BAGIKAN
Ilustrasi (net)

Ramadhan merupakan bulan yang sangat agung dan berlimpah keberkahan (syahrul adzim mubarak), sehingga bulan Ramadhan dikenal juga sebagai syahrul maghfirah (bulan ampunan). Di bulan Ramadhan inilah Allah Swt berkenan memberikan maghfirah-Nya dengan sangat murah kepada para hamba-Nya yang mau bertaubat.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,.(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (Q.S. Ali Imran: 133-136).

Dan bagi mereka yang sudah memperoleh maghfirah-Nya, tak ada balasan lain selain surga. Dalam penggalan sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dikatakan bahwa pada sepuluh malam pertama bulan Ramadhan tercurah rahmat kemudian pada sepuluh malam kedua berlimpah maghfirah (ampunan) serta pada sepuluh malam yang ketiga atau terakhir adalah itqun minannar (pembebasan dari api neraka).

Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Hal ini dimaksudkan Allah agar hati manusia selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat ‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan pribadi) dan kesombongan. Berlimpahnya maghfirah dari Allah,  karena memang Allah Swt memiliki sifat Al-Ghaffar (Maha pengampun).

Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah dengan pengampunan seluruh dosa yang ada pada manusia dengan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab. Allah Swt menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi, dan menggantikannya dengan ampunan.

Illah adalah sebab teragung dan siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan ampunan dan siapa yang memilikinya maka telah memiliki sebab ampunan yang paling agung. Rasulullah Saw dalam Hadits Qudsi menyatakan: Allah berfirman: “Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan. (H.R Muslim).

Karena itulah, orang mukmin berpacu meraih keampunan Allah Swt dan menempuh jalan ke surga dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Menurut Ibnu Abbas, maghfirah dan surga adalah Islam, karena aturannya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Sedangkan Ali bin Abi Thalib menyebutkan meraih maghfirah dengan memenuhi segala perintah syari’ah. Maka meraih keampunan dari segala dosa, dan surga sebagai pahala amal dunia merupakan kebahagiaan yang paripurna.

Ramadhan sebagai bulan keampunan, karena pada bulan ini banyak sekali sebab-sebab turunya keampunan Allah. Di dalamnya ada ibadah puasa sebagai perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta pelindung dari neraka. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengerjakan ibadah (qiyam) pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah semata, maka diampunilah dosanya yang telah lalu (H.R.Bukhari dan Muslim).

Meminta ampunan serta berdoa ketika dalam keadaan puasa, berbuka dan ketika makan sahur. Doa orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa ataupun ketika berbuka. Allah memerintahkan agar kita berdoa dan Dia menjamin mengabulkannya.

Begitu juga dengan melakukan shalat tarawih, melakukan shalat dan ibadah di malam Lailatul Qadar, yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’anul Karim. Dan pada malam itu pula dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa  melakukan shalat di malam Lailatul Qadar   karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq alaih). Bahkan memberi ifthar (makanan untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa menjadi sebab keampunan Allah.

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang di dalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi (sebab) ampunan dari dosa-dosanya, dan pembebasan dirinya dari api neraka.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi dan lainnya).

Begitu banyaknya sebab-sebab keampunan Allah di bulan Ramadhan, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang memiliki seburuk-buruk nasib. Kapan lagi ia mendapatkan ampunan jika ia tidak diampuni pada bulan ini? Kapan dikabulkannya permohonan orang yang ditolak pada saat Lailatul Qadar? Kapan akan baik orang yang tidak menjadi baik pada bulan Ramadhan?. Untuk itu hendaknya setiap muslim memperbanyak dzikir, do’a dan istighfar di setiap waktu.

Doa adalah ibadah dan akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan syarat dan bersih dari penghalang-penghalang.  Di antara syarat dan adab terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati, mengharapkan ijâbah dari Allah, sungguh-sungguh dalam meminta dan tidak tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan yang mulia, memulainya dengan pujian kepada Allah dan shalawat, berusaha memilih makanan dan minuman yang halal. Kadangkala, pengabulan doa itu tertunda, karena sebagian syarat tidak terpenuhi atau adanya sebagian penghalangnya. Semoga kita mendapatkan maghfirah Allah di bulan Ramadhan ini. Amin. (***)

Oleh: Dr. Fauzi, M. Kom. I

Dosen STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe

[email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here