Fauzi Abubakar

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S. Al-Hujurat: 10).

Pada setiap ibadah yang diperintahkan dalam ajaran Islam, senantiasa memiliki makna pada dimensi sosial-kemanusian. Dengan kata lain, ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt merupakan sarana training bagi manusia untuk menjadi yang terbaik, memberi manfaat untuk orang banyak, dan mencintai kemanusiaan. Begitu pula pada perintah puasa di bulan Ramadhan, sehingga Ramadhan merupakan bulan multibarakah yang didalamnya terkandung banyak keistimewaan dan banyak julukan.

Ramadhan juga dijuluki sebagai syahrul ukhuwah (bulan persaudaraan), sehingga bulan Ramadhan dijadikan sebagai momentum menguatkan ukhuwah Islamiyah. Namun sayangnya, seringkali ibadah puasa hanya dipahami secara formalistik-ritualistik dan lirealisme kosong, yang akhirnya menjadi ritualisme yang kehilangan relevansinya dengan kehidupan.

Puasa Ramadhan pada hakikatnya sebagai sarana ingat kepada Allah Swt dan sekaligus orang kelaparan. Hikmahnya disini adalah terjadi persaudaraan antara orang kaya dan miskin. Dengan berpuasa, orang kaya bisa merasakan kepedihan lapar dan akan mengasihi orang miskin. Dalam konteks lebih luas, sebenarnya dampak puasa akan dirasakan manakala terjalin ikatan persaudaraan (ukhuwah) dengan sesama mukmin bagai tubuh yang satu (kal jasadil wahid), yang melahirkan rasa kasih sayang diantara sesama.

Disinilah puasa berfungsi sebagai madrasah ijtima’iyah (pembinaan sosial), sehingga dari sinilah diharapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:” Perumpamaan orang-orang beriman di dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti tubuh. Jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka anggota tubuh lainnya akan memberikan kesetiaan kepadanya dengan susah tidur dan deman”. (H.R. Bukari).

Ukhuwah Islamiyah merupakan ruh dari iman yang kuat, sehingga di dalam masyarakat Islam yang berlandaskan akidah, persaudaraan akidah menggantikan persaudaraan nasab. Begitu juga ikatan iman menggantikan ikatan-ikatan materi, kepentingan individu, dan ambisi pribadi, sehingga yang ada seorang muslim mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

Karena itu Islam memberantas gejala-gejala egoisme dan mental mementingkan diri sendiri. Pada dasarnya setiap manusia dalam kehidupan bermasyarakat berkeinginan untuk hidup dengan damai, aman, penuh kebahagiaan, dan sejahtera. Kondisi seperti ini yang dicita-citakan Islam sebagaimana dijelaskan dalam AlQuran, Islam menghendaki agar manusia bersatu dalam kebersamaan, dan saling menolong.

Namun tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam sepanjang sejarah adalah sulitnya membangun ukhuwah Islamiyah. Kesulitan ini terletak pada fakta sering kandasnya ajaran Islam yang berhadapan dengan kepentingan dan egoisme.

Di tengah semaraknya ibadah puasa Ramadhan, ritual ini ikut pula dimeriahkan oleh perilaku yang sebenarnya merupakan antithesis dari makna dan hikmah puasa. Realitas menunjukkan semaraknya provokasi yang tak mendasar, ujaran kebencian (hate speech) apakah itu penghinaan, pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, hingga isu berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA yang merambah hampir di setiap dinding medsos. Bahkan, perilaku kekerasan di berbagai sudut kehidupan sosial yang mengindikasikan seolah hilangnya  relevansi antara ritual ibadah puasa yang sidang dijalani dengan laku hidup yang kian bergeser jauh dari nilai-nilai  adab dan nilai-nilai Ilahi.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here