Fauzi Abubakar

LayarBerita.com –  Bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan karena Allah Swt memuliakan dengan berbagai amalan yang pahalanya dilipatgandakan. Bulan Ramadhan menjadi anugerah yang sangat besar untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki tingkat keimanan dan memohon ampunan.

Karena itu ibadah puasa Ramadhan dapat membentuk kepribadian dan puncak pembentukan kepribadian adalah manusia bertaqwa. Inti taqwa adalah menjaga diri agar tetap berada pada rambu-rambu ajaran Allah dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Sesungguhnya aku telah bernazar akan berpuasa (menahan diri) karena Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S. Maryam: 26).

Puasa bermakna menahan diri dalam hal tertentu dari orang tertentu dan di dalam waktu tertentu pula dengan beberapa syarat. Artinya dengan berpuasa seseorang menahan diri dari belenggu ego duniawi yang tidak terkendali, mengendalikan diri agar tidak keluar dari garis orbit dan mengendalikan nafsu batiniah dan lahiriah.

Karena fitrah yang tertutup oleh nafsu akan mengakibatkan seseorang menjadi buta hati, sehingga tidak mampu membaca kondisi batiniah dirinya dan lingkungannya. Tidak lagi mengetahui mana yang benar dan yang salah, karena baginya kebenaran adalah apabila ia mengikuti egonya.  Memahami makna menahan diri dalam puasa Ramadhan, menjadikan seorang muslim yang berpuasa terinspirasi menjadi pribadi taqwa yang berguna untuk kehidupan individual dan sosial.

Eksistensi puasa adalah untuk menahan diri mulai dari menahan lapar dan haus, menahan amarah, menahan diri untuk ghibah, berkata dusta yang semuanya berujung pada peningkatan ketaqwaan.

Sebagaimana firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Q.S. al-Baqarah: 183). Untuk meraih derajat taqwa, puasa merupakan salah satu sarana yang paling efektif.

Puasa adalah perisai yang sangat ampuh dalam melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak mulia serta melatih diri menjadi sosok yang terbiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.

Rasulullah saw bersabda: “Puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah, “saya sedang berpuasa”. (H.R. Muslim). Maka tunduk dan patuh pada perintah dan larangan Allah Swt, itulah taqwa yang menjadi target yang harus diraih dari puasa Ramadhan.

Puasa Bentuk Pengendalian Diri                          

Essensi menahan diri dalam puasa Ramadhan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga sebagaimana puasa kebanyakan orang. Akan tetapi menahan seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang membatalkan puasa dan pahala puasa. Jika seseorang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga tanpa menahan anggota tubuh sehingga sikap dan akhlaknya jauh dari tuntunan agama, maka tidak ada arti puasa yang dijalankannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah Swt tidak memerlukan (puasanya) meskipun dia tidak makan dan minul”. (H.R. Bukhari). Ekspresi yang diungkapkan melalui puasa mewakili bentuk pengendalian diri dan uasaha dalam mengatasi kesenangan-kesenangan jasadi demi kecintaan Allah Swt dan gairah untuk memperoleh keridhaan-Nya.

Seseorang yang berpuasa akan bersungguh-sungguh melakukan hal-hal yang terbaik dalam hidupnya dan menghindari hal-hal yang kurang bermanfaat atau melalaikan. Sabda Nabi Saw: “Diantara tanda-tanda baiknya keIslaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”. (H.R. Tirmidzi).

Maka hakekat puasa adalah pengendalian diri secara total dengan kendali iman, dan puasa seperti inilah yang disebut dengan shaum khusus al-khusus, yaitu menahan diri dari nafsu, amarah, menahan diri dari ucapan yang tidak berguna,  menahan diri dari pandangan mata terhadap suasana maksiat, menahan diri dari mendengarkan yang sifatnya provokatif, pegunjingan dan gosip, juga menahan diri dari kecenderungan hati yang penuh curiga (syu’udzdzan) tidak pernah berbaik sangka (khusnudzdzan) atau berpikir positif.

Pribadi yang dapat menahan diri itulah yang mencerminkan karakter manusia taqwa, yang menempatkan posisinya sebagai individu yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pribadi yang berkarakter seperti inilah yang pada gilirannya akan teruji untuk mengemban amanah yang tampil untuk berbuat kebaikan baik dalam hubungannya dengan Khaliq maupun dengan sesama makhluk.

Kesempurnaan seseorang ketika ia mampu secara cerdas menahan diri dari semua prilaku tersebut, selalu memperbanyak zikrullah dan merenungi dimensi spiritual kebaikan, sehingga dapat tampil menjadi sosok yang peduli lingkungan. Manusia yang mencapai tahap ini telah mendapatkan anugerah hikmah yang substansial dari prilaku penunaian ibadah puasa Ramadhan.

Dengan puasa Ramadhan melalui konsep manahan diri, mengajarkan bahwa hidup di dunia ini perlu upaya-upaya pengendalian diri. Karena tanpa pengendalian diri, maka hidup akan lepas kontrol dan berantakan. Berapa banyak manusia yang sengsara hidupnya, karena tidak mampu menahan diri.

