kepentingan temannya daripada keluarga. Nasehat teman sebaya lebih didengar dari pada nasehat orang tua.

Semua ini dilakukan untuk mendapat pengakuan atas keberadaan (eksistensi) dirinya dalam komunitasnya. Hal ini akan menjadi masalah besar apabila remaja terjebak pada lingkungan yang “tidak sehat”. Pengaruh buruk dengan mudahnya akan merubah hidup mereka.

Remaja yang berada dalam masa transisi membuatnya dihadapkan pada berbagai kontradiksi. Perkembangan psikologis pada masa remaja sebaiknya perlu diberikan perhatian lebih. Karena pada fase ini remaja memiliki emosi lebih tinggi serta meledak-ledak. Luapan emosi atau perasaan ini harus tersalurkan agar tidak memberikan dampak negatif pada anak yang memasuki usia remaja.

Dalam Islam, masa remaja berarti mulainya masa akil baligh. Keadaan fisik, kognitif (pemikiran) dan psikososial (emosi dan kepribadian) remaja berbeda dengan keadaan pada tahap perkembangan lain. Karena sudah baligh, mereka menanggung kewajiban beribadah wajib. Kewajiban menunaikan ibadah wajib ini ditunjang oleh perubahan raga yang makin menguat dan membesar, sekresi hormon baru, dan perubahan taraf berfikir mereka. Namun kematangan organ internal tubuh mereka tidak serta merta membuat mereka lebih matang perasaan dan pemikirannya.

Secara fisik, remaja mampu melaksanakan puasa dan ibadah wajib lainnya. Secara kognitif, remaja mampu memaknai makna yang mendalam dari dua kalimat syahadat. Remaja makin mampu menangkap dan memahami konsep-konsep abstrak yang sebelumnya hanya mereka pahami sebagai pengetahuan satu arah. Mereka mampu memaknai ayat dan hadits-hadits yang mereka pelajari sewaktu kecil, dan mampu menangkap fenomena alam sebagai bukti dari keberadaan.

Proses ini bila tidak ditunjang dengan tuntunan dan bimbingan yang tepat, dapat membuat pencarian mereka atas nilai dan tujuan hidup mereka tidak terpenuhi, atau didapat dari sumber lain yang telah terkorosi oleh hawa nafsu manusia dan disesatkan oleh syaithan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here