Praktik pekerja anak, khususnya di kalangan pengungsi Suriah, marak di Turki. Mereka mendapatkan upah yang rendah untuk menyambung hidup. (Reuters/Umit Bektas)

LayarBerita, Turki – Muna Awwal, gadis Suriah berumur sembilan tahun, mengaku ia sebenarnya ingin bersekolah, namun terpaksa harus bekerja. Demi menyambung hidup di Turki, dia harus membantu usaha keluarganya dengan menjahit pakaian dengan upah minim.

Keluarga Awwal merupakan salah satu dari ribuan keluarga Suriah yang mengungsi ke Turki sejak 2013. Sudah beberapa pekan belakangan ini dia membantu ayah dan kakak laki-lakinya, Muhamed, 13, menjahit topi, baju dan kaos berharga murah di ruang bawah tanah yang mereka sewa. Pakaian yang mereka buat kemudian dijual ke pemasok tekstil dan dijual ke Eropa.

Keluarganya berasal dari Aleppo, kota yang terjebak perang antara militan, kelompok pemberontak dan tentara pemerintah sejak 2013. Ayah Muna, Mahmud, menyatakan kini hidupnya bergantung dari hasil kerja keras dirinya dan tiga dari lima orang anaknya.

“Saya tahu seharusnya saya tidak membuat anak saya bekerja, untuk saya atau orang lain. Saya tahu itu tidak baik, tapi kami tak punya pilihan lain. Ini sangat umum terjadi di sini, di Turki,” ujar Mahmud Awwal kepada Reuters pada akhir Juni lalu.

Keluarga Awwal tinggal dan bekerja di Zeytinburnu, sebuah distrik industri di Istanbul yang dipenuhi oleh pemasok tekstil. Di ruang bawah tanah yang disewa Awwal, Muna bertugas membantu mengangkut kain yang akan dijahit, sementara menjahit merupakan tanggung jawab kakaknya, Muhamed, yang bekerja selama 11 jam per hari. Sang ayah mengaku tak mampu membayar mereka.

Pada April hingga Mei lalu, Reuters bertemu dengan 13 anak Suriah di tiga kota di Turki yang bekerja membuat pakaian atau sepatu. Peraturan pemerintah Turki sendiri tidak membolehkan anak yang berusia di bawah 15 tahun untuk bekerja.

Empat anak lainnya yang ditemui Reuters berusia di atas 15 tahun dan mengaku mereka bekerja hingga 15 jam per hari, enam hari sepekan. Hal ini melanggar undang-undang tenaga kerja Turki yang menyebutkan para pekerja di atas 17 tahun hanya boleh bekerja selama 40 jam per pekan.

Muna dan Muhamed Awwal merupakan salah satu potret praktik pekerja anak yang marak, khususnya di kalangan pengungsi Suriah di Turki. Praktik yang selalu dibantah oleh pemerintah Turki ini semakin memicu pertanyaan publik dunia, soal apakah Turki memang negara yang aman untuk pengungsi Suriah, seperti yang selama ini selalu dilontarkan Uni Eropa.

Maret lalu, Uni Eropa dan Turki mencapai kesepakatan soal imigran, yang memperbolehkan Eropa mengirim kembali imigran yang memasuki Benua Biru itu melalui Turki. Agar Turki mampu menampung para imigran, Uni Eropa berjanji memberikan bantuan keuangan mencapai 6 miliar euro.

Praktik pekerja anak bukan hal baru di Turki. Pada 2012, Ankara menyatakan hampir satu juta anak di Turki, berusia 6 hingga 17 tahun, bekerja di berbagai industri tekstil, pakaian jadi atau sepatu. (Reuters/Murad Sezer)
Praktik pekerja anak bukan hal baru di Turki. Pada 2012, Ankara menyatakan hampir satu juta anak di Turki, berusia 6 hingga 17 tahun, bekerja di berbagai industri tekstil, pakaian jadi atau sepatu. (Reuters/Murad Sezer)

Kesepakatan itu menyebutkan bahwa imigran yang dikirim kembali ke Turki “akan dilindungi sesuai dengan standar internasional.” Untuk mendukung kesepakatan ini, Presiden Uni Eropa bahkan menyatakan Turki “negara terbaik di dunia dalam menangani pengungsi.”

Namun kesepakatan ini memicu kritik dari PBB dan berbagai kelompok pemerhati HAM. Amnesty International menilai kesepakatan ini merupakan “pukulan kematian bagi hak asasi pencari suaka.” Organisasi kemanusiaan Dokter Lintas Batas, atau MSF, menilai bahwa kesepakatan itu tidak manusiawi.

Turki saat ini merupakan negara yang menampung paling banyak pengungsi Suriah di dunia, mencapai 2,73 juta orang. Lebih dari setengah di antaranya berusia di bawah 18 tahun.

Ankara sendiri mengaku telah menghabiskan US$10 miliar dalam membantu pengungsi. Di atas kertas, bantuan itu berupa pemberian perlindungan, pendidikan dan layanan kesehatan dasar bagi pengungsi yang terdaftar.

Namun Turki semakin kesulitan dalam menampung pengungsi. Hingga Mei lalu, hanya 10 persen dari total pengungsi yang sudah ditampung di kamp pengungsian. Kementerian Pendidikan Turki melaporkan bahwa 665 ribu anak Suriah yang tinggal di negara itu putus sekolah.

Namun pemerintah Turki menampik berbagai rumor soal pengungsi Suriah, seperti mengembalikan mereka ke daerah konflik atau menembak warga Suriah yang berupaya memasuki perbatasan. Presiden Recep Tayyip Erdogan sebaliknya menyatakan warga Suriah bisa mendapatkan kewarganegaraan Turki.

Praktik pekerja anak bukan hal baru di Turki. Pada 2012, Ankara menyatakan hampir satu juta anak di Turki, berusia 6 hingga 17 tahun, bekerja di berbagai industri tekstil, pakaian jadi atau sepatu. Industri ini menyumbang sekitar US$40 miliar per tahun untuk perekonomian Turki.

Nilai ekspor industri pakaian dan sepatu Turki mencapai US$17 miliar per tahun, dan sebagian besar dikirim ke Eropa, khususnya Jerman, negara Eropa yang paling banyak menampung pengungsi.

Hingga tahun ini, pengungsi Suriah tidak diizinkan bekerja di Turki secara legal, sehingga mereka terpaksa bekerja tanpa surat izin. Bekerja di Turki, para pengungsi Suriah mengaku mendapatkan upah hanya setengah atau sepertiga dari pekerja Turki. Pekerja anak, mendapatkan upah yang jauh lebih sedikit.

Survei yang dilakukan awal tahun ini oleh lembaga swadaya masyarakat Business and Human Rights Centre menemukan bahwa sejumlah pemasok untuk merek internasional terkenal, seperti Esprit, Next dan H&M, diketahui mempekerjakan pengungsi anak Suriah. [cnnindonesia.com]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here