Kalau berpangkat dan berkedudukan, ia tidak mampu menahan diri dari penggunaan pangkat dan jabatannya sehingga melakukan rekayasa kekuasaan demi kepentingan pribadi atau golongan. Ketika ia menjadi penguasa tidak menyebabkan ia menzalimi orang lain.

Demikian juga ketika seseorang itu pandai, tidak menyebabkan kepandaiannya itu menjadi sosok yang super dan membanggakan diri.  Dengan adanya pengendalian diri dimaksudkan agar manusia dapat mencapai deajat taqwa yang merupakan tujuan utama dari puasa. Karena konsekuensi logis dari menahan diri dalam implementasinya akan melahirkan pribadi muslim yang taqwa.

Konsekuensi logis dari menahan diri itu dalam implementasinya akan melahirkan pribadi muslim yang takwa. Inilah bagian integral dari filosofi menahan diri dalam puasa Ramadhan, tidak hanya melahirkan pribadi yang shalih secara individual tetapi juga shalih secara sosial.

Alangkah meruginya jika seseorang yang berpuasa terjebak dalam pola menahan diri yang semu. Karena semestinya ada follow up dari upaya menahan diri, yaitu tercermin dalam prilaku sehari-hari. Seseorang yang terjebak dalam pola menahan diri yang semu, tidak keciprat hikmah puasa seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah saw: “berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak ada yang diperolehnya dari puasanya itu kecuali lapar dan haus saja”. (H.R. Bukhari).

Dengan demikian essensi puasa merupakan pendisiplinan diri secara total baik jasmaniah maupun rohaniah. Disiplin jasmaniah (physical dicipline) dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum. Dalam soal makan dan minum, Islam telah menggariskan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik (halalan thayyibah).

Makan dan minum yang halal dan baik ini juga tidak terlepas dari unsur keseimbangan gizi. Hal ini sangat menuntut kemampuan pengendalian diri, karena pada saat berbuka puasa pada umumnya seseorang cenderung makan dan minum secara berlebihan. Dengan demikian menahan diri dari makan dan minum adalah melakukan pengendalian diri terhadap makan dan minum agar tidak berlebihan terutama pada saat berbuka puasa dan sahur.

Puasa juga merupakan pengendalian diri dari ucapan/lisan, karena salah satu kelebihan manusia adalah kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan melalui ucapan. Namun terkadang antara ucapan dengan apa yang dikatakan hati terdapat ketidaksesuaian bahkan mungkin bertolak belakang. Begitu juga jika dikaitkan dengan tindakan, mungkin jauh sekali.

Jika mulut digunakan untuk hal yang bermanfaat, maka hidup akan selamat. Tetapi jika mulut digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan merugikan orang lain, maka akan membawa kecelakaan. Berapa banyak terjadi perpecahan dan permusuhan disebabkan oleh mulut yang tidak terkendali.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan. “Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang lapar”. (H.R. Bukhari). Maka alangkah meruginya jika puasa Ramadhan yang sedang dilaksanakan ternodai nilainya karena kurangnya pengendalian diri dari ucapan yang tidak bermanfaat.

Puasa Ramadhan merupakan pengendalian rohaniah (spiritual dicipline) yang dilakukan dengan meninggalkan pemikiran yang negatif destruktif menjadi pemikiran yang positif konstruktif. Menggantikan kesenangan duniawi yang melalaikan menjadi semangat pengabdian kepada Allah swt.

Dengan puasa dilatih untuk mengendalikan tuntutan jasmaniah dengan memenangkan tuntutan rohaniah. Dengan disiplin rohaniah yang tinggi, setiap muslim akan dapat mengejar cita-cita rohaniah untuk mencapai keridhaan Allah swt. Begitu juga dengan disiplin moral  yang dilakukan melalui puasa Ramadhan adalah melatih untuk memelihara diri dari akhlak yang buruk. Disiplin moral ini dilakukan dengan menjauhi kehendak pemikiran dan perbuatan yang tercela, sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki akhlak yang mulai (akhlaqul karimah) dan akhlak terpuji (akhlaqul mahmudah).

Maka puasa Ramadhan mendidik setiap muslim untuk memiliki watak dan sikap jujur sebagai manifestasi dari keluhuran moral. Bukan hanya kejujuran terhadap Allah swt dan manusia lain, tetapi juga kejujuran kepada diri sendiri. Artinya menahan diri dari makan dan minum, dari nafsu dan prilaku yang tidak diridhai Allah dilakukan dengan kesadaran sendiri, dengan kejujuran yang optimal tanpa paksaan orang lain.

Kejujruan yang tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat akan menghilangkan penyakit moral dan krisis akhlak. Berbagai peraturan dan sanksi hukum tidak akan banyak manfaatnya, selama kejujuran belum tertanam kuat dalam masyarakat. Fenomena tumbuh suburnya berbagai penyakit masyarakat seperti penyalahgunaan wewenang, kriminalitas dan dehumanisasi brutalitas, semuanya dikarenakan menipisnya kejujuran. (***)

Oleh: Drs. Fauzi, M. Kom. I

Dosen STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe/ Mahasiswa Program Doktor Komunikasi Islam UIN Sumatera Utara

.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar Anda !
Masukkan Nama Anda