BAGIKAN
Shadia Marhaban. (Foto: UNDP.org/Iqbro)

LayarBerita.comPeran Perempuan Aceh dibandingkan masa lalu kurang menonjol, terutama jika dibandingkan masa konflik.

“Karena perempuan juga harus bertanggung jawab secara penuh untuk urusan domestik dan pemahaman agama yang di dukung oleh pendapat ulama yang mayoritas terlihat tidak mendorong peran perempuan” jelas Tokoh Perempuan Pembangun Perdamaian Shadia Marhaban, Kamis (8/3/2018).

Menurut perempuan yang pernah menjadi perwakilan Indonesia yang berpidato pada pertemuan Dewan Keamanan PBB di hari Perempuan Internasional, secara lokal di Aceh, pemerintah daerah belum secara nyata mendorong kapasitas perempuan, sedangkan pemerintah pusat sejak terakhir memberlakukan quota caleg perempuan 30 persen namun masih kurang mendorong peningkatan kapasitas perempuan

“Tanpa peningkatan kapasitas perempuan tidak akan maju,” lanjutnya.

 Di bidang politik peran perempuan dan kepercayaan perempuan terhadap kaumnya jg masih lemah.

“Karena terkadang hanya jenis kelamin perempuan saja namun secara pandangan belum mencerminkan keberpihakan terhadap perempuan,” terangnya.

 Sisi positif saat ini  kesempatan perempuan dalam pendidikan, mendapatkan hak kesehatan dan lain-lain semakin membaik. Kaitannya dengan Hari Perempuan Internasional Semangat perempuan harus terus didorong sehingga semangat dan saling membimbing lahir karena penting untuk masa depan perempuan aceh. (Iqbro)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here