BAGIKAN
Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib memaparkan potensi daerah kepada perwakilan Asean Development Bank terkait usulan program Unimal akan dijadikan sebagai pusat inovasi teknologi pertanian di Aceh, Rabu (11/1/01/2017). (foto: LayarBerita.com)

LayarBerita, Aceh Utara – Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib menghadiri pertemuan antara pihak Universitas Malikussaleh (Unimal) dengan perwakilan Asean Development Bank (ADB) Indonesia, di Kampus Bukit Indah, Rabu (11/10/2017) siang.

Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Aceh Utara tersebut dalam rangka meyakinkan pihak ADB selaku donator terkait usulan program Unimal yang akan dijadikan sebagai pusat inovasi teknologi pertanian di Aceh.

Dalam paparannya, bupati menyampaikan, Aceh Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh yang memiliki luas wilayah sangat besar dibanding kabupaten/kota lainnya, memiliki potensi yang besar, khususnya sektor pertanian.

Dari potensi itu, ada beberapa komoditi yang menjadi andalan di Kabupaten Aceh Utara, diantaranya kakao dengan luas lahan mencapai 10.000 hektar, kelapa 15.000 hektar dan pinang 12.000 hektar. Meskipun demikian, kesejahteraan petani masih jauh sebagaimana diharapkan, sebut Cek Mad sapaan akrab bupati.

Keterbatasan ketersediaannya anggaran, rendahnya SDM petani, minimnya fasilitas dan peralatan teknologi pertanian yang dimiliki, menjadi salah satu faktor tidak maksimalnya upaya tersebut. Namun demikian, Pemerintah Aceh Utara bersama dinas terkait dan Unimal berkomitmen dan bersinergi dalam upaya percepatan proses kesejahteraan masyarakat dan peningkatan ekonomi daerah, ujarnya.

“Semoga setelah visitasi ini, usulan program yang diajukan Unimal akan dijadikan sebagai pusat inovasi teknologi pertanian di Aceh dapat segera terwujud,” harap Bupati Cek Mad.

Sementara itu Rektor Unimal Prof Apridar mengatakan, Unimal sebagai salah satu pendidikan tinggi di Aceh Utara, melalui disiplin ilmu yang dimiliki, senantiasa terus berupaya membantu pemerintah daerah untuk mensejahterakan petani dengan melakukan terobosan-terobosan baru. Salah satu terobosan itu adalah upaya untuk menjadikan Unimal sebagai pusat inovasi teknologi pertania di Aceh.

Untuk bisa melaksanakan program tersebut, tentunya harus didukung oleh tersedianya tenaga ahli yang mumpuni, fasiltas gedung yang lengkap, terutama laboratorium termasuk peralatannya, dengan besara biaya mencapai US$59 juta atau setara Rp700 miliar.

Jika hanya mengandalkan bantuan dari APBD dan APBA, kemungkinan besar harapan itu tidak terwujud. Atas dasar itu, pihaknya menawarkan program tersebut ke Asean Development Bank.

“Alhamdulillah, pihak ADB menilai usulan yang diajukan rasional, dan pada hari ini mereka melakukan visitasi untuk melengkapi usulan program yang diajukan tersebut,” sebut Prof Afridar.

Pertemuan itu turut dihadiri perwakilan ADB Indnesia, Rudy Vandael, perwakilan Pendidikan TInggi (Dikti), perwakilan Pertamina Hulu dan Energi, Pembatu Rektor Unimal dan kepala SKPD terkait. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here